Syekh Yasin Al-Fadani, ulama asal Minangkabau yang memiliki kiprah dan jejak harum dalam penyebaran Islam di Indonesia dan Makkah. Foto: Ist
SUMATERA BARAT, (ERAKINI) - Tanah Minangkabau Sumatera Barat telah lama dikenal sebagai wilayah yang banyak melahirkan ulama masyhur. Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi hanya satu di antara ulama besar itu.
Selain Al-Minangkabawi, satu nama ulama lain asal Minangkabau yang memiliki kiprah dan jejak harum dalam penyebaran Islam di Indonesia dan Makkah adalah . Ulama ahli sanad hadis, ilmu falak, bahasa arab, dan Direktur Madrasah Darul Ulum ad-Diniyah, .
Terlahir dengan nama Abu Al-Faydh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani, Syekh Yasin Al Fadani adalah seorang ulama keturunan Minangkabau yang lahir di Makkah pada 17 Juni 1915 (1335 H). Sumber lain menyebut Al Fadani lahir pada tahun 1337 Hijriyah dan wafat pada 20 Juli 19901. Ayahnya, Syekh Muhammad Isa Al-Fadani, juga seorang ulama terkenal.
Nama Syekh Yasin Al-Fadani masyhur sebagai ahli hadis, pendidik, ahli falak, dan ahli sanad (Musnid Ad-Dunya). Syekh Yasin al-Fadani mengenyam pendidikan dasarnya dengan belajar kepada ayahnya, Syekh Muhammad Isa Al-Fadani, dan pamannya, Syekh Mahmud Al-Fadani. Ibunya juga berperan penting dalam pendidikannya, berkatnya beliau mampu menghafal Al-Qur'an pada usia 8 tahun.
Saat belajar ia banyak melahab buku-buku di berbagai bidang ilmu agama seperti fiqh, tauhid, faraidh, dan mustalah hadits.Pada tahun 1928, ia melanjutkan pendidikan ke Madrasah Ash-Shaulatiyah Al-Hindiyah selama 7 tahun. Di sana, ia berguru kepada sejumlah ulama terkenal seperti Syaikh Mukhtar Usman Makhdum, Sayyid Hasan Al-Masysyath, dan Sayyid Muhsin bin Ali Al-Musawa.
Selain itu, ia juga belajar di Madrasah Dar Al-‘Ulum kepada Sayyid Muhsin Al-Musawwa, Syaikh Ibrahim Dawud Al-Fathani, dan banyak ulama lainnya. Secara keseluruhan, Syekh Yasin Al-Fadani memiliki lebih dari 700 guru.
Setelah lulus dari Madrasah Dar Al-Ulum, Syekh Yasin diminta untuk mengajar di sana. Selain mengajar di madrasah, Syekh Yasin Al Fadani juga aktif mengajar di Masjidil Haram. Majelis taklimnya sangat diminati oleh penduduk Makkah, sehingga dirinya membuka pelajaran tambahan di rumahnya.
Berdomisili di Makkah memudahkan Syekh Yasin Al-Fadani bertemu dengan banyak ulama, baik yang berasal dari Makkah sendiri maupun dari berbagai penjuru dunia. Dari ulama-ulama tersebutlah Syekh Al Fadani menggali ilmu dan mengumpulkan sanad periwayatan hadis. Karena banyaknya jumlah sanad yang dimiliki serta keahliannya dalam periwayatan hadis, Syekh Yasin Al-Fadani dijuluki Musnid ad-Dunya atau pakar sanad sedunia.
Gelar ini hanya diberikan kepada pembesar-pembesar ulama dalam bidang ilmu sanad yang memiliki keluasan periwayatan, berguru pada banyak syekh, dan menyampaikan hadis kepada banyak orang.
Syekh Yasin juga mendapatkan banyak pujian dari para ulama atas kedalaman ilmunya. Seorang ahli hadis bernama Sayyid Abdul Aziz Al-Qumari pernah memuji dan menjuluki beliau sebagai kebanggan Ulama Haramain.
Al-Habib Assayyid Segaf bin Muhammad, salah satu pendidik Syekh Yasin bahkan menjulukinya sebagai “Sayuthiyyu Zamaanihi” atau Imam Sayuti di zamannya. Banyak ulama juga memujinya melaui syair-syair arab, tanda takzim dan kekaguman mereka terhadap Syekh Al Fadani.
Pada tahun 1943, ia mendirikan Madrasah Ibtidaiyah lil Banat, lembaga pendidikan khusus perempuan pertama di Arab Saudi. Setiap bulan Ramadan, Syekh Al Fadani juga secara rutin mengkhatamkan Kutub al-Sittah selama 15 tahun.
Syekh Yasin Al-Fadani dikenal sebagai seorang yang berpegang teguh pada ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Dia sangat mencintai tanah leluhurnya, Indonesia, dan pernah menghadiri Muktamar Nahdlatul Ulama pada tahun 1979 serta mengunjungi berbagai pesantren di Jawa.
Kecintaannya pada Indonesia juga terlihat dari upayanya memperkenalkan ulama Nusantara ke dunia. Melalui pengaruhnya, tokoh-tokoh Arab mulai mengenal istilah "Kyai" serta nama-nama ulama Nusantara seperti Syekh Nawawi al-Bantani dan KH Hasyim Asy'ari.
Sebagai seorang ahli sanad hadis, Syekh Yasin al-Fadani menekankan pentingnya sanad dalam periwayatan hadis. Ia dikenal sering meminta ijazah dari ulama-ulama terkemuka, sehingga memiliki sanad yang sangat banyak.
Metode dakwahnya tidak hanya terbatas pada penyampaian ilmu, tetapi juga pada pengamalan dan penyebaran tradisi keilmuan. Syekh Al Fadani mengajar, menulis kitab, dan membuka majelis taklim untuk berbagai kalangan.
Syekh Yasin Al-Fadani sangat produktif dalam menulis kitab. Menurut berbagai sumber, ia telah mengarang lebih dari 102 kitab meliputi berbagai bidang ilmu. Sembilan kitab di antaranya tentang ilmu hadis, 25 kitab tentang ilmu dan ushul fikih, 36 buku tentang ilmu falak, dan sisanya tentang ilmu-ilmu lainnya.
Kitab-kitabnya banyak dijadikan rujukan oleh lembaga pendidikan Islam di Makkah dan Asia Tenggara. Salah satu karyanya yang terkenal, Al-Fawaid Al-Janiyyah, menjadi materi silabus dalam mata kuliah Ushul Fiqih di Fakultas Syariah Al-Azhar Kairo. Karya-karya beliau di bidang Ilmu Al-Hadis antara lain Ad-Dur Al-Mandhud Fi Syarh Sunan Abi Dawud, Al-‘Iqd Al-Farid min Jawahir Al-Asanid, Fathu Al-‘Alam Syarah Buluugh Al-Maram, dan lain-lain3.
Kisah Spiritual Unik dan Langka
Salah satu kisah unik dari Syekh Yasin al-Fadani adalah banyaknya jumlah guru yang ia miliki, yakni mencapai lebih dari 700 ulama. Hal ini menunjukkan semangatnya dalam mencari ilmu dan menghormati para ulama. Selain itu, Syekh Al Al Fadani juga dikenal sebagai ulama pertama yang memperhatikan sanad ulama Nusantara.
Ada salah satu kisah spiritual unik dan langka yang dialami Syekh Yasin Al-Fadani dalam kiprahnya sebagai ulama ahli sanad sedunia. Salah satu cerita itu yakni karomahnya untuk berada di dua tempat sekaligus.
Dalam sebuah sumber disebutkan, kisah aneh tapi nyata ini terjadi pada suatu hari Jumat ketika seorang bernama Zakariyya Thalib dari Suriah mengunjungi rumah Syekh Yasin. Saat azan Jumat berkumandang, Zakariyya melihat Syekh Yasin masih di rumah dan merasa bahwa beliau tidak pergi ke masjid untuk shalat Jumat.
Setelah shalat, Zakariyya bertemu dengan temannya yang menginformasikan bahwa Syekh Yasin juga hadir di Masjid Nuzhah, yang terletak jauh dari rumahnya. Hal ini mengejutkan Zakariyya, karena ia sebelumnya mengira Syekh Yasin tidak shalat Jumat.
Kisah ini menunjukkan karomah Syekh Yasin yang dianggap mampu berada di dua tempat dalam waktu bersamaan, memperkuat reputasinya sebagai seorang ulama yang memiliki keistimewaan spiritual yang luar biasa.
Kisah lain yang menambah keunikan spiritual Syekh Al Fadani yakni saat seorang muridnya, H M Abrar Dahlan, menyaksikan Syekh Yasin memintanya untuk membuat teh di rumah. Setelah itu, ketika H M Abrar kembali, ia melihat Syekh Yasin baru pulang dari Masjidil Haram setelah mengajar, meskipun sebelumnya ia berada di rumah.
Kedua kisah ini mencerminkan bukan hanya keilmuan Syekh Yasin tetapi juga kehadiran spiritualnya yang luar biasa dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun telah menjadi orang besar, Syekh berdarah Minangkabau ini sangatlah bersahaja dan sederhana. Ia tidak segan untuk datang ke pasar dan memikul barang-barangnya sendiri. Ia kerap mengenakan kaus oblong dan sarung. Syekh Yasin al-Fadani wafat pada Jumat Shubuh, 28 Dzulhijjah 1410 H di usianya yang ke 75. Ia dimakamkan di Pekuburan al-Ma’la, Makkah.