Syekh Mahfudz At Tarmasi yang dikenal sebagai ahli hadits kaliber dunia. Foto:
PACITAN, (ERAKINI) - Tidak banyak kalangan Islam di Indonesia yang mengenal siapa Syekh Mahfudz At-Tarmasi. Padahal, kapasitas dan komptensi keilmuan sosok kelahiran Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, itu telah diakui dunia.
Bahkan hingga akhir hayatnya, Syekh Mahfudz At Tarmasi dikenal sebagai ahli hadits kaliber dunia. Dari berbagai sumber terpercaya disebutkan bahwa lahir di Desa Tremas, sebuah desa kecil yang berada di Kecamatan Arjosari, Kabupaten .
At-Tarmasi adalah ulama Nusantara pertama yang mengajar Shahih Bukhari di Masjidil Haram hingga akhir hayatnya. Memegang sanad yang bersambung hingga ke Imam Bukhari.
Nisbat At-Tarmasi pada nama Syekh Mahfudz At-Tarmasi merupakan penisbatan pada tempat kelahirannya di Tremas. Sebagai anak yang lahir dalam lingkungan Pesantren Tremas, Syekh Mahfuzd At-Tarmasi tumbuh akrab dengan nuansa ilmu-ilmu Islam.
Saat usianya baru 6 tahun, ayahnya, Kiai Abdullah, membawanya ke Makkah. Sehingga tidak mengherankan jika At-Tarmasi tumbuh sebagai sosok muslim yang punya semangat belajar berapi-api.
Begitu menginjakkan kaki lagi di Indonesia dari Makkah, ayahnya memasukkan At-Tarmasi ke pesantren Kiai Shaleh Darat di Desa Mayong Jepara Jawa Tengah.
Pesantren Shaleh Darat merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang ditempuh oleh Aat-Tarmasi. Selesai belajar di Pesantren Shaleh Darat, ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Makkah, mengikuti jejak ayahnya dan gurunya–Kiai Shaleh. Ini merupakan perjalanan kedua bagi At-Tarmasi ke Makkah.
Di kota berjuluk Tanah Haram tersebut, At-Tarmasi melahab banyak buku berbagai disiplin ilmu agama, termasuk ilmu hadis yang menjadi bidang keahliannya. Bidang ilmu yang dipelajari At-Tarmasi terbentang luas, mulai dari halaqah, ribath–semacam pondokan–dan juga kuttab–berupa madrasah kecil yang diselenggarakan di rumah-rumah pengajar.
Hal ini menggambarkan betapa At-Tarmasi adalah seorang pemburu ilmu yang berburu ilmu dengan sungguh-sungguh. Dengan semangat belajar yang tak pernah padam, Syekh Mahfudz at-Tarmasi menjadi ulama yang menguasai berbagai bidang keilmuan Islam.
Ia merupakan sosok ulama produktif dalam menulis. Satu dari banyak karyanya adalah Kitab Al-Minhah al-Khairiyyah fi Arbain Haditsan min Ahadits Khair al-Bariyah. Karya At-Tarmasi ini dikenal dengan Kitab Hadis Arba’in at-Tarmasi.
Dari berbagai sumber terpercaya juga terungkap bahwa sanad yang diperoleh At-Tarmasi termasuk aqrab, sehingga menjadi incaran para ulama, tidak hanya dari tanah air saja tapi juga belahan dunia lainnya. Terlebih kitab Shahih Bukhari yang menjadi rujukan utama umat Islam setelah Al Qur’an.
Jika diriwayatkan melalui jalur Syeikh Abu Bakar Syatha yang merupakan guru At-Tarmasi di Haramain, maka mata rantainya At-Tarmasi berada diurutan ke-22. Adapun jika melalui jalur KH Abdullah yang merupakan ayahnya, maka mata rantainya lebih dekat lagi yaitu berada diurutan ke-20.
Hebatnya At-Tarmasi tidak hanya memegang sanad shahih Bukhori tapi juga kitab-kitab hadits lainnya. Ia tak hanya pakar dalam bidang hadits saja, tetapi juga dibidang keilmuan yang lain, seperti fikih, aqidah, qur’an dan qiraatnya.
Kepakarannya di bidang lain terbukti dengan beberapa karyanya dalam bidang-bidang tersebut. Karya-karya Syeikh Mahfudz At-Tarmasi yang tercatat ada sebanyak 20 kitab, 6 diantaranya adalah karya dalam bidang hadits.
Pengakuan Syeikh Yasin Al-Fadani
Syeikh Yasin Al-Fadani, Musnid dunya, ulama Nusantara Abad ke-20 tak tanggung-tanggung memberi enam gelar kepada Syeikh Mahfudz At-Tarmasi. Gelar-gelar itu adalah ‘Allamah (sangat alim), Al-Muhaddits (ahli hadits), Al-Musnid (mata rantai sanad hadits), Al-Faqih (ahli fikih), Al-Ushuli (ahli ushul fiqih), dan Al-Muqri (ahli qiraat).
Gelar ini diberikan Syeikh Yasin Al-Fadani sebagai bentuk pengakuan dan penghormatan akan keilmuan Syeikh Mahfudz At-Tarmasi. Selama mengajar di Masjidil Haram, Syeikh At-Tarmasi memiliki murid-murid yang tidak hanya berasal dari Nusantara saja, seperti Syeikh Hasbullah Asy-Syinqithi, Syeikh Umar Hamdan Al-Mahrusi, Syeikh Ahmad Abdullah Al-Syami Al-Makki, Syeikh Ahmad Al-Mukhallalati dan Qadhi Yahya Aman Al-Makki Al-Hanafi.
Sedangkan murid Syeikh At-Tarmasi yang dari Nusantara berjumlah lebih dari 20 orang (bahkan lebih banyak lagi) diantaranya adalah KH. Hasyim Asyari dan KH. Ahmad Dahlan yang merupakan ulama yang sangat berpengaruh di Nusantara.
At-Tarmasi wafat pada 1 Rajab 1338 H. Ulama hadits asal Nusantara ini dimakamkan di pemakaman keluarga Syatha karena kedekatan ia dengan keluarga Syatha. Syeikh Syatha merupakan guru yang berjasa menghantarkan dia menjadi ulama hadits tidak hanya sebagai guru saja akan tetapi juga sebagai ayah angkat, demikian pula dengan keluarga Syatha. Itulah sebabnya At-Tarmasi dimakamkan di pemakaman keluarga Syatha.