Berdakwah dalam mensyiarkan Islam sejatinya bisa dilakukan dengan kelembutan tanpa harus menggunakan cara-cara keras dan frontal. Terlebih jika itu dilakukan di tengah kondisi agama Islam sebagai minoritas, seperti pada masa abad 13-15 sebelum Masehi. Itulah yang dilakukan .
Syekh yang memiliki nama asli Sayyid Jamaluddin Husein, adalah salah satu ulama terkemuka dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Lahir pada tahun 1270 di Samarkand, Uzbekistan, Syekh Jumadil Kubro dikenal sebagai Bapak Wali Songo dan merupakan keturunan ke-10 dari Al-Husain, cucu Nabi Muhammad SAW.
Banyak sumber terpercaya yang menyebut Syekh Jumadil Kubro memainkan peran penting dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia, khususnya pada masa era Kerajaan Majapahit di mana pengaruh agama Hindu-Buddha masih sangat kuat. Sejumlah sumber menyebut bahwa Syekh Jumadil Kubro banyak disebut sebagai bapaknya Wali Songo.
Ia dipercaya sebagai nenek moyang para Wali di Tanah Jawa. Bahkan, sumber lain juga mempercayai bahwa Syekh Jumaidil Kubro merupakan ayah dari Sunan Ampel dan Sunan Giri, dua anggota Wali Songo.
Disebut dalam sejumlah sumber, Syekh Jumadil Kubro tiba di Jawa pada tahun 1399 M setelah mendapatkan tugas dari Sultan Mahmud I dari Turki Utsmani. Ia datang bersama rombongan ulama besar, seperti Syekh Maulana Malik Ibrahim, Syekh Subakir, Syekh Maulana Maghribi, Syekh Hasanudin, Syekh Ali Akbar, dan Syekh Malik Israil.
Sebelum tiba di Jawa, rombongan ini singgah di Pasai, Aceh, pusat peradaban Islam pertama di Nusantara. Putra Syekh Jumadil Kubro, Ibrahim Asmoroqondi, memilih untuk menetap dan berdakwah, yang kemudian menjadikannya ayah dari Sunan Ampel, salah satu tokoh Wali Songo.
Setibanya di Jawa, mereka diterima oleh Prabu Wikramawardhana, penguasa Majapahit, meskipun dakwah Islam di lingkungan kerajaan tidak langsung membuahkan hasil. Oleh karena itu, para ulama tersebut memilih untuk menyebarkan Islam secara bertahap di berbagai wilayah Jawa.
Dalam mengembangkan dakwah di Kerajaan Majapahit, Syekh Jumadil Kubro berdakwah dengan berdagang secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari kemurkaan kerajaan. Dia mengajarkan ajaran Islam secara bertahap, dimulai dengan memperkenalkan konsep dasar tentang Tuhan sebelum mengajarkan praktik ibadah yang lebih kompleks.
Keahliannya dalam berkomunikasi dan membangun hubungan baik dengan para bangsawan dan penguasa sangat membantu dalam memperluas pengaruh Islam di kalangan elit Kerajaan Majapahit
Sebarkan Islam Tanpa Resistensi Syekh Jumadil Kubro dikenal dengan pendekatan dakwah yang cermat dan strategis. Dia memulai dakwahnya dengan cara berdagang, yang memungkinkan Beliau untuk berinteraksi dengan masyarakat secara langsung tanpa menarik perhatian negatif dari penguasa Majapahit yang saat itu masih kuat pengaruh agama Hindu-Buddha.
Pendekatan ini memungkinkan Syekh Jumadil Kubro untuk menyebarkan ajaran Islam secara pelan dan bertahap, sehingga tidak menimbulkan resistensi dari masyarakat yang belum familiar dengan Islam.
Penyebaran Islam dilakukan melalui pendekatan akulturasi kebudayaan dan tasawuf. Proses penyebaran Islam dilakukan secara bertahap melalui pendekatan akomodatif terhadap budaya setempat. Islam berhasil diterima melalui penyatuan ajaran agama baru dengan nilai-nilai budaya lokal yang telah ada
Penghormatan terhadap budaya lokal menyebabkan penyebarkan agama Islam oleh Syekh Jumadil Kubro dilakukan dengan sangat perlahan. Dirinya tidak langsung memerintahkan praktik ibadah kepada pengikutnya.
Sebaliknya, Syekh Jumadil Kubro memulai dengan memperkenalkan konsep dasar tentang Tuhan dan ajaran Islam. Setelah masyarakat mulai memahami dan menerima ajaran tersebut, barulah dirinya mengajarkan praktik ibadah seperti salat dan puasa.
Menyebarkan Islam di masa Kerajaan Majapahit bukan tanpa tantangan. Agama Hindu dan Buddha yang telah berakar kuat dalam tradisi masyarakat, membuat Islam sulit diterima. Namun, Syekh Jumadil Kubro memahami bahwa perubahan tidak bisa dilakukan secara radikal.
Metode dalam mengenalkan yang ramah membawanya berkenalan dengan Tumenggung Satim Singomoyo, seorang pejabat kerajaan yang telah memeluk Islam secara diam-diam. Dari sinilah dakwah Islam mulai merambah ke kalangan prajurit dan pegawai kerajaan.
Perlahan tapi pasti, Islam mulai diterima oleh masyarakat kelas bawah, terutama dari kalangan Sudra dan Waisya yang selama ini mendapat perlakuan diskriminatif dalam sistem kasta Hindu. Islam yang mengajarkan kesetaraan menarik hati mereka, dan banyak dari mereka yang mulai memeluk Islam.
Dewi Dwarawati, seorang putri dari Champa yang menjadi permaisuri Prabu Dyah Kertawijaya, memiliki peran penting dalam memperkenalkan Islam di lingkungan kerajaan. Ia sering berdiskusi dengan Syekh Jumadil Kubro, yang akhirnya membuka ruang bagi dakwah Islam di kalangan bangsawan Majapahit.
Pendidikan dan Perjalanan Spiritual Luas Syekh Jumadil Kubro memiliki latar belakang pendidikan cukup mumpuni. Dia belajar dari ayahnya serta melanjutkan pendidikannya ke India, Makkah, dan Madinah, untuk mendalami ilmu tasawuf dan syariah. Sebelum aktif berdakwah, dia juga menjabat sebagai Gubernur Deccan di India.
Dengan latar belakang pendidikan yang cukup baik tersebut membuat sosok Syekh Jumadil Kubro memiliki sisi intelektualitas mumpuni yang di kemudian hari banyak memperkaya sisi spiritualitasnya.
Sisi spiritual Syekh Jumadil Kubro banyak mencerminkan kedalamanan keilmuannya serta dibekali kemampuan untuk menyentuh hati banyak orang. Salah satu cerita yang terkenal adalah bagaimana Syekh Jumadil Kubro mendirikan surau pertama di Gunung Kawi tanpa adanya resistensi dari masyarakat sekitar. Padahal kawasan Gunung Kawi yang berada di Malang, Jawa Timur, di era itu dikenal sebagai salah satu wilayah dalam pengaruh Hindu dan Budha.
Hal itu menunjukkan bahwa Islam yang disebarkan Syekh Jumadil Kubro dapat hidup berdampingan dengan pemeluk Hindu-Budha. Ini mencerminkan sikap toleransi yang diajarkan oleh beliau kepada para pengikutnya.
Syekh Jumadil Kubro wafat pada tahun 1376 dan dimakamkan di Trowulan, Mojokerto. Makamnya menjadi tempat ziarah bagi banyak orang hingga saat ini.
Syekh Jumadil Kubro tidak hanya meninggalkan jejak dakwah, tetapi juga keturunan yang menjadi pilar Islam di Nusantara. Putranya, Ibrahim Asmoroqondi, menjadi ayah dari Sunan Ampel, yang kemudian menurunkan para wali lainnya dalam jaringan Wali Songo.