Ilustrasi peristiwa hijrah Rasulullah SAW (Foto: Ist)
JAKARTA, (ERAKINI) - Peristiwa hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah merupakan peristiwa paling penting dalam sejarah Islam. Banyak yang mengira perjalanan mulia itu terjadi pada bulan Muharram karena tahun baru Islam dimulai pada 1 Muharram. Ternyata, menurut catatan sejarah Islam, peristiwa tersebut terjadi di bulan ,
Artinya: "Hijrahnya Rasulullah pada akhir bulan Safar di Gua al-Hajar sebagaimana para ulama sebutkan."
Lebih jauh, Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa sekitar dua bulan setelah Baiat Aqabah Kedua, hampir seluruh kaum Muslimin telah berhijrah ke Madinah. Saat itu, yang masih berada di Makkah hanyalah Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Ali bin Abi Thalib.
Rasulullah SAW belum meninggalkan Makkah karena masih menunggu izin dari Allah SWT. Sementara itu, Abu Bakar yang telah mempersiapkan diri untuk berhijrah diminta agar menemaninya dalam perjalanan tersebut.
Quraisy Khawatir dengan Hijrah Kaum Muslimin
Di sisi lain, para pemuka Quraisy mulai merasa cemas melihat semakin banyak kaum Muslimin yang meninggalkan Makkah menuju Madinah. Mereka menilai perpindahan itu bukan sekadar migrasi, melainkan ancaman terhadap kekuasaan dan kepentingan ekonomi mereka.
Kehadiran Rasulullah SAW di Madinah dinilai sangat strategis karena kota tersebut berada di jalur perdagangan utama yang menghubungkan Yaman dan Syam.
Kekhawatiran itu kemudian mendorong para tokoh Quraisy menggelar pertemuan darurat di Darun Nadwah untuk menyusun rencana membunuh Rasulullah SAW. Dalam riwayat disebutkan, rapat tersebut juga dihadiri seorang lelaki tua dari Najd yang sebenarnya adalah setan yang menyamar sebagai manusia.
Dalam perundingan itu sempat muncul berbagai usulan. Namun, pendapat Abu Jahal akhirnya disepakati, yakni setiap kabilah mengirim seorang pemuda bersenjata untuk menyerang Rasulullah SAW secara bersamaan.
Dengan cara itu, mereka berharap tanggung jawab pembunuhan akan terbagi kepada seluruh kabilah sehingga Bani Hasyim tidak mampu menuntut balas kepada satu kelompok tertentu.
Jibril Menyampaikan Izin Hijrah
Sebelum rencana tersebut terlaksana, Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah SAW untuk memberitahukan adanya rencana pembunuhan sekaligus menyampaikan izin dari Allah SWT agar beliau segera berhijrah.
Pada siang hari, Rasulullah SAW mendatangi rumah Abu Bakar dan meminta seluruh anggota keluarganya keluar agar dapat menyampaikan rencana hijrah secara rahasia.
Mendengar dirinya dipilih sebagai teman seperjalanan Rasulullah SAW, Abu Bakar disebut menangis haru.
Sementara itu, pada malam yang telah direncanakan, para pemuda Quraisy mengepung rumah Rasulullah SAW. Mereka meyakini malam itu menjadi akhir perjuangan dakwah beliau.
Namun, Allah SWT memiliki kehendak lain. Rasulullah SAW meminta Ali bin Abi Thalib tidur di tempat beliau dengan mengenakan selimut miliknya.
Adapun Rasulullah SAW keluar dari rumah secara diam-diam dan melewati para pengepung yang tidak mampu melihat keberadaannya atas pertolongan Allah SWT.
Ketika para pemuda Quraisy memasuki rumah dan membuka selimut tersebut, mereka terkejut karena yang berada di tempat tidur adalah Ali bin Abi Thalib.
Bersembunyi di Gua Tsur Selama Tiga Hari
Setelah meninggalkan rumah, Rasulullah SAW menuju kediaman Abu Bakar. Keduanya kemudian bergerak menuju Gua Tsur sebagai tempat persembunyian.
Selama tiga hari mereka berada di dalam gua tersebut dengan bantuan sejumlah orang kepercayaan.
Abdullah bin Abu Bakar bertugas memantau situasi di Makkah dan melaporkannya setiap malam. Asma' binti Abu Bakar mengantarkan makanan, sedangkan Amir bin Fuhairah menggembalakan kambing di sekitar jalur perjalanan untuk menyediakan susu sekaligus menghilangkan jejak kaki.
Tak lama kemudian, kaum Quraisy menyadari bahwa Rasulullah SAW berhasil meloloskan diri. Mereka pun melakukan pencarian hingga tiba di depan Gua Tsur.
Saat itu Abu Bakar merasa khawatir.
"Seandainya salah seorang dari mereka menundukkan kepala, pasti mereka akan melihat kita."
Namun Rasulullah SAW menenangkannya dengan sabda:
ما ظنك يا أبا بكر باثنين الله ثالثهما
Artinya: "Wahai Abu Bakar, bagaimana menurutmu tentang dua orang yang bersama, sedangkan yang ketiganya adalah Allah?" (HR Bukhari).
Meski berada sangat dekat dengan tempat persembunyian, rombongan Quraisy tidak melihat Rasulullah SAW dan Abu Bakar. Mereka pun meninggalkan lokasi tersebut tanpa menyadari bahwa orang yang mereka cari berada di dalam gua.
Diabadikan dalam Al-Qur'an
Peristiwa penyelamatan Rasulullah SAW dari rencana pembunuhan kaum Quraisy diabadikan Allah SWT dalam Surat Al-Anfal ayat 30.
Artinya: "Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkap, membunuh, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya, dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya." (QS Al-Anfal: 30).
Setelah situasi dinilai aman, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Rombongan akhirnya tiba dengan selamat.
Keberhasilan hijrah tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam karena menandai dimulainya pembangunan masyarakat Muslim di Madinah serta menjadi fase baru penyebaran dakwah Islam. Wallahu a'lam.