JAKARTA, (ERAKINI) - Sekira awal abad ke-20, kawasan Laweyan, Solo, kerap didatangi seorang kiai beriket batik, berbaju putih, dan bersarung wulung. Dengan langkah tenang dan bakiak kayu yang khas, ia berkeliling kampung menanyakan satu hal sederhana kepada warga: apakah dapur mereka masih mengepul.
Jika ada tetangga yang kesulitan makan, sang kiai tak segan membantu. Ia memastikan kebutuhan pokok warga tercukupi. Sosok sederhana dan penuh kepedulian itu adalah KH Ahmad Siradj, ulama kharismatik yang berperan penting dalam perkembangan Islam dan di pada abad ke-20.
KH Ahmad Siradj lahir pada 1878 dan wafat pada 10 Juni 1961. Ia dikenal sebagai ulama yang berpandangan nasionalis sekaligus pluralis. Dalam kesehariannya, Kiai Siradj dekat dengan semua kalangan, dari kerabat keraton hingga rakyat jelata, tanpa membedakan suku, ras, maupun agama.
Garis nasabnya tersambung hingga kepada Sunan Hasan Munadi, paman Raden Fatah yang berdakwah di lereng Gunung Merbabu, Ungaran. Latar belakang tersebut turut membentuk karakter dakwahnya yang kuat namun membumi.
Dalam menuntut ilmu, Kiai Siradj berguru kepada sejumlah ulama ternama di Jawa, di antaranya Kiai Imam Bahri di Pesantren Mangunsari Nganjuk, Kiai Dimyathi di Pesantren Tremas Pacitan, serta Sholeh Darat di Semarang. Pengalaman intelektual itu membentuk pandangan keislamannya yang moderat dan inklusif.
Perkuat Dakwah Islam melalui Pesantren Laweyan
Sepulang dari masa nyantri, Kiai Siradj menetap di Laweyan, Solo. Di sana ia mendirikan Pondok Pesantren As-Siradj yang masih berdiri hingga kini.
Di pesantren tersebut, ia mengajarkan Al-Qur’an, hadits, serta berbagai kitab klasik seperti Safinat al-Naja, Fath al-Qarib, Durrat al-Bahiyyah, dan Sullam al-Taufiq.
Salah satu muridnya yang kemudian dikenal luas adalah KH Muslim Rifa’i Imam Puro (Mbah Liem), pengasuh Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten. Kedekatannya dengan berbagai kalangan membuat dakwah Kiai Siradj mudah diterima. Ia bahkan menjadi penasihat spiritual Raja Kasunanan Surakarta, Pakubuwono X (1866-1936).
Tak hanya berdakwah, Kiai Siradj juga terlibat aktif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia bergabung dalam Barisan Kiai yang berjuang bersama laskar Hizbullah di wilayah Solo.
Dalam buku Hizbullah Surakarta (1992), Soepanto mengisahkan bagaimana otoritas karismatik para kiai menjadi pengobar semangat juang rakyat. Slogan “hubbul wathon minal iman” (cinta tanah air adalah bagian dari iman) digaungkan untuk membangkitkan nasionalisme.
Barisan Kiai bersama laskar Hizbullah, Sabilillah, Tentara Pelajar, dan Barisan Banteng turut memberi andil besar dalam mempertahankan kemerdekaan di Surakarta.
KH Ahmad Siradj juga tercatat sebagai salah satu perintis Nahdlatul Ulama di Surakarta. Ia hadir bersama Kiai Mawardi dalam Muktamar NU pertama di Surabaya pada 1926. Momentum tersebut menjadi tonggak awal berdirinya NU di Kota Solo.
Dakwahnya melalui NU kemudian diteruskan oleh keturunannya, di antaranya KH Shoimuri (wafat 1983), Rais Syuriah PCNU Boyolali; KH Mubin Shoimuri (wafat 2007), Ketua PCNU Surakarta; serta Nyai Basyiroh Shoimuri.
Pengaruhnya juga terasa dalam lingkup nasional. Beberapa tokoh yang masih memiliki garis keturunan dengan Kiai Siradj antara lain Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf dan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.
Aktif Menulis Buku
Selain berdakwah secara lisan, Kiai Siradj juga menulis karya berjudul Irang-irang Sekar Panjang. Buku yang terdiri dari tiga jilid kecil itu membahas kematian, kehidupan setelah mati, dan makna kematian. Ditulis dalam bentuk tembang berhuruf Arab Pegon, karya tersebut memadukan ajaran Islam dengan budaya Jawa agar mudah dipahami masyarakat awam.
Pendekatan ini menunjukkan kecerdasan kultural Kiai Siradj dalam menyampaikan pesan agama tanpa tercerabut dari akar tradisi lokal. KH Ahmad Siradj wafat pada Senin Pahing, 27 Muharram 1381 H atau 10 Juni 1961. Ia dimakamkan di TPU Makam Haji Kartasura.
Hingga kini, setiap haul yang digelar tiap 27 Muharram selalu dihadiri jemaah dari berbagai daerah. Warisan spiritual, kepedulian sosial, dan semangat kebangsaan yang ditanamkan Kiai Siradj terus dikenang lintas generasi, bahkan oleh kalangan non-Muslim. Sosoknya menjadi teladan tentang bagaimana agama, kemanusiaan, dan cinta tanah air dapat berjalan beriringan.