media digital. Prof Dr KH Muhammad Quraish Shihab merupakan salah satu ulama terkemuka di Indonesia. Banyak juga yng menyebutnya sebagai ulama kharismatik dan pengarang Tafsir al-Mishbâh. Tafsir ini termasuk karya monumental dalam khazanah keilmuan Islam di Indonesia karena disusun secara lengkap 30 juz dan menggunakan bahasa yang komunikatif, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Kata al-Mishbâh sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti “lampu” atau “pelita”. Pemilihan nama ini bukan tanpa alasan. Sesuai dengan maknanya, tafsir ini ditulis dengan harapan dapat menjadi “cahaya” yang menerangi umat dalam memahami kandungan ayat-ayat Al-Qur’an.
Melalui pendekatan yang kontekstual, rasional, dan tetap berpegang pada kaidah-kaidah tafsir yang kuat, Quraish Shihab berupaya menjelaskan pesan Al-Qur’an agar relevan dengan kehidupan modern.
Pada Ramadan tahun ini, Prof Quraish Shihab kembali menyapa umat Islam dari seluruh Indonesia melalui tayangan program Tafsir Al-Misbah: Hidup Bersama Al-Qur'an yang disiarkan youtube Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) selama bulan Ramadan.
Acara yang dipandu Najeela Shihab ini dikemas dengan sesi tanya jawab membahas seputar ayat-ayat al-Qur'an yang dikorelasikan dengan konteks saat ini. Seluruh konten dan pengajian Prof Quraish Shibah selama Ramadan dapat ditonton melalui link ini : https://youtu.be/VnHZ98jKFuA?si=gULZ-NZzFm88ior6
Dilansir dari blog pribadinya pada Kamis (19/2/2026), Prof Dr Muhammad Quraish Shihab merupakan ulama, cendekiawan, dan ahli tafsir terkemuka Indonesia. Dia lahir di Sidenreng Rappang (Sidrap) pada 16 Februari 1944.
Dia juga merupakan putra keempat dari 12 bersaudara yang lahir dari pasangan Prof Abdurrahman Shihab dan Asma Aburisy. Prof Quraish dibesarkan dalam lingkungan yang penuh dengan pengaruh ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang Al-Qur'an, karena ayahnya adalah seorang ahli tafsir dan akademisi, bahkan pernah menjabat sebagai rektor di dua perguruan tinggi Islam di Makassar, IAIN Alauddin dan Universitas Muslim Indonesia.
Sejak kecil, Quraish sudah mencintai ilmu-ilmu Al-Qur'an berkat didikan ayahnya. Pendidikan dasar Quraish diselesaikan di Ujung Pandang, dan kemudian ia melanjutkan ke tingkat menengah di Malang, sambil menyantri di Pondok Pesantren Darul-Hadits al-Faqihiyyah selama dua tahun di bawah bimbingan Habib Abdul Qadir BilFaqih.
Pada tahun 1958, ia melanjutkan pendidikan ke Kairo, Mesir, dan diterima di Kelas II Tsanawiyah al-Azhar. Pada tahun 1967, ia meraih gelar Lc (S-1) di Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir dan Hadits, Universitas al-Azhar, kemudian melanjutkan ke jenjang Magister dan meraih gelar MA pada 1969 dengan spesialisasi Tafsir al-Qur'an.
Ia menyelesaikan pendidikan doktoralnya pada tahun 1980 dengan disertasi berjudul Nazhm ad-Durar li al-Biqa’iy, Tahqiq wa Dirasah.
Di sepanjang kariernya, Quraish aktif dalam berbagai posisi penting, baik sebagai media dakwah maupun dalam pemerintahan. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademis dan Kemahasiswaan di IAIN Alauddin, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Anggota Lajnah Pentashbih al-Qur’an Departemen Agama, Rektor IAIN Syarif Hidayatullah, Menteri Agama Kabinet Pembangunan VII, Duta Besar untuk Mesir, Somalia, dan Djibouti, serta Anggota Dewan Syariah Nasional.
Pada tahun 2004, Quraish Shihab memulai gerakan "Membumikan Al-Qur'an" dengan mendirikan Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ). Lembaga ini menjadi wahana bagi Quraish untuk menyebarkan pemahaman Islam yang moderat dan toleran, melalui berbagai program, salah satunya adalah Pendidikan Kader Mufassir. Program ini bertujuan untuk mencetak generasi penerus yang dapat menyampaikan pesan-pesan Al-Qur'an dengan benar.
Selain itu, Quraish bersama beberapa kolega mendirikan Bayt Al-Qur'an di kawasan South City Pondok Cabe, yang mencakup Pondok Pesantren Pasca Tahfidz untuk mendidik para penghafal Al-Qur'an, serta sebuah masjid untuk media praktik dan dakwah Islam di masyarakat sekitar.
Ia juga mendukung pengembangan platform digital seperti CariUstadz.id, yang memfasilitasi pertemuan antara jamaah dan ustadz beraliran moderat untuk kajian bersama dan kegiatan dakwah.
Quraish Shihab juga aktif di tingkat internasional dalam menyelesaikan permasalahan dunia Islam, melalui keikutsertaannya dalam Majlis Hukama’ Al-Muslimin yang didirikan pada 2014, dan dipimpin oleh Grand Syekh Al-Azhar, Syekh Dr. Ahmed El-Tayeb.
Saat ini, Quraish lebih banyak mendedikasikan dirinya untuk menulis, dengan lebih dari 61 buku yang telah ia terbitkan, termasuk karya monumental Tafsir Al-Misbah. Semua buku karyanya diterbitkan oleh Penerbit Lentera Hati.
Dengan mengetahui profil ulama Nusantaara tersebut, umat Islam diharapkan bisa meneladaninya. Lebih dari itu, masyarakat juga didorong untuk menjadikan al-Qur'an sebagai pedoman hidup hingga akhir hayat. Wallahua'lam.