KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha (Foto: Ma'had Aly Darul Munawwaroh)
JAKARTA, (ERAKINI) - Ulama kharismatik KH Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha menekankan pentingnya mensyukuri nikmat-nikmat kecil dalam keseharian sebagai bentuk ibadah yang sangat dicintai Allah. Hal tersebut ia sampaikan dalam sebuah pengajian yang ditayangkan di kanal YouTube Kliwon, dikutip Minggu (22/6/2025).
Menurut Gus Baha, Allah sangat kepada -Nya yang mampu mengingat-Nya meski dalam aktivitas yang paling sederhana, seperti makan dan minum.
“Ketika seorang hamba makan sesuap nasi lalu memuji Allah, atau minum seteguk air lalu mengucap syukur, itu tandanya Allahridha. Itu wali betul,” ujar Gus Baha.
Gus Baha menjelaskan bahwa menjadi wali atau kekasih Allah tidaklah sulit. Justru, kata Gus Baha, ridhaAllah bisa diraih melalui hal-hal yang sangat dekat dengan keseharian manusia.
“Kamu makan, Allahridha. Kamu hidup seharian dengan rasa aman dan senang, itu sudah bentuk ibadah,” lanjutnya.
Gus Baha juga mengingatkan bahwa ajaran Rasulullah SAW banyak bersentuhan dengan praktik keseharian umat. Ia mencontohkan bagaimana Rasulullah memaknai tindakan-tindakan seperti memberi makan keluarga, bahkan berhubungan suami istri, sebagai bagian dari ibadah dan sedekah.
“Nabi sampai bilang, menggauli istri itu sedekah. Sahabat bahkan sempat heran, bagaimana mungkin urusan biologis dihitung sebagai pahala? Tapi Nabi menjawab, jika dilakukan di jalan yang salah justru berdosa, maka yang halal pasti berpahala,” terangnya.
Dalam pengajian itu, Gus Baha juga menyinggung pentingnya memahami ilmu Ushul Fikih. Menurutnya, saat Rasulullah menyebut nama sahabat tertentu dalam sabda-sabdanya, hal itu bukan berarti hanya berlaku untuk orang tersebut, melainkan juga berlaku untuk semua umat.
“Kalau Nabi bilang ke Mu’ad, ‘Aku mencintaimu, jangan lupa berdoa setelah salat,’ itu bukan cuma untuk Mu’ad, tapi untuk kita semua,” jelasnya.
Lebih jauh, Gus Baha mengajak umat Islam untuk tidak meremehkan amal-amal kecil, karena sering kali ibadah yang paling utama justru berasal dari hal-hal paling mendasar dalam kehidupan manusia.
"Anda punya istri cerewet masih bisa hidup. Tapi kalau nggak makan dan nggak minum, bisa mati. Maka penting mana, nasi sepiring atau istri?” ucap Gus Baha sambil berseloroh.
Di akhir tausiyahnya, Gus Baha menekankan bahwa Islam yang baik bukanlah yang rumit dan berat, melainkan yang menjadikan hidup penuh syukur dan ringan.
“Islam terbaik, kata Nabi, adalah memberi makan dan hidup santai. Itu menunjukkan bahwa agama ini sangat memuliakan aspek kemanusiaan dan kebutuhan dasar manusia,” ucap Gus Baha.