JAKARTA, (ERAKINI) - Syekh Abdul Wahid bin Sulaiman al-Fathani adalah tokoh legendaris yang sangat dihormati di Buton, Sulawesi Tenggara. Syekh Abdul Wahid dikenal sebagai pembawa Islam pertama di pulau Buton.
Tidak hanyamengajarkan Islam, namun dirnya juga diyakini sebagai orang yang mengislamkan RajaButon Lakilaponto dan menobatkan Lakilaponto sebagai Sultan Pertama , yang bergelar Sultan Kaimuddin Khalifatul Khamisatau Murhum.
Butont erletak di bagian Tenggara pulau Sulawesi, berada dalam jalur yang menghubungkan antara Makassar dan Maluku. Rakyat di negeri-negeri Sulawesi Tenggara jauh sebelum masuknya Islam telah menganut aliran dan kepercayaan terhadap beberapa kekuatan gaib seperti animisme dan dinanisme yang mengatur isi alam semesta.
Aliran kepercayaan tersebut kemudian dipengaruhi oleh agama Hindu, seiring dengan penyebaran Hindu-Buddha di kepulauan Nusantara abad ke-7 M.
Dalam tulisan berjudul 'Syekh Abdul Wahid Pembawa Islam di Pulau Buton' Haerudin disebutkan, Syekh Abdul Wahid bin Sulaiman al-Fathani diyakini lahir di Patani, Buton. Ayahnya bernama Syekh Sulaiman, seorang keturunan Arab yang menikah denganputri Sultan Johor.
Silsilahnya dapat ditelusuri hingga Abdul Wahid bin Sulaiman bin Muhammad Aidrus bin Umardilar bin ArifbillahMa’rufil Quzkhi bin Abubakar ibn Salim.
Sebelum tiba di Buton, Syekh Abdul Wahid tinggal di Johor Malaysia dan kemudian pindah ke Adonara, Nusa Tenggara Timur, bersama istrinya. Pada tahun 1526 M, Syekh Abdul Wahid bin Sulaiman al-Fathani dan keluarganya hijrah ke Pulau Batu Atas yang termasuk dalam pemerintahan Buton.
Di sanalah ia bertemu dengan Imam Pasai yang kembali dari Maluku. Imam Pasai menyarankan Syekh Abdul Wahid untuk pergi ke Buton dan menyebarkan agama Islam.
Sumber lain yang berkembang di Buton menyatakan, bahwa Agama Islam masuk di Buton dibawa oleh Syekh Abdul Wahid anak dari Syekh Sulaiman dari Johor.
Syekh Abdul Wahid datang ke Buton bersama istrinya dari Adonara beserta ketiga anaknya, masing-masing bernama Jamaluddin atau dikenal dengan Lebe Pangulu, dan kedua putrinya yang masing-masng bernama Nyai Fula yang kemudian dikenal dengan julukan Wadidi I Lampenano dan Nyai Hiba atau terkenal dengan sebutan Wa Didi I Daoa.
Agama Islam yang dibawaoleh Syekh Abdul Wahid pada mulanya dianggap ajaran baru yang sudah barang tentu bertentangan dengan kepercayaan dan keyakinan masyarakat Buton kala itu.
Oleh sebab itu, di dalam menyiarkan agama Islam, seorang Syekh Abdul Wahid harus memikirkan sedetail mungkin strategi atau cara paling tepat yang harus diambil agar misi penyiaran Islam olehnya berhasil meyakinkan masyarakat mau menerima dan masuk agama Islam.
Oleh karena itu, Syekh Abdul Wahid tidak hanya membutuhkan metode yang tepat untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat, akan tetapi juga perlu kharisma dan kepercayaan masyarakat kepada orang yang membawa ajaran tersebut.
Semasa hidup berdakwah dan menyebarkan Islam di Buton, Syekh Abdul Wahid dikenal sebagai sosok yang penuh karomah dan kebijaksanaan. Ia berhasil meyakinkan Raja Mulae untuk menerima Islam dan kemudian meminta restu ke Khalifahan Arab agar Buton dijadikan sebagai kesultanan Islam.
Menurut riwayat, RajaButon ke-6 Lakilaponto dikenal sakti dan mampu mengalahkan bajak laut. Karena, beberapa kali Kerajaan Buton coba ditaklukan para bajaklaut demi bisa menguasai perairan menuju Maluku Utara untuk mencari rempah-rempah. Salah satu kesaktian Lakilaponto adalah kebal senjata tajam maupun peluru dan dia berhasil mengusir Labolontio, bajak laut bermata satu.
Namun kesaktian sang raja tidak seberapa dengan kesaktian Syekh Abdul Wahid yang akhirnya menjadi gurunya. Syekh Abdul Wahid yang terkenal dengan karomah dan kesaktiannya itu akhirnya berhasil menjadikan RajaButon ke-6, Timbang Timbangan atau Lakilaponto atau Halu Oleo menjadi muridnya.
Kemudian sang raja akhirnya masuk Islam yang bergelar Sultan Murhum atau Sultan Muhammad Kaimudin. Sultan Murhum merupakan rajaButon pertama yang menerima pengaruh Islam setelah berkuasa lebih kurang 20 tahun.
Otoritas dan keteladanan raja memudahkan dijadikannya Islam sebagai agama resmi bagi orang Butondan Muna. Ketika itulah terjadi pengislaman beramai-ramai dalam lingkungan Istana Kesultanan Butondan sekaligus melantik Sultan Murhum sebagai Sultan Buton pertama.
Sultan Buton kemudian dianugerahi gelar Khalifatul Khamis oleh Khalifah Ustmaniyah. Ketikab itu, Khilafah Ustmaniyah di Istanbul Turki sebagai pusat pemerintaahan Islam mengakui kedaulatan Kesultanan Buton yang menjalankan secara penuh syariat Islam dalam sistem pemerintahannya.
Beberapa orang peneliti sejarah yang berasal dari Buton menyebut bahawa sampai sekarang masih terdapat beberapa peninggalan Syekh Abdul Wahid di Kesultanan Buton, di antaranya yang dinamakan Benteng Kraton, yaitu benteng pertahanan yang mengelilingi istana sultan dengan berbagai alat kelengkapannya.
Terdapat juga dua buah masjid tua. Satu terletak di Walio, yaitu asal pusat Kesultanan Buton. Menurut riwayat, bahwa Masjid di Walio itu didirikan oleh Syekh Abdul Wahid ketika mula-mula menginjakkan kakinya di Pulau Buton.
Masjid kedua terletak di Desa Liatogo, Pulau Wangi-Wangi, sebelah tenggara Pulau Buton yang didirikan pada masa sultan pertama. Di masjid ini terdapat sebuah batu yang dinamakan Batupoaro.
Menurut riwayat, di atasb batu itulah tempatnSyekh Abdul Wahid berkhalwat melakukan ibadah, dan di sanalah dia menghilangka ndiri, tiada diketahui ke mana perginya selepas itu. Batupoaro sampai sekarang dianggap sebagai tempat keramat bagi sebahagian masyarakat Buton.
Mereka datang ke batu tersebut untuk membayar nazar, berdoa agar mendapat berkat melalui karomah Syekh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani, yang telah berhasil mengislamkan sultan dan rakyat Buton.
Selain cerita unik di atas, Syekh Abdul Wahid juga dikenal karena kebijaksanaannya dalam menyikapi permasalahan masyarakat. Konon, ia pernah menyepakati peraturan kerajaan yang melarang masyarakat menanam enau, kecuali jika pohon itu tumbuh sendiri
Syekh Abdul Wahid bin Sulaiman al-Fathani meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi masyarakat Buton, yaitu agama Islam. Jasa-jasanya sangat dikenang dan dihormati hingga saat ini. Makamnya di Batupoaro dianggap sebagai tempat keramat yang sering dikunjungi masyarakat untuk berdoa dan membayar nazar.