Jangan Terlewat, Ini Wajib Haji yang Harus Diketahui Jemaah Sebelum Berangkat
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Dalam pelaksanaan ibadah haji, terdapat sejumlah amalan yang tergolong wajib dan harus diperhatikan oleh setiap jemaah. Amalan tersebut dikenal sebagai wajib haji. Apabila salah satu wajib haji ditinggalkan, ibadah haji jamaah tetap dinilai sah. Namun, jemaah yang meninggalkannya diwajibkan membayar dam atau denda sebagai konsekuensi.
Dengan demikian, meninggalkan wajib haji tidak membatalkan haji. Kendati demikian, kewajiban membayar dam menjadi tanggung jawab jamaah yang tidak melaksanakannya sesuai ketentuan.
Dikutip dari NU Online, Senin (5/1/2026), wajib haji terdiri atas tujuh perkara. Pertama, ihram dari miqat. Ihram wajib dilakukan dari miqat, yakni tempat yang telah ditentukan untuk memulai ihram. Miqat terbagi menjadi dua, yaitu miqat zamani dan miqat makani. Miqat zamani merupakan batasan waktu pelaksanaan haji dan umrah, sedangkan miqat makani adalah tempat yang ditetapkan untuk pertama kali memulai ihram.
Kedua, mabit di Muzdalifah. Jamaah haji wajib bermalam atau setidaknya singgah di Muzdalifah pada malam 10 Dzulhijjah setelah melaksanakan wukuf di Arafah.
Ketiga, melontar Jumrah Aqabah. Amalan ini dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah atau hari Nahr dengan melontar tujuh batu kerikil ke arah Jumrah Aqabah. Prosesi ini dimaknai sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan.
Keempat, melontar tiga jumrah pada hari-hari tasyrik, yakni tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Jamaah melontar Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah sesuai urutan yang telah ditetapkan.
Kelima, mabit di Mina. Jamaah diwajibkan menginap di Mina pada malam-malam hari tasyrik sebagai bagian dari rangkaian ibadah haji.
Keenam, melaksanakan thawaf wada. Thawaf wada merupakan thawaf perpisahan yang dilakukan sebelum jamaah meninggalkan Kota Makkah setelah seluruh rangkaian ibadah haji selesai dilaksanakan.
Pemahaman terhadap wajib haji ini menjadi penting agar jamaah dapat menjalankan ibadah haji secara tertib dan sesuai tuntunan syariat, sekaligus memahami konsekuensi yang harus ditunaikan apabila salah satu kewajiban tersebut ditinggalkan.
















