Sentuhan Ramadhan: Jaga Lisanmu agar Disukai Banyak Orang
Kiki Yuli Rosita
“Mulutmu harimaumu” begitulah yang biasa dikatakan orang terdahulu, bahwa lisanmu terkadang bisa menjadi sebuah bumerang untuk dirimu sendiri. Dalam menjalin sebuah hubungan silaturahmi antar sesama manusia, kita perlu menjaga lisan kita agar tetap terjaga dan tidak berkata yang menyakiti hati orang lain.
Dalam sebuah komunikasi yang baik antar sesama manusia yakni di antara cara ‘persuasi’ dalam sebuah teori retorika Aristoteles, yang pertama adalah “etos” atau bukti etis. Etos merupakan sebuah kekuatan moral/karakter seseorang pembicara, yang memiliki unsur antara lain; good-sense, good moral-character, goodwill (yang dalam sebuah ilmu retorika modern sering di sebut sebagai: expertness, truth worthiness, good-intention).
Untuk menjaga lisan tentu kita juga harus memperbaiki komunikasi. Dalam komunikasi itu terdapat etika seperti yang dijelaskan oleh Aristoteles sebelumnya. Kita bisa dengan memulai melalui pendekatan intrapersonal dalam menjalin silaturahmi dengan orang lain, dengan menjaga etika bicara kita dapat dengan mudah menjaga lisan kita. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no. 6474 dari Sahl bin Sa'id bahwa Rasulullah bersabda:
مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Barang siapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga.”
Hadits tersebut berpesan bahwa jika kamu menjaga lisan, makan Allah akan memberikan sebuah ganjaran berupa surga. Di bulan Ramadhan yang suci ini kita perlu menjaga lisan kita agar tidak saling menyakiti, dengan begitu kita akan lebih disukai dan juga dihargai oleh orang lain.
















