Diam adalah Puncak Tertinggi Ilmu Tauhid
Kiki Yuli Rosita
Kata tauhid berasal dari kata-kata wahhada, yuwahhidu, tauhidan, yang artinya mengesakan, menyatukan. Jadi, tauhid adalah suatu agama yang mengesakan Allah. Arti kata tauhid adalah mengesakan, yang dimaksud dengan mengesakan Allah Swt adalah dzat-Nya, sifat-Nya, asma‟-Nya dan af‟al-Nya.
Dr. Fahrudin Faiz mengatakan hal yang sesuai dengan Imam Al-Ghazali bahwa “Diam bukan berarti secara harfiah mutlak melainkan dalam diammu itu adalah Allah, pandanganmu adalah Allah, dan pada akhirnya tidak ada lagi yang dibicarakan secara negatif, positif semua berasal dari Allah dan semua yang terlihat hanyalah Allah”
Maknanya ialah tiada tuhan selain Allah, manusia ada karena Allah dan seluruh makhluk hidup maupun benda mati yang ada di dunia ini adalh milik Allah. Tauhid mengajarkan manusia jika Tuhan itu adalah satu. Dalam konteks ini mewajibkan manusia harus mempunyai pemahaman bahwa hanya Allah tuhan pencipta alam, tak ada satupun yang serupa dengannya dan hanya kepada Allah saja semua akan kembali.
Tauhid menurut Imam Al-Ghazali memiliki 4 tingkatan dalam kitabnya Ikhya ‘Ulumuddin:
1. Seseorang yang mengucapkan kalimat Laa Illaha illallah dengan lisannya, tetapi hatinya ghoflah atau lalai dan mengingkari, seperti tauhidnya orang munafiq
2. Seseorang yang membenarkan makna dari kalimat ini dengan hatinya seperti umumnya kaum muslim yang membenarkannya, dan ini adalah sebuah keyakinan orang awam.
3. Seseorang yang telah menyaksikan alam semesta dengan sebuah jalan al-kasyf (penyingkapan) melalui sebuah peranan cahaya dari Allah ‘Azza Wa Jall. Ini merupakan sebuah tingkatan muqorrobin atau orang-orang yang didekatkan pada-Nya. Yakni dengan melihat benda-benda yang banyak dibarengi dengan seluruh hal yang terlihat dari zat yang maha mulia.
















