Ilustrasi Kapal Nabi Nuh (Foto: National Geography)
JAKARTA, (ERAKINI) - Kisah Nabi Nuh a.s. yang membangun sebuah bahtera raksasa menjadi salah satu cerita paling terkenal dalam sejarah para nabi. Peristiwa tersebut bukan hanya menggambarkan ketaatan seorang rasul kepada perintah Allah, tetapi juga menjadi pelajaran tentang kesabaran, keteguhan iman, dan pentingnya mematuhi petunjuk-Nya.
Dalam tradisi Islam, kisah Nabi Nuh juga dikaitkan dengan bulan Muharam. Sejumlah riwayat menyebutkan bahwa pada hari Asyura, 10 Muharam, Nabi Nuh akhirnya berlabuh dengan selamat setelah banjir besar yang menenggelamkan kaum yang ingkar.
Lantas, mengapa Nabi Nuh membangun kapal dan apa kaitannya dengan bulan Muharam?
Nabi Nuh Berdakwah Selama 950 Tahun
Dilansir dari jurnal ilmiah berjudul Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Perkapalan pada Kisah Nabi Nuh Menurut Perspektif Al-Qur'an dan Hadis karya Aulya Adhli (2021), Jumat (3/7/2026), Nabi Nuh a.s. berdakwah kepada kaumnya selama 950 tahun.
Namun, dalam rentang waktu yang sangat panjang tersebut, hanya sedikit orang yang menerima ajakannya untuk menyembah Allah. Sebagian besar kaumnya justru menolak, mengejek, bahkan menganggap Nabi Nuh telah kehilangan akal.
Setelah melihat kaumnya terus membangkang, Nabi Nuh memohon pertolongan kepada Allah. Sebagai jawaban atas doa tersebut, Allah memerintahkan beliau untuk membuat sebuah bahtera atau kapal besar dari kayu sebagai persiapan menghadapi azab berupa banjir besar.
“Perintah itu terdengar tidak masuk akal bagi masyarakat saat itu. Kapal dibangun di wilayah yang jauh dari lautan dan dalam kondisi cuaca panas serta kering. Karena itulah, kaum Nabi Nuh semakin gencar mengolok-oloknya,” tulis artikel tersebut.
Meski demikian, Nabi Nuh tetap melaksanakan perintah Allah tanpa ragu.
Kapal Pertama dalam Sejarah
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa Nabi Nuh dikenal sebagai orang pertama yang membuat kapal atas bimbingan Allah SWT. Bahtera itu kemudian digunakan untuk menyelamatkan Nabi Nuh beserta orang-orang beriman serta sepasang dari setiap jenis makhluk hidup ketika banjir besar melanda.
Kisah itu juga menjadi salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah umat manusia dan terus dikenang hingga sekarang.
Di era modern, teknologi perkapalan berkembang pesat dengan hadirnya berbagai jenis kapal, mulai dari kapal selam, kapal perang, kapal penangkap ikan hingga kapal pengangkut barang. Namun, konsep dasar pembuatan kapal dalam sejarah Islam telah dimulai sejak masa Nabi Nuh atas petunjuk langsung dari Allah SWT.
Kaitannya dengan Bulan Muharam
Menurut sejumlah riwayat yang dikutip dalam jurnal tersebut, hari Asyura atau 10 Muharam diperingati sebagai hari ketika bahtera Nabi Nuh berlabuh di Gunung Judi setelah berlayar selama banjir besar.
Peristiwa itu dipandang sebagai simbol berakhirnya masa kehancuran akibat banjir dan dimulainya kembali kehidupan manusia melalui orang-orang yang diselamatkan Allah.
Sejarawan Muslim Al-Mas'udi meriwayatkan bahwa Malaikat Jibril membawa peti berisi tulang-belulang Nabi Adam a.s. untuk ikut diselamatkan ke dalam bahtera. Disebutkan pula bahwa kapal tersebut mengangkut 40 laki-laki dan 40 perempuan.
“Setelah berlayar selama sekitar lima bulan, bahtera akhirnya mendarat di kaki Gunung Judi. Di tempat itulah para penyintas membangun sebuah permukiman yang disebut Samanin, yang berarti delapan puluh, sesuai jumlah penumpangnya,” lanjut Jurnal itu.
Diabadikan dalam Al-Qur'an
Kisah penyelamatan Nabi Nuh melalui bahtera diabadikan dalam Al-Qur'an, salah satunya dalam Surah Al-Ankabut ayat 15.
"Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami menjadikannya pelajaran bagi semesta alam." (QS. Al-Ankabut: 15)
Para ulama menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan peristiwa penyelamatan Nabi Nuh sebagai pelajaran bagi seluruh umat manusia. Bahtera Nabi Nuh menjadi simbol pertolongan Allah kepada orang-orang yang beriman sekaligus bukti bahwa mengikuti petunjuk-Nya merupakan jalan menuju keselamatan.
Selain itu, Allah juga menegaskan peristiwa tersebut dalam Surah Al-Haqqah ayat 11-12.
"Sesungguhnya ketika air telah naik melampaui batas, Kami membawa nenek moyang kamu ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu sebagai peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar." (QS. Al-Haqqah: 11-12)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa banjir besar pada masa Nabi Nuh merupakan peringatan bagi umat manusia agar mengambil pelajaran dari sejarah dan tetap berpegang teguh pada keimanan.
Hikmah Kisah Nabi Nuh
Kisah Nabi Nuh mengandung sejumlah pelajaran penting bagi umat Islam, terutama di bulan Muharam yang menjadi momentum untuk memperbanyak ibadah dan muhasabah.
Di antaranya adalah pentingnya kesabaran dalam berdakwah, keteguhan menjalankan perintah Allah meskipun mendapat ejekan, serta keyakinan bahwa pertolongan Allah akan datang kepada hamba-Nya yang tetap beriman dan bertawakal.
Peristiwa berlabuhnya bahtera Nabi Nuh pada hari Asyura juga menjadi pengingat bahwa di balik setiap ujian, Allah selalu menyediakan jalan keselamatan bagi orang-orang yang taat kepada-Nya.