Gus Baha Cerita Perdebatan Ulama Klasik Soal Kentongan: Haram atau Tidak?
Abdul Rahman Ahdori
REMBANG, (ERAKINI) - Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Lembaga Pembinaan Pendidikan Pengembang Ilmu Al-Qur'an (LP3IA), Nurukan, Rembang, KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, menyampaikan pentingnya menjaga tradisi hujah dan sanad keilmuan Islam dalam ceramahnya yang disiarkan kanal YouTube Family Gondong, seperti dilihat erakini, Selasa (22/7/2025).
"Saya akan cerita sedikit tentang tradisi hujah. Dulu ulama itu kelihatannya sederhana, tapi kalau berargumentasi itu hebat," ujar Gus Baha.
Gus Baha menyinggung cerita tentang ulama bernama Bah Basyim yang dalam kitabnya Al-Jaisus Antahri Minnakus mengharamkan penggunaan kentong. Dalil yang digunakan mengacu pada hadis saat Nabi Muhammad SAW berdiskusi dengan para sahabat terkait cara memaklumkan waktu salat. Ada sahabat yang mengusulkan kentong, namun ditolak karena identik dengan tradisi Nasrani.
Namun, pandangan itu dikritik oleh Bah Fakim Maskumambang yang bahkan menyebut kitab Bah Basyim sebagai Hazurus Antahri Minnakus. Gus Baha menilai, konteks kentong di Indonesia berbeda, lebih dekat dengan fungsi ronda dan keamanan lingkungan, bukan atribut keagamaan tertentu.
"Di pondok saya ada kentong, tapi jelek sekali. Itu satu-satunya cara supaya beda dengan kentong gereja. Kalau jelek kan mirip kentong pos kamling," tutur Gus Baha disambut tawa jamaah.
Gus Baha juga membagikan kisah-kisah tentang para ulama terdahulu seperti Mbah Demyati, Mbah Munawwir, dan Mbah Maksum yang selalu menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan keilmuan dan sanad, baik melalui jalur biologis maupun intelektual.

















