Gus Baha: Doa Adalah Bukti Kehambaan, Bukan Sarana Mendikte Allah
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Ulama kharismatik KH Bahauddin Nursalim, atau akrab disapa Gus Baha, kembali menyampaikan nasihat penuh makna tentang hakikat doa dalam sebuah pengajian yang ditayangkan di kanal YouTube Family Glondong, dikutip Senin (23/6/2025).
Dalam tausiyahnya, Gus Baha menekankan bahwa doa adalah wujud kebergantungan hamba kepada Allah, bukan sarana untuk mendikte kehendak-Nya. Ia mengingatkan agar dalam berdoa, seseorang tetap menjaga adab dan tidak melampaui batas.
"Kalau kamu berdoa, itu yang tatharru’. Tatharru’ itu berdoa dengan sopan, diam-diam, dan tidak berlebihan. Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas, termasuk dalam berdoa, karena bisa mengandung unsur mendikte Allah," jelasnya merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur'an, "Innahu laa yuhibbul mu’tadin" (Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas).
Gus Baha mencontohkan bentuk doa yang berlebihan, seperti seseorang yang meminta pasangan hidup dengan kriteria sempurna secara fisik, nasab, dan akhlak tanpa cela. Menurutnya, doa seperti itu bisa keluar dari batas kewajaran dan menunjukkan kurangnya kesadaran akan posisi hamba di hadapan Tuhannya.
Lebih jauh, Gus Baha menjelaskan bahwa doa pada hakikatnya adalah bentuk ibadah. Ia mengutip ungkapan para wali Allah yang mengatakan bahwa “doa adalah inti ibadah” (mukhul ibadah) karena melalui doa, seorang hamba mengakui kelemahannya dan mengungkapkan kebutuhan kepada Allah.
"Yang merasa lemah itu sudah bagian dari ibadah. Ketika kita , itu artinya kita mengakui bahwa kita ini lemah dan sangat membutuhkan Allah. Itu saja sudah ibadah," tegasnya.
















