Masjid Jami Al-Atiq di Jalan Kampung Melayu Besar I, Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Masjid Jami Al-Atiq mungkin saat ini kalah pamor dengan masjid-masjid megah yang berdiri di Jakarta, seperti Masjid Istiqlal dan Masjid At-Tin. Namun, Masjid Jami Al-Atiq memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di Batavia (Jakarta).
Masjid Jami Al-Atiq selalu ramai dengan aktivitas keagamaan, baik kajian majelis ilmu maupun peringatan hari besar Islam. Termasuk di bulan puasa Ramadhan, seperti shalat tarawih. Masjid Jami Al-Atiq berada di Jalan Kampung Melayu Besar I, Kebon Baru, Tebet. Masjid yang terletak di perbatasan antara Jakarta Timur dan Jakarta Selatan yang dibatasi Kali Ciliwung itu, merupakan masjid tertua di Jakarta.
Awalnya, masjid ini bernama Masjid Kandang Kuda, karena sebagian penduduk di perkampungan itu banyak memiliki kuda dari kusir sebagai mata pencariannya atau tukang Sado. Nama itu kemudian diganti menjadi Masjid Al-Atiq oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada era 1970-an.
Belum ditemukan bukti otentik tentang kapan pastinya Masjid Jami Al-Atiq dibangun. Namun terdapat beberapa versi ikhwal awal berdirinya masjid ini. Versi pertama, Masjid Al-Atiq didirikan pada tahun 1600- an atau abad ke-16. Versi kedua menyebut Masjid Jami Al-Atiq dibangun sekitar tahun 1500-an atau abad ke-15.
Dirangkum dari berbagai sumber, Senin (11/3/2024), Masjid Jami Al-Atiq merupakan peninggalan Sultan pertama Banten, Maulana Hasanudin, yang merupakan putra dari Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah dari istrinya Ratu Kaurig Anten. Sultan Maulana Hasanuddin berkuasa mulai tahun1526. Pemerintahan Kesultanan Kerajaan Banten berkuasa selama 290 tahun, dimulai tahun 1526 sampai dengan 1816.
Melihat bentuk arsitekturnya, tampak pada atap bangunannya yang bersusun dan lambang panah sebagai simbol bersejarah seperti beberapa masjid yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, antara lain Masjid Demak, Masjid Sunan Giri, dan Gresik.
Kesamaan itu di antaranya adalah bentuk atap masjid yang awalnya tidak menggunakan genteng dari tanah liat, melainkan kayu sirap. Mengikuti perkembangan zaman, masjid ini telah beberapa kali direnovasi
Berdirinya Masjid Jami Al-Atiq konon bertepatan dengan berdirinya masjid yang berada di Banten dan Karang Ampel, Jawa Tengah, sehingga dikatakan sebagai cabang masjid yang didirikan oleh Sultan Maulana Hasanuddin. Masjid Jami Al-Atiq merupakan bangunan yang terakhir penyelesaiannya.
Keterangan lain dari cerita jamaah Jami Al- Atiq dari generasi ke generasi, konon masjid ini merupakan tempat persembunyian Si Pitung dan Ji’ih, jagoan Betawi yang terkenal karena membela rakyat kecil dan menentang Kolonial Belanda.
Kala itu, setelah melarikan diri dari penjara Meester Comelis (kini Jatinegara) pada tahun 1890-an, Si Pitung dan Si Jiih disembunyikan di masjid ini selama berbulan-bulan atas perintah mualim (kiai) setempat.
Masjid Jami Al-Atiq memiliki sejumlah benda pusaka dan Kramat. Salah satu benda pusaka yang terdapat pada masjid ini adalah tongkat yang berada di dekat mimbar yang biasa digunakan khatib saat khotbah Jumat. Tongkat yang terbuat dari kayu jati tersebut memiliki keunikan dan kisah tersendiri. Bahkan kulit kayu pada tongkat itu dipercaya manjur dan mujarab dapat menyembuhkan orang sakit keras.
Kekeramatan lain pada masjid ini adalah terjatuhnya seekor burung berbulu buruk ketika hendak melewati kubah masjid yang di atas atapnya terdapat simbol panah yang menghadap ke langit.
Sejarah Masuknya Islam ke Batavia
Sejarah mencatat bahwa penyebaran Islam di Jakarta dimulai sejak abad ke-15, ketika wilayah ini masih bernama Sunda Kelapa. Hal inilah yang memperkuat pendapat bahwa masjid Al-Atiq sudah dibangun tahun 1500-an.
Terdapat beragam versi ihwal masuknya Islam di Betawi. Abdul Aziz dalam bukunya berjudul Islam dan Masyarakat Betawi, menyatakan bahwa masuknya Islam ke Jakarta bermula saat Pangeran Jayakarta I Fatahillah menyerbu Sunda Kelapa untuk mengusir Portugis pada 22 Juni 1527.
Menurut catatan Portugis, panglima tentara Demak berhasil mengusir mereka dari Kota Bandar Kalapa bernama Falatehan. Portugis di bawah pimpinan Fransisco de Sa dalam Carita Purwaka Caruban Nagari karya Pangeran Arya Cirebon (1720 M), nama pimpinan itu yakni Fadhillah atau Fadhillah Khan.
Setelah berhasil merebut Sunda Kelapa maka diganti menjadi Jayakarta. Nama Fadhillah ini, dikatakan Uka Tjandrasasmita dalam Arkeologi Islam Nusantara, lebih dekat dengan Fathahillah sehingga dimaksud Falatehan dalam berita Portugis maksudnya Fadhillah Khan.
Maka itu, penyebaran agama Islam di Jakarta dipercaya dimulai sejak Fatahillah berhasil mengalahkan Portugis di Sunda Kelapa. Namun, setelah Batavia diserang oleh Belanda sekitar tahun 1619, sebagian tokoh penyebar agama Islam pengikut Pangeran Jayakarta I berpindah dari Pelabuhan Pasar Ikan ke Kampung Melayu.
Ketika pengikut Pangeran Jayakarta I tengah menelusuri Batavia melalui Sungai Ciliwung dengan menggunakan perahu, salah satu rombongan secara kebetulan melihat sebuah bangunan masjid yang tidak terpelihara, bahkan nyaris roboh. Akhirnya rombongan memutuskan untuk menetap di wilayah itu, sekaligus memperbaiki bangunan masjid itu. Masjid itulah yang kemudian dikenal sekarang bernama Masjid Jami Al-Atiq.
Versi lain menurut budayawan Ridwan Saidi, bahwa kedatangan Islam ke Tanah Betawi sebenarnya berawal dari kedatangan Syeh Hasanuddin atau dikenal dengan nama Syekh Quro.
Syekh Quro merupakan seorang ulama yang datang pada tahun 1409 dari Kamboja. Bermula dari tahun itulah diyakini fase awal perkembangan Islam dan sejarah keulamaan Betawi bermula.
Fase awal penyebaran Islam di Betawi dan sekitarnya diperkirakan tahun 1418-1527. Ulama yang masuk dalam fase ini yakni Syekh Quro, Kean Santang, Pangeran Syarif Lubang Buaya, serta Pangeran Papak. Kemudian, Kumpi Dato Depok, Dato Ibrahim Condet, Dato Tonggara, serta Dato Biru Rawa Bangke
Lalu fase penyebaran Islam lanjutan tahun 1522-1650. Pada masa ini terdapat tokoh ulama Fathahillah (Fadhillah Khan), Dato Wan, Dato Makhtum, Pangeran Sugiri Kampung Padri, serta Kong Ja’mrin Kampung Marunda
Fase penyebaran Islam lanjutan kedua, yakni tahun 1650-1750. Beberapa nama yang muncul dalam fase ini di antaranya Abdul Mihid bin Tumenggung Tjakra Jaya dan keturunannya yang berbasis di Masjid Al-Manshur Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat.