Janji Allah soal Jaminan Rezeki bagi Setiap Makhluk yang Bernyawa
Abdul Rahman Ahdori
Konsep rezeki dalam Islam tidak hanya soal uang, tetapi memiliki sahabat dan keluarga yang baik termasuk rezeki yang patut disyukuri. Namun begitu, rezeki yang diraih oleh setiap individu mengacu kepada bagaimana dia bersikap dan bertanggung jawab kepada apa yang menjadi kewajibannya sebagai umat Manusia.
Misalnya saja dalam konteks rezeki dalam bentuk uang, semua itu tergantung dari seberapa keras usaha dia untuk mendapatkan uang tersebut. Namun disamping kerja keras, setiap individu harus menyadari bahwa dalam setiap langkahnya ada kuas Allah yang kapan saja bisa ditujukan kepada hamba-Nya.
Salah satunya soal rezeki tersebut. Islam sendiri telah menjamin bahwa setiap makhluk hidup di dunia ini, sekecil atom sekalipun sudah pasti diberikan rezeki oleh Allah swt.
Tak lupa, cara kita mencari rezeki tersebut harus diiringi dengan ridha dari Allah swt sebagaimana yang diajarkan syariat Islam. Sebagaimana maut dan jodoh, perkara rezeki memang kadang kala tidak pernah masuk di akal. Allah sendiri telah menjamin hal tersebut. Kuncinya, kita yakin dan percaya dengan kemurahan Allah swt.
Hal ini seperti yang diterangkan Allah swt dalam Al-Quran Surat Al-Waqi‘ah [56] ayat 63-64, sebagai berikut:
اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تَحْرُثُوْنَۗ ءَاَنْتُمْ تَزْرَعُوْنَهٗٓ اَمْ نَحْنُ الزّٰرِعُوْنَ
Artinya: "Apakah kamu memperhatikan benih yang kamu tanam? (63) Apakah kamu yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkan? (64)"
Ayat ini ingin memberi pesan bahwa kuasa Allah bisa menunjukan apa saja, yang menurut umat Manusia tidak mungkin bahkan tidak masuk di akal. Sebagai umat Islam yang beriman, percaya kepada kekuasaan Allah merupakan suatu kewajiban. Karena itu, jika perkara pohon saja bisa Allah ciptakan, apalagi sekadar rezeki. Sangatlah pasti sanggup Allah beri kepada makhluk-Nya.
Imam Al-Qurthubi dalam kitab Al-Jami'u li Ahkamil Qur'an (Beirut: Muassasah ar-Risalah: 2006) Juz 20, halaman 209-214 menyebut bahwa ayat ini bisa menjadi sebuah peringatan bagi orang yang tidak percaya dengan hari akhir termasuk orang-orang yang tidak yakin akan kemurahan Allah swt.
Padahal di dunia ini Allah sudah membuktikannya, yaitu bisa menghidupkan (menumbuhkan) tanaman yang sama sekali tidak bisa dilakukan oleh manusia. Manusia hanya sebatas bisa menanam, bukan menumbuhkan.
وَإِنَّمَا مِنْكُمُ الْبَذْرُ وَشَقُّ الْأَرْضِ، فَإِذَا أَقْرَرْتُمْ بِأَنَّ إِخْرَاجَ السُّنْبُلَ مِنَ الْحَبِّ لَيْسَ إِلَيْكُمْ، فَكَيْفَ تُنْكِرُونَ إِخْرَاجَ الْأَمْوَاتِ مِنَ الْأَرْضِ وَإِعَادَتَهُمْ؟
Artinya: “Apabila kalian telah mengakui bahwa mengeluarkan bulir dari bibit itu bukan perbuatan kalian, maka bagaimana bisa kalian mengingkari mengeluarkan orang-orang yang telah mati dari tanah dan mengembalikan mereka?!”
Dari penjelasan Imam Al-Qurthubi tersebut dapat dipahami bahwa Allah memiliki kuasa atas segala kehidupan umat Manusia di dunia. Sebab manusia adalah hamba yang sejatinya memiliki banyak kekurangan. Ketika Allah mampu membuat pepohonan tumbuh, besar dan memberikan banyak manfaat untuk umat Manusia, begitu pun dengan rizki seseorang.
Hal-hal yang tidak mungkin menurut akal manusia adalah mungkin bagi Allah. Kuncinya yakin dan percaya terhadap kemurahan dan kuasa Allah. Tak lupa berdoa agar apa yang kita cita-citakan bisa dikabulkan.
Ayat di atas memberikan banyak pelajaran bahwa Allah selalu berkuasa atas apa yang tidak diketahui oleh umat Manusia seperti cara menumbuhkan pepohonan, cara mematikan makhluk hidup dan lainnya. Apalagi sekecil rezeki yang menurut Allah sangatlah mungkin diberikan kepada hamba-Nya, selama mau berusaha, berdoa dan bertawakal dalam meraih kemurahan-Nya.
Wallahu A'lam.

















