Hamas menunjuk Yahya Sinwar sebagai pemimpin baru setelah pembunuhan terhadap Ismail Haniyeh di Teheran, Iran, pada 31 Juli lalu. Foto: EPA
JAKARTA, (ERAKINI) - Hamas menunjuk Yahya Sinwar sebagai pemimpin baru setelah pembunuhan terhadap Ismail Haniyeh di Teheran, Iran, pada 31 Juli lalu.
“Gerakan Perlawanan Islam Hamas mengumumkan terpilihnya Komandan Yahya Sinwar sebagai kepala biro politik menggantikan Komandan Syahid Ismail Haniyeh," kata dalam pernyataannya, dilansir Rabu (7/8/2024).
Para analis mengatakan Sinwar (61), yang jarang terlihat sejak serangan 7 Oktober, merupakan indikator pentingnya posisi Gaza dalam visi politik Hamas.
"Dia (Sinwar) telah melejit ke posisi berpengaruh di Hamas, memimpin Hamas di Gaza. Pilihan Hamas untuk menunjuknya sebagai pemimpin gerakan tersebut kini menempatkan Gaza sebagai pusat perhatian, bukan hanya kejadian di lapangan, namun tentu saja dinamika dalam gerakan Hamas,” kata Nour Odeh, seorang analis politik Palestina yang berbasis di Ramallah.
Hizbullah juga menyambut baik penunjukan Sinwar dan menyebutnya sebagai pesan yang kuat kepada Israel dan Amerika Serikat, serta menunjukkan bahwa Hamas bersatu dalam pengambilan keputusan.
“Memilih saudara Yahya Sinwar dari jantung Jalur Gaza yang terkepung, yang berada di garis depan dengan pejuang perlawanan dan di antara anak-anak bangsanya, di bawah reruntuhan, blokade, pembunuhan dan kelaparan, menegaskan kembali bahwa tujuan yang ingin dicapai musuh adalah membunuh para pemimpin telah gagal,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan.
Penunjukan Sinwar sebagai pemimpin baru ini berlangsung kurang dari seminggu setelah Haniyeh terbunuh. Israel dituduh bertanggung jawab pembunuhan tersebut. Israel sendiri menolak memberikan komentar mengenai kasus ini.
Seorang pejabat senior Hamas kepada AFP menyatakan bahwa pemilihan Sinwar menunjukkan komitmen Hamas untuk melanjutkan perjuangan melawan Israel.
Pejabat itu juga menambahkan bahwa dengan kematian Haniyeh, yang dikenal lebih condong kepada diplomasi, Hamas memilih pemimpin yang lebih fokus pada pertempuran dan perlawanan.
Sinwar lahir di kamp pengungsi Gaza, selatan Khan Younis. Ia merupakan mantan kepala aparat keamanan Al-Majd yang bertugas melenyapkan warga Palestina yang dicurigai bekerja sama dengan Israel. Ia menjadi pemimpin Hamas di Jalur Gaza pada tahun 2017.
Sinwar adalah salah satu dari beberapa pemimpin Hamas yang dimintai surat perintah penangkapan oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan perang yang dilakukan pada 7 Oktober.
Surat perintah juga diminta untuk beberapa pemimpin Israel, termasuk Netanyahu dan kepala pertahanan Israel Yoav Gallant, atas dugaan kejahatan perang di Gaza.
Namun terlepas dari janji Israel untuk memusnahkan Hamas, dan kampanye militer yang termasuk yang paling merusak dalam sejarah modern, kelompok bersenjata Palestina terus bertahan melawan pasukan Israel di Gaza.
Sinwar (61), dipandang oleh Israel sebagai dalang di balik serangan Hamas pada 7 Oktober di dalam wilayah Israel, yang menewaskan lebih dari 1.100 orang dan lebih dari 200 lainnya ditawan.