Search

Kota Terancam Tenggelam, 50.000 Penduduk dari Ksar El-Kebir Dievakuasi Imbas Banjir Besar di Maroko

RABAT, (ERAKINI) - Pemerintah Maroko mengevakuasi lebih dari 50.000 penduduk dari Kota Ksar El-Kebir, wilayah barat laut negara tersebut, setelah banjir akibat hujan deras berkepanjangan mengancam keselamatan kawasan permukiman. Jumlah warga yang dipindahkan hampir mencapai setengah dari total populasi kota, sebagaimana dilaporkan media pemerintah pada Senin (2/2/2026).

Seorang warga setempat, Hicham Ajttou, menggambarkan kondisi kota yang kini nyaris tak berpenghuni. Dalam keterangannya, ia menyebut aktivitas ekonomi lumpuh total, dengan pasar dan toko-toko tutup, sementara mayoritas warga memilih meninggalkan kota atau dievakuasi oleh pihak berwenang. “Situasinya seperti kota mati. Hampir tidak ada kehidupan tersisa,” ujarnya.

Pemerintah setempat telah mendirikan pos pengungsian serta kamp darurat, sekaligus memberlakukan pembatasan ketat dengan menutup akses masuk ke Ksar El-Kebir. Kebijakan ini diambil menyusul meluapnya Sungai Loukkos, yang airnya merendam sejumlah lingkungan permukiman. Warga hanya diizinkan keluar dari kota, sementara aliran listrik di beberapa area dihentikan dan seluruh sekolah diliburkan hingga akhir pekan.

Pejabat setempat menjelaskan bahwa banjir diperparah oleh pelepasan air dari Bendungan Oued Makhazine, yang telah mencapai batas tampung maksimal. Kota Ksar El-Kebir sendiri berada sekitar 190 kilometer di utara ibu kota Rabat, dan menjadi salah satu wilayah paling terdampak.

Ajttou mengaku telah memindahkan keluarganya ke Tangier sejak pekan lalu demi keselamatan. Namun, ia kembali ke kota asalnya untuk bergabung sebagai relawan dalam proses bantuan kemanusiaan. “Kekhawatiran terbesar kami adalah apa yang akan terjadi ke depan. Bendungan sudah penuh, dan tidak ada kepastian kapan kondisi ini akan membaik,” katanya.

Untuk mempercepat evakuasi dan penanganan darurat, militer Maroko turut diterjunkan dengan mengerahkan unit penyelamat, armada truk, peralatan berat, serta tenaga medis. Sejumlah bus disiapkan guna mengangkut warga keluar dari wilayah terdampak banjir.

Sementara itu, siaran televisi nasional Al Oula menampilkan operasi penyelamatan dramatis menggunakan helikopter yang berhasil mengevakuasi empat orang yang terjebak banjir di Sungai Oued Ouargha, wilayah Provinsi Ouezzane yang berdekatan.

Di wilayah selatan, peningkatan debit Sungai Sebou juga memaksa otoritas setempat mengevakuasi warga di beberapa desa di Sidi Kacem. Upaya pencegahan dilakukan dengan memperkuat bantaran sungai menggunakan karung pasir dan penghalang tambahan guna menahan limpasan air.

Ironisnya, hujan deras yang kini memicu bencana banjir tersebut sekaligus mengakhiri kekeringan panjang selama tujuh tahun yang sebelumnya memaksa Maroko berinvestasi besar-besaran dalam pembangunan fasilitas desalinasi air laut. Berdasarkan data resmi, tingkat keterisian bendungan nasional kini mendekati 62 persen, dengan sejumlah waduk utama bahkan telah mencapai kapasitas maksimum.