Search

Pengabdian Perawat RSPAD Layani Jemaah Haji di Tanah Suci, Siaga di Tengah Terik Matahari

MAKKAH, (ERAKINI) - Terik matahari menyengat di Terminal Jabal Ka’bah, Makkah, tak menyurutkan langkah Fransiska Mainake (38) menjalankan tugasnya sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Daerah Kerja (Daker) Makkah. Perempuan kelahiran Malang keturunan Ambon itu menjadi salah satu garda terdepan yang memastikan kesehatan dan keselamatan jemaah haji Indonesia di Tanah Suci.

Sehari-hari, Fransiska bertugas sebagai perawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Namun selama musim haji, ia mengabdikan diri sebagai petugas Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKP2JH) di Sektor Khusus Masjidil Haram.

“Motivasi saya yang pertama adalah ingin melayani jamaah calon haji Indonesia dari segi medis. Dan yang kedua, niatnya tentu untuk beribadah,” ujar Fransiska kepada tim Media Center Haji (MCH), Sabtu (9/5/2026). 

Dalam menjalankan tugas, Fransiska tidak hanya bersiaga menghadapi kondisi darurat. Ia juga aktif memberikan edukasi kesehatan kepada jemaah, khususnya kelompok risiko tinggi (risti), sebelum melaksanakan umrah wajib maupun rangkaian puncak ibadah haji.

Tim PKP2JH dituntut bergerak cepat saat ada jemaah yang mengalami gangguan kesehatan mendadak, mulai dari kelelahan, pingsan, hingga kondisi kritis lainnya di tengah padatnya aktivitas jemaah.

Menurut Fransiska, bekerja di area terminal yang dipadati jutaan orang dengan suhu udara ekstrem menjadi tantangan tersendiri. Kondisi tersebut menguras tenaga dan membutuhkan kesiapsiagaan tinggi dari setiap petugas.

Untuk menjaga keamanan dan efektivitas pelayanan, para petugas menerapkan sistem pendampingan atau buddy system. Petugas tidak diperkenankan bertugas sendirian saat patroli maupun menangani situasi tertentu di lapangan.

“Petugas selalu didampingi rekan sesama petugas, baik laki-laki maupun perempuan,” katanya.

Di balik kelelahan menjalankan tugas, Fransiska mengaku kerap mendapatkan pengalaman spiritual yang membekas di hati. Salah satu momen yang paling diingatnya terjadi saat membantu seorang jemaah yang kebingungan di kawasan Dar Al Tawhid.

Jemaah tersebut, kata dia, sangat ingin melaksanakan shalat di depan Ka’bah.

“Saya antar beliau ke sana. Beliau menangis terharu sambil memegang tangan saya erat sekali karena takut hilang, mengingat jamaah calon haji sangat padat. Beliau bersyukur dan terharu bisa sampai ke depan Ka’bah,” kenang Fransiska.

Berinteraksi langsung dengan jemaah yang mayoritas lanjut usia juga memberikan pelajaran berharga bagi dirinya. Pengalaman itu melatih kesabaran sekaligus menumbuhkan rasa kagum terhadap perjuangan para lansia untuk menunaikan ibadah haji.

Menurut Fransiska, masa tunggu haji yang panjang dan perjalanan fisik yang berat tidak mengurangi semangat para jemaah untuk datang ke Tanah Suci.

“Saya terharu, mereka menunggu lama sekali dan perjuangan untuk ke sini itu tidak mudah. Sangat menakjubkan melihat betapa kuatnya tekad mereka untuk beribadah ke Tanah Suci dengan berbagai cara,” ujarnya.

Melalui dedikasi petugas seperti Fransiska, jemaah haji Indonesia tidak hanya mendapatkan layanan medis yang sigap, tetapi juga pendampingan penuh empati selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.