MADINAH, (ERAKINI) -"Alhamdulillah...Alhamdulillah. Terima kasih banyak Mas". Kalimat itu tak henti diucapkan Edy Purwanto di pelataran Masjid Nabawi Madinah, Jumat (8/5/2026).
Malam selepas isya' itu, Edy sebagai ketua kloter tengah bertemu dengan Muhammad Yunus, salah satu Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.
Edy cepat-cepat ke depan pintu 336 Masjid Nabawi itu lantaran ingin menerima kartu identitas haji dan Nusuk yang baru saja ditemukan oleh Yunus. Kartu yang diterima Edy itu adalah milik salah satu anggota kloternya.
Ceritanya, selepas menunaikan Salat Isya' berjamaah di Nabawi, Yunus yang didampingi M Taufiq, teman sesama petugas, menemukan dua kartu jemaah jatuh.
Di tengah kerumunan jemaah yang berjubel dan mencapai ribuan orang, menemukan sang pemilik kartu tentu menjadi hal tak mudah.
Yunus dan Taufiq lantas berpikir keras bagaimana agar kartu yang maha penting itu bisa kembali ke pemilik secepatnya. Kartu-kartu itu vital karena menjadi identitas resmi, apalagi kartu Nusuk jadi kunci masuk Kota Mekkah dan
mengikuti ritual perhajian.
Sadar akan fungsi itu, dengan sigap, Yunus mengambil smartphone-nya dan memindai barcode yang ada di kartu identitas berwarna hitam putih itu. Sedetik kemudian, di layarnya muncul keterangan rinci identitas pemilik kartu.
Di dalamnya ada data foto, nama lengkap, nomor paspor, nama hotel di Madinah dan Mekkah. Bahkan nomor kamar dan lantai hotel juga tertera lengkap berikut kawasan atau sektor yang menaunginya.
Yang berharga lagi, di kartu itu juga tertera nama dan nomor kontak ketua rombongan. Praktis, ketika nomor kloter sudah terdeteksi, Yunus akhirnya menelepon Edy Purwanto yang diamanahi menjadi ketua kloter.
Setelah tersambung, Edy pun dengan cepat bergerak dari hotelnya menemui Yunus yang standby di depan gerai toko hadiah di pintu 336. Kurang lebih 10 menit kemudian, Edy akhirnya tiba dan langsung memperkenalkan kepada Yunus.
Senyum bahagia dan semringah pun tampak jelas di wajah Edy. Dan sangat mungkin jemaah sang pemilik kartu belum sadar jika kartunya jatuh atau bahkan juga belum sempat melapor ke ketua kloter.
Namun berkat pemanfaatan teknologi digital yang diusung oleh Kementerian Haji dan Umrah RI tersebut, kartu sakti itu cepat kembali.
Kesaktian kartu juga kembali dibuktikan kala sekitar 15 menit kemudian, Yunus dan Taufiq kembali ditemui dua jemaah asal NTB yang kesulitan mencari jalan pulang.
Mereka adalah Sahudin dan Taufik. Saat datang, keduanya juga tak mengenakan alas kaki karena kebingungan mencari tempat penyimpanan sandalnya.
Lagi-lagi, Yunus dan Taufiq memindai barcode di kartu yang tergantung di badan kedua jemaah. Seketika, data keduanya diketahui dan kemudian mereka dipandu arah menuju hotelnya di kawasan Sektor 1.
"Terima kasih Pak, dari tadi saya kesusahan menemukan jalan balik ke hotel. Saya tak tahu mana lokasinya," ujar Sahudin yang tak berapa lama langsung beranjak meninggalkan Yunus dan Taufik di kawasan Sektor 3 Daker Madinah.
Kartu identitas jemaah digital terbukti ampuh dan banyak faedah. Apalagi jika kartu hilang, maka mudah sekali ditemukan. Jemaah pun senang, ketua kloter tenang dan petugas juga riang karena memudahkan kerja-kerja mereka di lapangan.