Pilot dan pramugari masuk dalam daftar teratas sebagai pekerja dengan risiko kematian tertinggi akibat kanker terkait radiasi dibandingkan lebih dari 500 profesi lainnya. Foto: Ilustrasi
JAKARTA, (ERAKINI) — Pilot dan pramugari masuk dalam daftar teratas sebagai pekerja dengan risiko kematian tertinggi akibat kanker terkait radiasi dibandingkan lebih dari 500 profesi lainnya.
Temuan ini merupakan hasil penelitian terbaru yang diterbitkan pada 17 Agustus di JAMA Internal Medicine. Penelitian tersebut menganalisis data hampir 13 juta kematian di Amerika Serikat pada periode 2020-2024, termasuk sekitar 14.000 dan 7.000 .
Hasilnya, kematian akibat kanker yang berkaitan dengan radiasi mencapai 6,9 persen pada pramugari dan 6,7 persen pada pilot. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dan kedua tertinggi di antara 503 kelompok pekerjaan yang diteliti.
Peneliti mengaitkan temuan tersebut dengan paparan radiasi kosmik yang diterima awak pesawat ketika bekerja di ketinggian jelajah. Pada ketinggian di atas 30.000 kaki, atmosfer yang lebih tipis memberikan perlindungan lebih rendah terhadap partikel berenergi tinggi dari luar angkasa.
Awak pesawat diperkirakan menerima 3-6 milisievert radiasi kosmik setiap tahun, tergantung rute penerbangan. Sebagai perbandingan, rata-rata penumpang yang melakukan 10 penerbangan pulang-pergi lintas negara bagian dalam setahun menerima sekitar 0,4 milisievert.
Paparan tersebut menjadi perhatian karena radiasi pengion dalam dosis tertentu dapat merusak DNA dan memicu perkembangan kanker.
Studi menemukan pilot dan pramugari memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi akibat sejumlah kanker yang berkaitan dengan paparan radiasi, termasuk kanker payudara, sistem saraf pusat, prostat, dan melanoma. Pilot juga menunjukkan tingkat kematian akibat leukemia yang lebih tinggi.
Temuan ini menjadi lebih menonjol karena pekerja penerbangan yang bekerja di darat tidak menunjukkan pola peningkatan yang sama. Sementara itu, teknolog nuklir yang juga terpapar radiasi dalam pekerjaan berada di peringkat ke-12, di bawah pilot dan pramugari.
Pola tersebut memperkuat dugaan adanya kaitan antara paparan radiasi di ketinggian dan kematian akibat kanker, meski belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Namun, peneliti menegaskan penelitian tersebut memiliki keterbatasan. Data yang digunakan tidak dapat menunjukkan berapa banyak radiasi yang secara individual diterima setiap pilot atau pramugari.
Selain itu, kemungkinan kesalahan pencatatan pekerjaan dalam sertifikat kematian serta faktor lain seperti gangguan ritme sirkadian akibat jadwal kerja dan perjalanan lintas zona waktu juga belum dapat sepenuhnya diperhitungkan.
Penumpang Tidak Perlu Khawatir Berlebihan
Meski temuan studi terdengar mengkhawatirkan, para peneliti menekankan bahwa hasil penelitian tersebut tidak berarti penerbangan sesekali meningkatkan risiko kanker secara signifikan bagi penumpang.
Paparan yang menjadi perhatian terutama terjadi pada orang yang menghabiskan ratusan jam setiap tahun di udara selama bertahun-tahun sebagai bagian dari pekerjaan. Penumpang yang hanya bepergian sesekali menerima dosis radiasi yang jauh lebih rendah dibandingkan awak pesawat.
Temuan penelitian juga menyoroti kesenjangan perlindungan bagi awak pesawat di Amerika Serikat. Federal Aviation Administration (FAA) mengakui pilot dan pramugari sebagai pekerja yang terpapar radiasi pengion. Namun, mereka belum dikenai batas dosis radiasi federal maupun kewajiban pemantauan paparan seperti yang berlaku bagi sebagian pekerja lain yang terpapar radiasi.
Para peneliti menilai temuan tersebut perlu menjadi perhatian pembuat kebijakan, regulator, maskapai, serta tenaga medis yang menangani awak pesawat. Fokusnya bukan pada risiko penerbangan bagi penumpang, melainkan pada perlindungan kesehatan pekerja yang menghabiskan sebagian besar kariernya di ketinggian.