Iran Kenang Ayatollah Khamenei sebagai Pemimpin Bijaksana, Siapkan Balasan Keras ke AS dan Israel
Thomas Pulungan







Media resmi pemerintah Iran, Tasnim, pada Minggu (1/3/2026) pagi mengonfirmasi bahwa Ayatollah Khamenei gugur dalam serangan udara yang dilakukan oleh pasukan AS-Israel yang disebut sebagai kriminal.
Dalam pernyataannya, IRGC menyampaikan duka mendalam atas kehilangan besar sang imam, dan menyebut kesyahidan Ayatollah Khamenei di jalan Islam dan Iran sebagai tanda kemenangan, serta kedekatan dengan tujuan perjuangan.
"IRGC menegaskan bahwa kesyahidan tersebut akan memperkuat tekad bangsa Iran untuk terus melanjutkan jalan Imam Khamenei," tulis Tasnim.
Selain itu, IRGC menyatakan bahwa tindakan yang disebutnya kriminal dan teroris oleh pemerintah jahat Amerika Serikat dan rezim zionis Israel, merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip agama, moral, hukum, dan norma universal. IRGC memastikan bangsa Iran akan memberikan balasan keras, tegas, dan membuat pihak pelaku menyesal.
Kabinet Menteri Iran telah menetapkan 40 hari berkabung nasional menyusul wafatnya sang Pemimpin Revolusi Islam. Bagi rakyat Iran, sosok almarhum digambarkan sebagai teladan pengorbanan dan perlawanan di era kontemporer.
Kepemimpinan Khamenei dinilai sagat bijaksana selama lebih dari 37 tahun, pengibaran panji Islam dengan keberanian dan keimanan, serta perannya memimpin umat Muslim melawan kekufuran dan kesombongan.
Selain menetapkan 40 hari berkabung nasional, pemerintah juga mengumumkan tujuh hari libur nasional. "Kejahatan besar (pembunuhan Khamenei) ini tidak akan dibiarkan tanpa jawaban dan pihak-pihak yang berada di baliknya akan menyesali perbuatan mereka," bunyi pernyataan tersebut Kabinet Menteri Iran.
Khamenei telah memimpin Republik Islam Iran sejak 1989, setelah sebelumnya menjabat sebagai presiden di bawah rezim Ruhollah Khomeini dari 1981 hingga diangkat menjadi pemimpin tertinggi. Ia berusia 86 tahun.
Ia lahir di Mashhad, Iran timur laut, pada April 1939, lalu menetap di Qom pada 1958, tempat ia mulai mengikuti pelajaran dari Ruhollah Khomeini, yang kemudian menjadi pemimpin Revolusi Islam dan pemimpin tertinggi pertama Iran.
Khamenei memiliki enam anak. Salah satunya, Mojtaba, dalam beberapa tahun terakhir disebut-sebut sebagai calon penerusnya sebagai pemimpin tertinggi.
