Umat Muslim Palestina melaksanakan Sholat Idulfitri di tengah bangunan yang poran-poradan Jabalia, Gaza utara. Foto: Mahmoud Issa/Reuters via Al Jazeera
Perdana Menteri Israek Benjamin Netanyahu tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengurangi tekanan terhadap Hamas di tengah putaran baru perundingan gencatan senjata.
Beberapa serangan udara pada hari Minggu dini hari telah menghantam tenda dan rumah saat warga Palestina merayakan Hari Raya Idulfitri. Sumber medis mengatakan kepada Al Jazeera, setidaknya 35 orang tewas di kota-kota selatan Rafah dan Khan Younis.
Pembunuhan keji itu juga menyasar pekerja medis Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS). “Ini adalah tragedi bukan hanya bagi kami, tetapi juga bagi kerja kemanusiaan dan kemanusiaan,” ujar PRCS dalam sebuah pernyataan, seraya menambahkan bahwa tindakan militer Israel sebagai kejahatan perang.
Di tengah kekerasan tersebut situasi kemanusiaan di Jalur Gaza terus memburuk, karena Israel telah menghentikan pengiriman bantuan sejak awal Maret.
“Warga Palestina seharusnya berbuka puasa dengan makanan yang sangat lezat (untuk Idulfitri), tetapi hari ini mereka tidak dapat memperoleh satu makanan pun, sungguh menyedihkan situasi di Gaza,” kata Hind Khoudary dari Al Jazeera, melaporkan dari Deir el-Balah.
Makanan di Jalur Gaza langka dan sangat mahal. Para orang tua mengatakan bahwa memberi makan keluarga adalah “misi yang mustahil”.
Palestina telah merayakan Hari Raya Idulfitri pada Sabtu (30/1). Memasuki Lebaran kedua hari ini, pasukan Israel terus menyerang warga Palestina dan menewaskan sedikitnya sembilan orang, termasuk banyak anak-anak.
Bahkan, Israel telah memerintahkan penduduk Rafah untuk mengungsi. Juru bicara militer Israel telah mengeluarkan perintah pemindahan paksa baru untuk kota selatan Rafah, dengan peringatan bahwa tentara akan segera melanjutkan operasi tempur yang intens di sana.
Dalam sebuah posting di X, Avichay Adraee mengatakan orang-orang di sebagian besar Rafah dan daerah sekitar Nassr dan ash-Shawka harus segera mengungsi ke al-Mawasi. Radio Angkatan Darat Israel menggambarkan perintah tersebut sebagai evakuasi terluas sejak dimulainya kembali pertempuran.
Saat ini sekitar 90 persen wilayah Rafah telah menerima perintah evakuasi paksa. Rafah adalah salah satu wilayah yang diduduki oleh pasukan Israel selama tujuh bulan invasi darat yang dimulai pada Mei 2024 dan berlangsung hingga perjanjian gencatan senjata.
Setidaknya 50.000 warga Palestina saat ini tinggal di Rafah, dan situasinya menjadi berbahaya sejak pasukan Israel tiba-tiba menyerbu wilayah Shaboura.
Netanyahu menegaskan Hamas harus meletakkan senjatanya, mengasingkan para pemimpinnya, dan menyerahkan keamanan di Gaza kepada Israel untuk mencapai tahap akhir gencatan senjata.