TEHERAN, (ERAKINI) – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas minyak di sekitar ibu kota Iran. Serangan yang terjadi pada malam hari itu menargetkan beberapa pusat penyimpanan dan distribusi bahan bakar di wilayah strategis Iran.
Pejabat energi Iran menyebut sedikitnya 5 lokasi yang berkaitan dengan industri minyak menjadi sasaran serangan di wilayah Teheran dan provinsi Alborz. Serangan tersebut mengakibatkan korban jiwa serta kerusakan pada fasilitas vital yang selama ini menopang distribusi energi bagi ibu kota dan daerah sekitarnya.
Direktur perusahaan distribusi bahan bakar nasional Iran, Keramat Veyskarami, menjelaskan bahwa beberapa depot minyak dan pusat transportasi produk energi menjadi target serangan udara. “Semalam, empat depot minyak dan pusat transportasi produk minyak bumi di Teheran dan Alborz diserang oleh pesawat musuh,” ujar Veyskarami dalam wawancara dengan televisi pemerintah.
Ia mengungkapkan bahwa serangan tersebut merenggut nyawa empat pekerja, termasuk dua pengemudi truk tangki yang sedang menjalankan tugasnya. “Empat personel kami, termasuk dua pengemudi truk tangki minyak, tewas dalam insiden tersebut,” katanya. Ia menambahkan bahwa sejumlah fasilitas memang mengalami kerusakan, namun situasi berhasil dikendalikan oleh tim penanggulangan kebakaran. “Fasilitas tersebut mengalami kerusakan, tetapi api berhasil dikendalikan.”
Akibat serangan tersebut, asap pekat dari kebakaran sempat menyelimuti langit ibu kota Iran pada pagi hari. Warga melaporkan bahwa aroma terbakar masih terasa di udara beberapa jam setelah serangan terjadi.
Meski demikian, pemerintah Iran memastikan bahwa pasokan energi nasional tetap aman. Veyskarami menegaskan bahwa depot bahan bakar Iran masih memiliki stok yang memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Ia menyatakan bahwa negara itu masih memiliki “cadangan bensin yang cukup”.
Militer Israel kemudian mengakui bahwa pihaknya melakukan serangan terhadap fasilitas penyimpanan bahan bakar di sekitar Teheran. Rekaman video yang beredar menunjukkan kilatan api yang menerangi langit malam kota tersebut. Banyak pengamat menilai insiden ini sebagai salah satu momen pertama dalam konflik tersebut ketika infrastruktur industri sipil menjadi sasaran langsung.
Media pemerintah Iran menuding bahwa fasilitas vital yang menjadi penopang distribusi energi bagi ibu kota dan provinsi-provinsi di utara menjadi target “serangan dari AS dan rezim Zionis”.
Iran Tolak Tekanan dan Seruan Menyerah
Di tengah situasi yang semakin memanas, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan permohonan maaf kepada negara-negara tetangga atas insiden serangan yang sempat memicu ketegangan regional.
Namun ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan politik dari Washington. Pezeshkian menolak keras seruan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meminta Iran menyerah tanpa syarat. “Itu adalah mimpi yang harus mereka bawa sampai mati,” tegasnya.
Di sisi lain, Trump justru mengeluarkan ancaman baru dengan menyatakan bahwa Iran akan “dihantam sangat keras” dan memperingatkan bahwa lebih banyak wilayah serta kelompok dapat menjadi target serangan berikutnya.
Saat berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One, Trump juga menegaskan bahwa Washington tidak berniat menghentikan konflik dalam waktu dekat. “Kami tidak berniat untuk berdamai,” kata Trump. “Mereka ingin berdamai. Kami tidak berniat untuk berdamai.”
Ia bahkan menggambarkan operasi militer Amerika Serikat di Iran sebagai sebuah “ekskursi” dan mengklaim bahwa dampak ekonomi seperti kenaikan harga bahan bakar akan mereda setelah konflik berakhir.
Sikap Iran Tegas: Strategi Perlawanan Tidak Berubah
Meski ada seruan diplomasi dari sebagian pemimpin Iran, sejumlah tokoh penting negara itu menegaskan bahwa strategi perlawanan terhadap tekanan Barat tidak akan berubah. Presiden Pezeshkian menyatakan bahwa pemerintah Iran telah berkomunikasi dengan angkatan bersenjata dan meminta agar serangan terhadap negara-negara tetangga dihentikan kecuali jika Iran terlebih dahulu diserang.
“Mulai sekarang, mereka tidak boleh menyerang negara-negara tetangga atau menembakkan rudal ke arah mereka, kecuali jika kita diserang oleh negara-negara tersebut. Saya pikir kita harus menyelesaikan ini melalui diplomasi,” katanya.
Namun tokoh garis keras Iran, kepala peradilan Gholam Hossein Mohseni-Ejei, menegaskan bahwa strategi perang negara tersebut tidak akan berubah. “Geografi beberapa negara di kawasan ini—baik secara terang-terangan maupun terselubung—berada di tangan musuh, dan titik-titik tersebut digunakan melawan negara kita dalam tindakan agresi. Serangan intensif terhadap target-target ini akan terus berlanjut,” tulisnya.
Peringatan serupa juga disampaikan Ketua Parlemen Iran sekaligus mantan jenderal Garda Revolusi, Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia menegaskan bahwa selama pangkalan militer Amerika Serikat masih berada di kawasan Timur Tengah, stabilitas tidak akan benar-benar tercapai. “Selama pangkalan AS masih ada di kawasan ini, negara-negara tersebut tidak akan menikmati perdamaian,” ujarnya.