Search

Rumah Sakit Israel Penuh Sesak usai Gelombang Baru Serangan Rudal Balistik Iran

JAKARTA, (ERAKINI) – Rumah sakit di Israel dilaporkan kewalahan menghadapi lonjakan pasien setelah gelombang baru serangan rudal balistik Iran menghantam sejumlah wilayah penting, Jumat (7/3/2026).

Menurut laporan media Israel, serangan rudal Iran telah menghantam Tel Aviv, Jaffa, serta Bandara Internasional Ben Gurion. Channel 12 Israel melaporkan adanya ledakan keras di Tel Aviv.

Getaran dari ledakan tersebut bahkan membuat rumah-rumah di sekitar lokasi berguncang. Sumber-sumber Israel menyebutkan bahwa Yerusalem dan Tel Aviv menjadi sasaran sekitar 10 rudal yang diluncurkan dari Iran. 

Di sisi lain, media berbahasa Ibrani juga menggambarkan situasi kacau di sejumlah rumah sakit. Meski berada di bawah sensor ketat pemerintah, situs berita Rotter.net melaporkan kondisi ruang gawat darurat yang sangat padat akibat ancaman keamanan dari serangan rudal yang terus berlanjut.

Laporan tersebut turut mengungkap sebuah insiden di mana pendamping seorang pasien diduga merebut senjata api pribadi milik seorang dokter dan mengancam staf medis, termasuk dokter tersebut, agar pasien mereka segera mendapatkan penanganan.

Sejauh ini, otoritas Israel belum merilis informasi resmi terkait jumlah korban tewas, luka-luka, maupun tingkat kerusakan akibat gelombang serangan rudal terbaru tersebut.

Presiden Iran Tegaskan Komitmen Perdamaian
Terpisah, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tetap berkomitmen untuk mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan di kawasan Timur Tengah.

Dalam pesan yang diunggah di platform media sosial X pada Jumat (6/3), Pezeshkian menanggapi berbagai upaya mediasi yang dilakukan sejumlah negara di tengah meningkatnya ketegangan regional.

“Beberapa negara telah memulai upaya mediasi. Respons kami jelas: kami berkomitmen pada perdamaian yang langgeng di kawasan. Namun kami tidak memiliki sedikit pun keraguan dalam membela kehormatan dan kedaulatan negara kami,” tulisnya, dilansir kantor berita Iran, Tasnim, Sabtu (7/3/2026).

Pernyataan tersebut muncul ketika sejumlah negara dalam beberapa waktu terakhir mulai mengusulkan berbagai inisiatif diplomatik untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah.

Pezeshkian menyatakan bahwa pihak yang seharusnya menjadi sasaran upaya mediasi adalah AS dan Iran yang telah memicu konflik dengan meremehkan rakyat Iran.

Pezeshkian menegaskan Iran akan terus mempertahankan martabat dan kepentingan nasionalnya dengan tegas di tengah dinamika geopolitik kawasan.