Ibu Negara Suriah, Latifa al-Droubi saat menyampaikan pidato di acara wisuda Universitas Idlib, Suriah (Foto: Instagram Teladan Rasul)
JAKARTA, (ERAKINI) -Ibu NegaraSuriah, Latifa al-Droubi, menjadi sorotan publik setelah pidatonya dalam upacara wisuda Universitas Idlib viral di berbagai platform media sosial. Banyak warganet memuji keberanian dan ketulusan Latifa dalam menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan dan pendidikan di tengah situasi politik yang menantang di Suriah.
Latifa, yang juga istri Presiden SuriahAhmad al-Sharaa, tampil sebagai salah satu wisudawan Fakultas Seni dan Humaniora dan berhasil meraih gelar Sarjana Sastra Arab.
Upacara wisuda yang digelar di Universitas Idlib pada Sabtu (6/9/2025) malam itu dihadiri ribuan mahasiswa dan tamu undangan. Presiden al-Sharaa turut hadir memberikan ucapan selamat kepada para lulusan, termasuk kepada sang istri. Tahun ini, universitas tersebut mewisuda sebanyak 2.029 mahasiswa dari berbagai jurusan.
Dalam acara tersebut, Latifa dipercaya menyampaikan pidato mewakili para wisudawan. Dengan nada penuh semangat, ia menyampaikan pesan tentang keteguhan, pendidikan, dan peran perempuan Suriah di tengah kondisi negara yang masih berjuang pascaperang.
“Hari ini, saya berada di sini bukan sebagai perempuan pertama, tapi sebagai pelajar Suriah yang memiliki impian. Meskipun ada tantangan, saya berada di sini agar berjalan secara ilmiah di Universitas Idlib Al-Ghaliyah,” ujar Latifa seperti dikutip dari akun facebook Syam Update, Rabu (12/11/2025).
Ia menggambarkan perjuangan rakyat Suriah yang terus berupaya bangkit melalui pendidikan, meski dihadapkan pada situasi sulit.
“Saya berada di negeri yang tahan, negeri yang telah diserang oleh perang, namun tetap menciptakan harapan, menunjukkan ilmu, dan menyembunyikan ribuan cerita kehidupan,” katanya.
Dalam bagian lain pidatonya, Latifa menekankan pentingnya peran perempuan dalam membangun masa depan Suriah. Ia menyebut bahwa setiap ibu, pelajar, dan perempuan di negaranya memiliki kekuatan untuk menjadi bagian dari kebangkitan bangsa.
“Setiap perempuan di Suriah bukanlah beban bagi masyarakat, melainkan cahaya dan kekuatan. Kami mampu menjadi suara yang tidak dibungkam dan energi yang menghidupkan,” ucapnya dengan nada lantang.
Latifa juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para dosen dan tenaga pendidik di Universitas Idlib yang tetap setia mendampingi mahasiswa di tengah keterbatasan. Ia menyebut kampus tersebut sebagai “kastil ilmiah” yang tetap membuka pintu bagi ilmu pengetahuan meski banyak pintu lain tertutup akibat konflik.
Pidato Latifa ditutup dengan seruan emosional tentang harapan bagi masa depan Suriah.
“Ya, kita berhak memiliki kehidupan. Kita berhak memiliki kegembiraan. Dan kita berhak menulis masa depan dengan tangan kita sendiri. Hari ini adalah permulaan baru bagi Suriah yang berkembang dengan pengetahuannya, bukan dengan darahnya,” tuturnya.