Search

Di Tengah Panas Makkah, Koki Farhan Racik Ribuan Hidangan untuk Jemaah Haji

MAKKAH, (ERAKINI) - Pintu dapur katering konsumsi jemaah haji Indonesia itu terbuka perlahan. Hembusan udara panas bercampur aroma bawang tumis, lada, dan rempah khas langsung menyeruak keluar.

Di dalam ruangan luas yang nyaris tak pernah benar-benar sepi selama musim haji, puluhan pekerja bergerak cepat dengan ritme teratur. Sebagian mengoperasikan mesin pencuci sayuran, lainnya memotong berbagai bahan masakan, sementara beberapa pekerja sibuk mengaduk kuah di panci berukuran besar.

Dari dapur tersebut, ribuan jemaah haji Indonesia di Makkah mendapatkan makanan setiap hari selama musim haji berlangsung.

Tahun ini menjadi periode sibuk bagi perusahaan katering Safwat Al-Wisam Company. Sedikitnya 30.000 jemaah dari enam negara dilayani untuk kebutuhan sarapan, makan siang, dan makan malam. Khusus jemaah Indonesia, jumlah yang ditangani mencapai sekitar 6.200 orang.

General Manager Safwat Al-Wisam Company, M. Farhan Al-Qurashi, mengatakan perjalanan membangun layanan katering haji tidak dilakukan secara instan. Usaha tersebut dirintis di Madinah pada 2012 dalam skala kecil sebelum memperluas operasional ke Makkah tiga tahun kemudian.

“Dengan rahmat Allah, saya sangat bersyukur bisa melayani tamu-tamu-Nya di Makkah,” ujarnya saat ditemui tim Media Center Haji di Makkah, Senin (11/5/2026).

Kini, usaha yang awalnya hanya beroperasi di satu kota telah berkembang menjadi jaringan katering dengan empat cabang di Jeddah, Makkah, Madinah, dan Riyadh. Dalam waktu dekat, perusahaan itu juga berencana membuka cabang baru di Dubai.

Meski skala bisnis terus berkembang, perhatian terhadap selera jemaah tetap menjadi prioritas utama. Khusus untuk jemaah Indonesia, pihak katering menilai cita rasa makanan tidak bisa dibuat sembarangan.

Menu Indonesia dipisahkan penanganannya sejak awal proses produksi. Bumbu dasar disiapkan secara khusus agar rasa makanan tetap menyerupai masakan rumah di Tanah Air.

“Kami punya koki dari Indonesia, khusus untuk melayani jemaah Indonesia,” kata Farhan.

Menurut dia, keputusan menghadirkan koki asli Indonesia dilakukan untuk menjaga karakter rasa yang akrab di lidah jemaah. Mulai dari tingkat gurih, aroma rempah, hingga cita rasa sambal dinilai berbeda dibanding makanan dari negara lain.

Tantangan terbesar justru terletak pada ketersediaan bahan baku. Tidak semua rempah dan racikan bumbu mudah ditemukan di Arab Saudi dengan cita rasa yang sesuai selera Indonesia.

Karena itu, pihak katering menggandeng pemasok khusus asal Indonesia untuk menjaga konsistensi rasa dalam produksi makanan berskala besar.

“Pemasok kami orang Indonesia dan mereka menghadirkan rasa bumbu yang benar-benar asli dari Indonesia,” ungkapnya.

Bagi banyak jemaah, makanan bukan sekadar pengganjal lapar. Hidangan dengan rasa yang familiar kerap menjadi penghibur di tengah kelelahan menjalani ibadah dan menghadapi cuaca ekstrem Arab Saudi.

Peran pekerja Indonesia pun menjadi bagian penting dalam operasional dapur tersebut. Sedikitnya empat koki Indonesia memimpin pengolahan menu Nusantara setiap hari.

Mereka mulai bekerja sejak dini hari. Proses memasak sarapan dimulai saat sebagian besar jemaah masih beristirahat. Setelah distribusi makanan pagi selesai, dapur kembali bergerak menyiapkan makan siang dan makan malam tanpa jeda panjang.

Seluruh tahapan produksi diawasi secara ketat, terutama terkait kebersihan dan sanitasi. Para pekerja diwajibkan mengenakan perlengkapan lengkap, mulai dari sarung tangan hingga penutup kepala. Area produksi juga dipisahkan berdasarkan fungsi agar proses pengolahan tetap higienis.

“Saya berdiri bersama para koki untuk memastikan tidak ada satu kesalahan pun,” tuturnya.