Seorang warga mengumpulkan mainan cucunya yang berserakan di sekitar rumahnya setelah terkena serangan udara Rusia di kota Kostiantynivka, wilayah Donetsk, Ukraina, pada 9 Februari 2025. Foto: Reuters/Anatolii Stepanov
JAKARTA, (ERAKINI) - Perang Rusia-Ukraina terus mencekam di tengah upaya Presiden AS Donald Trump mengakhiri konflik militer yang sudah berlangsung lebih dari tiga tahun itu. Terbaru, Rusia membombardir cangkang pelindung Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Chornobyl di wilayah Kyiv, Jumat (14/2/2025),
PLTN Chornobyl merupakan lokasi kecelakaan nuklir terburuk di dunia pada tahun 1986. Serangan drone Rusia yang dilengkapi hulu ledak itu berlangsung hanya beberapa jam sebelum Wakil Presiden AS JD Vance bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Munich, Jerman.
Meskipun serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada cangkang pelindung reaktor, baik Zelenskyy maupun badan atom PBB mengonfirmasi bahwa tingkat radiasi di lokasi tersebut tetap stabil dan tidak mengalami perubahan signifikan.
Zelenskyy, yang berada di Munich untuk menghadiri Konferensi Keamanan, mengecam serangan itu sebagai “sambutan yang sangat jelas dari Putin dan Federasi Rusia pada konferensi keamanan”.
Sementara itu, Kremlin menanggapi tuduhan Ukraina dengan membantah bahwa serangan tersebut merupakan "provokasi", dan malah menuduh Kyiv telah melancarkan serangan artileri terhadap pembangkit listrik tenaga panas yang dikuasainya di Ukraina selatan, dekat dengan PLTN Zaporizhzhia, yang menyebabkan kerusakan kritis pada infrastruktur energi.
Presiden Zelenskyy pada prinsipnya menyatakan kesiapan Ukraina melakukan pembicaraan langsung dengan Rusia untuk mengakhiri perang. Namun Zelenskyy menegaskan Ukraina membutuhkan "jaminan keamanan" sebelum melanjutkan negosiasi.
“Kami siap melakukan pembicaraan apa pun dengan Amerika dan sekutu kami,” katanya di Munich sebelum mengadakan pembicaraan dengan JD Vance, dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (15/2/2025).
Sesaat sebelum duduk bersama JD Vance, Zelensky mengatakan, dia hanya akan setuju bertemu langsung dengan Presiden Putin setelah rencana bersama dinegosiasikan dengan Presiden AS Donald Trump.
“Kami sangat menginginkan perdamaian. Tetapi kami membutuhkan jaminan keamanan yang nyata,” tegas Zelenskyy.
Namun, pertemuan sekitar 40 menit antara Vance dan Zelenskyy itu tidak menghasilkan kesepatan besar sebagai jalan keluar dari perang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II.
Zelensky pun menyinggung bahwa AS, termasuk pemerintahan mantan Presiden Joe Biden, tidak pernah melihat Ukraina sebagai anggota NATO.
Vance sendiri mengatakan pemerintahan Trump berkomitmen untuk mencapai perdamaian abadi antara Ukraina dan Rusia. Awal pekan ini, Trump sudah mengubah dukungan setia AS terhadap Ukraina selama bertahun-tahun dengan melakukan panggilan telepon dengan Putin. Setelah itu Trump mengatakan kedua pemimpin kemungkinan akan segera bertemu untuk merundingkan perjanjian perdamaian.
Pada hari yang sama, beberapa pemimpin dunia mengadakan Konferensi Keamanan di Munich. Dalam forum itu Zelenskyy menyerukan agar AS dan Eropa bersatu mendukung Ukraina dalam perang melawan Rusia.
Pertemuan itu juga dihadiri pemimpin partai konservatif Friedrich Merz yang diperkirakan akan menjadi kanselir Jerman berikutnya.
“Jalan menuju perdamaian abadi hanya bisa berhasil jika ada koordinasi yang erat antara Amerika dan Eropa,” kata Merz di sela-sela konferensi.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock menyatakan keprihatinannya mengenai usulan pemerintahan Trump untuk mengembalikan Rusia ke dalam kelompok 7 ekonomi dunia (G7).
“Sebagai mitra G7, kami telah berulang kali menegaskan selama tiga tahun terakhir setelah invasi brutal skala penuh Rusia ini, tidak ada kerja sama yang normal dengan Rusia,” tegas Baerbock.