Mesir, Yordania, Qatar dan Saudi Kecam Perampasan Tanah di Suriah oleh Israel, Sebut Pelanggaran Hukum Internasional
Akhmad Baihaqi Arsyad


Mesir, Yordania, Qatar dan Arab Saudi mengutuk langkah Israel yang melakukan invasi Zionis untuk merebut tanah Suriah. Mereka menyebut invasi Israel tersebut adalah pelanggaran hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Qatar mengecam dengan mengatakan, “Ini perkembangan yang berbahaya dan serangan terang-terangan terhadap kedaulatan dan persatuan Suriah, serta pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional."
Selain itu, Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi juga memberi kecaman serupa dengan menyatakan: "Israel telah memanfaatkan kekosongan di Suriah untuk menduduki lebih banyak wilayah Suriah dan memaksakan realitas baru di lapangan yang melanggar hukum internasional."
Perebutan zona penyangga di Dataran Tinggi Golan oleh Israel menunjukkan tekad Zionis untuk menyabotase peluang Suriah dalam memulihkan stabilitas, kata Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Al Arabiya, Selasa (10/12/2024).
Kemlu Saudi mengecam apa yang dikritik PBB sebagai pelanggaran perjanjian pemisahan tahun 1974 antara Suriah dan Israel. "Pengambilalihan itu menegaskan pelanggaran Israel yang berkelanjutan terhadap hukum internasional dan komitmennya untuk menyabotase peluang Suriah untuk mendapatkan kembali keamanan, stabilitas, dan integritas teritorialnya," kata kementerian tersebut.
Sementara itu, Riyadh meminta masyarakat internasional untuk mengutuk keputusan Israel dan mendesak penghormatan terhadap kedaulatan Suriah."Golan adalah tanah Suriah yang diduduki," imbuh Kementerian Luar Negeri Arab Saudi.
Sebelumnya telah diberitakan bahwa Israel telah memanfaatkan momen runtuhnya rezim pemerintah Presiden Bashar al-Assad dan langsung melakukan invasi militer ke Suriah. Pasukan Israel telah dipindahkan ke zona penyangga demiliterisasi di Dataran Tinggi Golan yang diduduki pada hari Minggu (8/12/2024) usai pasukan oposisi merebut Damaskus serta Assad yang telah melarikan diri ke Rusia.
Melansir AP, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dalam sebuah pernyataan video dari wilayah tersebut, mengatakan bahwa perjanjian Israel-Suriah tahun 1974 untuk membangun jalur demiliterisasi telah secara efektif runtuh begitu pasukan Suriah meninggalkan posisi mereka.
Pada hari Senin (9/12/2024), militer Israel bergerak ke zona penyangga dan memasuki wilayah Suriah dalam sebuah operasi. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz mengatakan operasi ini dimaksudkan untuk menciptakan wilayah keamanan baru yang bebas dari senjata strategis berat dan infrastruktur teroris.




