TEHERAN, (ERAKINI) - Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran meluncurkan gelombang rudal terbaru ke wilayah Israel pada Selasa (24/3/2026). Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS, Donald Trump, mengklaim adanya perkembangan positif dalam upaya diplomasi, klaim yang langsung dibantah oleh Teheran.
Trump sebelumnya menyebut pembicaraan dengan pihak Iran berjalan ‘sangat baik’ dan bahkan mengisyaratkan adanya peluang kesepakatan dalam waktu dekat. Ia juga memperingatkan bahwa jika dalam lima hari tidak ada hasil konkret, Amerika Serikat akan melanjutkan serangan besar-besaran.
Spekulasi mengenai jalur komunikasi ini mengarah pada nama Mohammad Bagher Qalibaf, tokoh penting Iran yang disebut sebagai pihak yang dihubungi. Bahkan, muncul laporan bahwa utusan AS seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner berpotensi bertemu delegasi Iran dalam waktu dekat, kemungkinan di Pakistan.
Namun, pihak Iran dengan tegas menolak narasi tersebut. Selain Qalibaf, juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa meski ada pesan dari negara-negara perantara, tidak ada negosiasi langsung yang berlangsung dengan Washington.
Di tengah tarik-ulur diplomasi, konflik justru semakin panas. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan negaranya akan terus melanjutkan operasi militer terhadap Iran dan sekutunya demi menjaga keamanan nasional.
Di lapangan, serangan rudal Iran dilaporkan menyebabkan kerusakan bangunan di wilayah utara Israel, meskipun belum ada laporan korban jiwa. Sementara itu, Israel juga meningkatkan serangan udara di Beirut selatan, memperluas konflik dengan kelompok Hezbollah di Lebanon.
Situasi ini semakin diperumit oleh ancaman balasan Iran, termasuk kemungkinan penutupan Strait of Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Jika itu terjadi, dampaknya bisa sangat besar terhadap ekonomi global.
Kepala International Energy Agency, Fatih Birol, bahkan memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat memicu krisis energi yang lebih parah dibandingkan gabungan krisis minyak era 1970-an dan perang di Ukraina.
Harga minyak sempat menembus angka 100 dolar per barel sebelum turun kembali setelah pernyataan Trump. Pasar global pun bereaksi cepat, bursa saham di Asia, Eropa, hingga Wall Street menguat, mencerminkan harapan akan solusi diplomatik meski situasi di lapangan terus memburuk.
Di sisi militer, Amerika Serikat juga meningkatkan kehadirannya dengan mengirim ribuan marinir ke kawasan. Langkah ini memicu spekulasi tentang kemungkinan operasi yang lebih besar, termasuk upaya membuka jalur Hormuz secara paksa.
Dengan korban jiwa yang terus bertambah, ribuan orang dilaporkan tewas di Iran dan lebih dari satu juta mengungsi di Lebanon, konflik ini kini bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga ancaman serius bagi stabilitas global.