DUBAI, (ERAKINI) - Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyampaikan sikap tegas negaranya dalam menjaga kedaulatan, khususnya terkait kemampuan nuklir dan sistem rudal yang dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari kekuatan nasional.
Dalam pernyataan resmi yang disiarkan televisi pemerintah, Khamenei menekankan bahwa seluruh capaian strategis Iran merupakan simbol identitas dan kebanggaan rakyat. Ia menyampaikan, “Sembilan puluh juta warga Iran yang bangga dan terhormat… menganggap semua kemampuan Iran… hingga kemampuan nuklir dan rudal, sebagai aset nasional, dan akan melindunginya sebagaimana mereka melindungi perairan, daratan, dan wilayah udara negara.”
Pernyataan ini muncul di tengah upaya tekanan internasional, termasuk dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kembali mendorong kesepakatan terkait program strategis Iran. Namun, Teheran menunjukkan bahwa mereka tidak akan dengan mudah mengorbankan kepentingan nasionalnya.
Khamenei juga menyampaikan pesan keras terkait kehadiran kekuatan asing di kawasan Teluk. Ia menyindir dominasi militer Amerika dengan mengatakan bahwa satu-satunya tempat bagi mereka adalah “di dasar perairannya,” sembari menegaskan kendali Iran atas jalur vital seperti Selat Hormuz.
Lebih jauh, ia menggambarkan visi kawasan yang mandiri dan bebas dari intervensi luar. “Dengan pertolongan dan kekuatan Tuhan, masa depan cerah kawasan Teluk Arab akan menjadi masa depan tanpa Amerika,” ujarnya, menegaskan optimisme Iran terhadap kemandirian regional yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakatnya.
Menurutnya, negara-negara di sekitar Teluk memiliki nasib yang saling terhubung, dan tidak membutuhkan campur tangan pihak luar yang datang dengan kepentingan sempit. “Orang asing yang datang dari ribuan kilometer jauhnya… tidak memiliki tempat di sana — kecuali di dasar perairannya,” tambahnya.
Di sisi lain, Amerika Serikat dilaporkan tengah mendorong pembentukan koalisi internasional guna mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz, menyusul kekhawatiran global atas stabilitas pasokan energi. Rencana tersebut dikenal dengan nama Maritime Freedom Construct (MFC), yang digagas sebagai kerangka keamanan maritim pascakonflik.
Sejumlah negara Barat seperti Prancis dan Inggris disebut mulai berdiskusi terkait kemungkinan keterlibatan, meskipun mereka menegaskan bahwa langkah konkret baru akan diambil setelah situasi konflik mereda.
Di tengah dinamika ini, Iran tetap menunjukkan posisi yang kokoh: mempertahankan kedaulatan, menjaga aset strategis, dan menolak tekanan eksternal. Sikap ini memperlihatkan bahwa Teheran tidak hanya bertahan, tetapi juga percaya diri dalam menentukan arah masa depannya sendiri.