Ribuan orang berkumpul di Kota Bani Walid dalam pemakaman mendiang penguasa Libya Muammar Gaddafi, Saif al-Islam Gaddafi, yang tewas ditembak pada pekan ini. (Foto: AFP).
LIBYA, (ERAKINI) - Ribuan warga memadati Kota Bani Walid, , untuk menghadiri prosesi pemakaman Gaddafi, putra paling menonjol dari mendiang penguasa , yang pada pekan ini. Aparat keamanan kini tengah melakukan penyelidikan intensif atas pembunuhan tokoh kontroversial tersebut.
Upacara pemakaman digelar pada Jumat di Bani Walid, yang terletak sekitar 175 kilometer di selatan Tripoli. Hampir 15 tahun setelah Muammar Gaddafi digulingkan dan tewas dalam pemberontakan tahun 2011 yang didukung NATO, ribuan pendukung setia keluarga Gaddafi kembali berkumpul untuk mengenang sosok yang pernah dipandang sebagai pewaris kekuasaan rezim lama.
Saif al-Islam Gaddafi dilaporkan meninggal dunia pada Selasa lalu di kediamannya di Kota Zintan, wilayah barat laut Libya. Dalam pernyataan resmi, pihak kantornya menyebut ia tewas akibat “konfrontasi langsung” setelah empat pria bersenjata tak dikenal menerobos masuk ke rumahnya.
Kantor Jaksa Agung Libya mengonfirmasi bahwa tim penyelidik bersama dokter forensik telah memeriksa jenazah pria berusia 53 tahun tersebut. Hasil awal menyimpulkan bahwa kematiannya disebabkan oleh luka tembak. Hingga kini, aparat masih berupaya mengidentifikasi dan memburu para pelaku.
“Kami datang untuk mengiringi kepergian orang yang kami cintai, putra pemimpin kami, sosok tempat kami menggantungkan harapan dan masa depan,” ujar Waad Ibrahim (33), warga Sirte yang menempuh perjalanan hampir 300 kilometer menuju Bani Walid.
Saif al-Islam Gaddafi selama bertahun-tahun kerap disebut sebagai perdana menteri de facto di bawah pemerintahan otoriter ayahnya yang berkuasa selama empat dekade. Meski tidak pernah memegang jabatan resmi, ia membangun citra sebagai wajah moderat dan reformis rezim Gaddafi.
Ia sempat menjadi figur kunci dalam upaya Libya melepaskan diri dari kepemilikan senjata pemusnah massal, serta terlibat dalam perundingan kompensasi bagi keluarga korban tragedi pengeboman Pan Am Flight 103 di Lockerbie, Skotlandia, pada 1988.
Namun, reputasi tersebut runtuh saat gelombang pemberontakan melanda Libya pada 2011. Saif al-Islam kala itu mengeluarkan ancaman akan menumpahkan “lautan darah” untuk mempertahankan kekuasaan, pernyataan yang berujung pada penangkapannya. Mahkamah Pidana Internasional kemudian mengeluarkan surat perintah penahanan terhadapnya atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Pada 2021, ia kembali mencuri perhatian dengan menyatakan niat maju sebagai calon presiden Libya. Pemilu yang diharapkan menjadi jalan keluar untuk menyatukan negara di bawah kesepakatan Perserikatan Bangsa-Bangsa itu, hingga kini masih tertunda tanpa kejelasan.
Libya sendiri masih terpecah secara politik, dengan pemerintahan Perdana Menteri Abdul Hamid Dbeibah yang diakui PBB dan berbasis di Tripoli berhadapan dengan otoritas tandingan di wilayah timur yang didukung oleh Khalifa Haftar.
Kematian Saif al-Islam Gaddafi, yang oleh sebagian kalangan dianggap sebagai alternatif dari dominasi dua kekuatan utama tersebut, terjadi kurang dari sepekan setelah laporan pertemuan pada 28 Januari di Istana Élysée, Prancis. Pertemuan itu disebut mempertemukan putra Haftar dengan para penasihat Dbeibah, menandai dinamika politik Libya yang masih sarat intrik dan ketidakpastian.