Blokade total Israel terhadap Gaza yang telah memasuki hari ke-60 ini menjadikan bantuan makanan, air atau pasokan medis tak diizinkan masuk ke Jalur Gaza sejak 2 Maret. Hal ini memperparah krisis kelaparan di daerah kantong pantai tersebut. (Foto: Al Jazeera)
GAZA, (ERAKINI) – Badan pengungsi Palestina PBB (UNRWA) mengatakan hampir 3.000 truk bantuanmenumpuk di perbatasan . Ribuan tersebut tidak dapat menyeberang karena yang telah berlangsung selama 2 bulan.
Sementara itu, pada Kamis (1/5/2025) pagi ini Israel memusatkan serangannya di Gaza tengah dan selatan, di daerah Deir el-Balah dan al-Mawasi, sebagaimana dilansir dari Al Jazeera.
Blokade total Israel terhadap Gaza yang telah memasuki hari ke-60 ini menjadikan bantuan makanan, air atau pasokan medis tak diizinkan masuk ke Jalur Gaza sejak 2 Maret. Hal ini memperparah krisis kelaparan di daerah kantong pantai tersebut.
Blokade yang terus berlanjut ini merupakan penutupan terlama yang pernah dialami Jalur Gaza, dan terjadi ketika pasukan Israel terus membombardir wilayah tersebut, menewaskan sedikitnya 30 warga Palestina pada hari Rabu (30/4/2025).
Hal ini memicu peringatan akan bencana kelaparan, dengan dapur amal yang tersisa di seluruh Jalur Gaza memperingatkan bahwa mereka mungkin harus tutup dalam beberapa hari jika bantuan tidak diizinkan masuk.
"Kami memiliki 70-80 dapur umum yang masih beroperasi di Gaza … Dalam empat hingga lima hari, dapur umum ini akan tutup," kata Amjad Shawa, direktur Jaringan LSM Palestina (PNGO) di Gaza, kepada kantor berita Reuters.
Shawa menyebutkan jumlah dapur umum yang beroperasi di Gaza sebelum penyeberangan ditutup sekitar 170. Ia mengatakan 15 dapur tambahan ditutup pada hari Senin.
Sejak 2 Maret, Israel telah melarang semua pasokan, termasuk makanan, air, dan obat-obatan memasuki Gaza, dalam upaya untuk memaksa Hamas merundingkan kembali kesepakatan gencatan senjata yang disepakati pada bulan Januari.
Israel ingin kelompok Palestina itu membebaskan tawanan Israel yang masih ditahan di Gaza dengan imbalan bantuan kemanusiaan, perpanjangan gencatan senjata, dan lebih banyak tahanan Palestina yang ditahan di penjara Israel.
Namun Hamas bersikeras pada komitmen Israel untuk gencatan senjata permanen, dengan mengatakan bahwa "kesepakatan parsial" apa pun akan memungkinkan Israel untuk melanjutkan pembunuhan di Gaza.
Perang Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 52.400 warga Palestina dan melukai 118.014 orang, menurut Kementerian Kesehatan daerah kantong itu. Kantor Media Pemerintah Gaza memperbarui jumlah korban tewas menjadi lebih dari 61.700, dengan mengatakan ribuan orang yang hilang di bawah reruntuhan diduga tewas. Diperkirakan 1.139 orang tewas di Israel selama serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, dan lebih dari 200 orang ditawan.