Penelitian terbaru mengungkap sekitar 400 juta orang di dunia kini menderita Covid-19 jangka panjang. Foto: Ilustrasi/Dok
NEW YORK CITY, (ERAKINI) - Dampak pandemiCovid-19 ternyata masih mengerikan. Penelitian terbaru mengungkap sekitar 400 juta orang di dunia kini menderita Covid-19 jangka panjang.
Menurut sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine pada Jumat (9/8/2024), menunjukkan berbagai dampak ekonomi dari kondisi pandemi tersebut.
Mulai dari biaya layanan kesehatan dan hilangnya produktivitas akibat pasien yang tidak dapat kembali bekerja. Dampaknya diperkirakan mencapai USD1 triliun setiap tahunnya. Jumlah ini setara dengan satu persen dari ekonomi global.
Empat tahun setelah virus mematikan ini pertama kali muncul di China, penelitian ini berupaya merangkum pengetahuan mengenai Covid-19 jangka panjang dan dampaknya di seluruh dunia.
Kepala Penelitian dan Pengembangan di VA St Louis Health Care System dan Epidemiolog Klinis di Universitas Washington di St Louis, Ziyad Al-Aly, mengungkapkan bahwa penelitian ini bertujuan untuk memetakan kebijakan dan prioritas penelitian terkait Covid-19 jangka panjang.
Al-Aly bekerja sama dengan sejumlah peneliti terkemuka di bidang Covid-19 jangka panjang dan tiga pemimpin dari Patient-Led Research Collaborative, sebuah organisasi yang dibentuk oleh pasien Covid-19 jangka panjang yang juga merupakan peneliti profesional.
Hasil penelitian juga menemukan bahwa sekitar enam persen orang dewasa di seluruh dunia telah mengalami Covid-19 jangka panjang, dan banyak di antara mereka yang belum sepenuhnya pulih.
Pengobatan untuk kondisi ini tetap menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh sistem kesehatan global.
Kebangkitan Virus Varian Baru
Di sisi lain, kebangkitan penyebaran varian bari virus ini kembali menjadi kekhawatiran. Di Korea Selatan, otoritas kesehatan negara setempat melaporkan pada Jumat (9/8/2024) bahwa jumlah pasien rawat inap akibat Covid-19 mengalami peningkatan tajam.
Saat ini, sebanyak 861 orang dirawat di 220 rumah sakit. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak awal Februari. Menurut Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA), jumlah pasien rawat inap ini melonjak signifikan dari 148 pada pekan kedua Juli, meningkat menjadi 226 pada pekan ketiga, dan mencapai 475 pada pekan berikutnya.
Otoritas kesehatan memperkirakan tren peningkatan ini akan berlanjut hingga akhir bulan Agustus. Gelombang terbaru ini dipicu oleh subvarian KP.3 dari varian omicron yang menyebar dengan cepat. Varian baru ini dilaporkan menyumbang 45,5 persen dari total kasus Covid-19 pada bulan Juli.
Dari total pasien rawat inap bulan ini, sekitar 65,2 persen berusia 65 tahun ke atas, sementara 18,1 persen berusia antara 50 hingga 64 tahun.
Kepala KDCA, Jee Young-mee, mengingatkan bahwa risiko infeksi saluran pernapasan meningkat di musim panas, terutama karena ventilasi yang tidak memadai di tempat-tempat dalam ruangan dan peningkatan interaksi antarindividu selama liburan.
Pihak berwenang terus memantau situasi ini dan mendorong masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi penularan Covid-19.