Presiden China Xi Jinping (kiri) berbincang dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron (kanan) sebelum mengikuti sesi pembukaan KTT G20 Indonesia 2022 di Nusa Dua, Bali, Selasa (15/11/2022). (Foto: Antara /Media Center G20 Indonesia/Galih Pradipta/wsj)
ISTANBUL, (ERAKINI) - Presiden ChinaXi Jinping dan Presiden PrancisEmmanuel Macron membahas konflik -. Keduanya menekankan bahwa harus diwujudkan guna mengakhiri yang kini sedang meningkat. Pembahasan tersebut dilakukan oleh kedua pemimpin negara melalui sambungan telepon, Senin (20/11/2023).
Xi Jinping dan Macron meyakini bahwa prioritas utama saat ini adalah bagaimana mencegah konflikPalestina-Israel semakin buruk, sebagaimana pernyataan yang disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri China.
Pembahasan melalui telepon itu merupakan yang pertama kalinya dilakukan Xi dengan kepala negara atau kepala pemerintahan suatu negara setelah ia berkunjung ke Amerika Serikat pekan lalu. Xi Jinping, dalam kunjungan di Amerika Serikat, melakukan pertemuan dengan Presiden AS Joe Biden.
Sebelumnya, Xi dan Macron sebelumnya juga sudah membahas perang Gaza, yaitu pada kesempatan santap siang di San Francisco, AS, Rabu (14/11/2023) pekan lalu. Sementara pada Senin (20/11/2023) di Beijing, Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyelenggarakan pertemuan para menteri luar negeri negara-negara Muslim.
Pada pertemuan itu, Yu menekankan kepentingan soal perwujudan gencatan senjata di Jalur Gaza. Israel selama ini menepis seruan untuk melakukan gencatan senjata sampai kelompok Palestina, Hamas, mau membebaskan para tawanan.
Menurut pernyataan tersebut, Xi dan Macron sepakat untuk melanjutkan komunikasi menyangkut masalah-masalah internasional dan kawasan yang menjadi perhatian bersama, serta berkontribusi dalam menjaga perdamaian dan stabilitas dunia,
Sejak Israel mulai membombardir Gaza pada 7 Oktober usai serangan Hamas, sudah lebih dari 13.000 warga Palestina yang terbunuh, menurut data-data terbaru yang dikeluarkan oleh pihak berwenang Palestina. Jumlah korban jiwa 13.000 itu termasuk lebih dari 9.000 perempuan dan anak. Sementara menurut data-data resmi, jumlah korban jiwa di pihak Israel tercatat 1.200 orang.
Selain itu, menurut data tersebut, ada lebih dari 30.000 orang yang mengalami luka. Ribuan gedung, termasuk rumah sakit, masjid, dan gereja, mengalami kerusakan atau hancur karena digempur Israel dari udara maupun darat.
Blokade yang dilancarkan Israel terhadap Gaza juga telah menyebabkan layanan bahan bakar, listrik, dan air di wilayah itu terputus. Selain itu, penyaluran bantuan juga dibatasi.