Ribuan orang berkumpul di Alun-Alun Republique, Paris, usai pemungutan suara putaran kedua pemilu legislatif, Minggu, 7 Juli 2024. Foto AP/Louise Delmotte
PARIS, (ERAKINI) - Pemilu Legislatif Prancis 2024 putataran kedua membuat kejutan dengan keunggulan koalisi sayap kiri, yang dikenal sebagai Front Populer Baru. Hasil exit pool atau jajak pendapat menyebutkan koalisi sayap kiri meraih kursi terbanyak, disusul sayap tengah dan sayap kanan.
Partai-partai sayap kiri Perancis yang dibentuk untuk pemilu cepat akan menjadi blok parlemen terbesar dan mengalahkan partai sayap kanan dan koalisi .
Hanya, tidak ada satu kelompok yang meraih kemenangan mutlak dalam pemungutan suara putaran kedua hari Minggu, sehingga membuat Prancis terjerumus ke dalam ketidakpastian politik. Sebab tidak ada kekuatan yang jelas untuk membentuk pemerintahan baru dua hari sebelum pertemuan puncak NATO dan tiga minggu sebelum Olimpiade Paris.
Koalisi sayap tengah Presiden Emmanuel Macron sementara menempati posisi kedua, diikuti oleh sayap kanan yang dipimpin oleh Marine Le Pen di posisi ketiga. Pemimpin sayap kanan, Marine Le Pen, dalam tanggapannya menyatakan kekhawatirannya bahwa Prancis akan menghadapi jalan buntu politik dengan terpecahnya kekuatan di Majelis Nasional tanpa adanya mayoritas yang jelas. Tapi dia tetap optimistis bahwa Partai Reli Nasional dapat memperoleh mayoritas dalam waktu setahun ke depan.
Hasil putaran kedua Pemilu Legislatif yang berlangsung Minggu (7/7/2024) waktu setempat, telah menjadi kejutan bagi koalisi sayap kanan, yang beberapa jam sebelumnya tampak siap membuat sejarah untuk berkuasa untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II.
Le Pen sendiri diperkirakan akan kembali mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2027. Sebab Macron tidak bisa mencalonkan diri lagi, namun ia berjanji akan tetap menjabat hingga akhir masa jabatannya.
Mengutip AP, pada hari Minggu Place de la Republique di Paris dipenuhi ribuan pendukung partai-partai politik berbagai spektrum untuk menanti hasil jejak pendapat pemilu putaran kedua. Mereka berkumpul untuk menanti hasil akhir. Kembang api dan sorak sorai memenuhi udara ketika proyeksi pertama diumumkan.
Kerumunan semakin meningkat di alun-alun Republique, tempat berkumpulnya kaum sayap kiri Prancis. Hal ini disambut dengan sorak-sorai setelah proyeksi mengejutkan menunjukkan koalisi sayap kiri unggul dalam pemilihan legislatif dan sayap kanan berada di posisi ketiga.
Koalisi Front Populer Baru, yang terdiri dari partai-partai seperti Partai Sosialis, Komunis Perancis, dan France Unbowed, membentuk aliansi sebagai respons terhadap spekulasi bahwa sayap kanan yang dipimpin oleh Partai Nasional bisa meraih kemenangan bersejarah. Nama Front Populer Baru sendiri diambil dari koalisi serupa pada 1930-an yang melawan gerakan fasisme di Prancis.
Sebelum pemungutan suara, para pemimpin aliansi tersebut telah menjanjikan dukungan kuat untuk Ukraina serta berbagai kebijakan domestik yang progresif, termasuk peningkatan upah minimum dan kebijakan ekonomi untuk meningkatkan daya beli masyarakat.
Di tengah ketidakpastian politik ini, Perdana Menteri Gabriel Attal mengumumkan akan segera menyerahkan pengunduran dirinya, meskipun akan tetap menjabat selama Olimpiade Paris.
Proses politik selanjutnya diprediksi akan rumit, dengan negosiasi intens untuk memilih perdana menteri baru dan membentuk pemerintahan yang stabil.
Presiden Emmanuel Macron berisiko untuk berbagi kekuasaan dengan perdana menteri yang mungkin memiliki pandangan yang berlawanan terhadap kebijakan pro-bisnis dan pro-Uni Eropa yang dianutnya.
Jordan Bardella dari Partai Nasional sayap kanan diperkirakan akan menjadi perdana menteri termuda di Prancis. Kini, tokoh berusia 28 tahun itu masih mengklaim perolehan bersejarah bagi partainya setelah proyeksi jajak pendapat yang mengejutkan menempatkan kelompok sayap kanan di posisi ketiga.
Dalam pidatonya yang suram, Bardella menyalahkan Macron karena mendorong Prancis ke dalam ketidakpastian dan ketidakstabilan.
Ia juga mengecam manuver politik yang menyebabkan Rapat Umum Nasional tidak memenuhi harapan, meskipun jumlah kursi di parlemen masih meningkat ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Jumlah kandidat yang memenuhi syarat untuk putaran kedua dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya menyingkir untuk memungkinkan lawan berhadapan langsung dengan kandidat Reli Nasional, sehingga meningkatkan peluang untuk mengalahkan mereka.