DUBAI, (ERAKINI) - Ketegangan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan perang melawan Iran bisa berakhir lebih cepat dari perkiraan. Namun di sisi lain, pemerintah Teheran menegaskan bahwa merekalah yang akan menentukan kapan konflik tersebut benar-benar berakhir.
Pernyataan Trump disampaikan pada Senin (9/3/2026) dalam konferensi pers di Doral, Florida. Ia memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap meningkatkan serangan jika Iran mencoba menghalangi pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah.
Trump juga mengklaim militer AS telah memberikan kerusakan besar terhadap kekuatan udara dan laut Iran. Meski sebelumnya memperkirakan perang dapat berlangsung hingga empat minggu, ia kini menilai konflik bisa selesai jauh lebih cepat, meskipun belum menjelaskan seperti apa bentuk kemenangan yang dimaksud.
Ia menegaskan bahwa Washington akan merespons keras jika Iran berupaya memblokir jalur kapal tanker di Selat Hormuz, rute penting yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia. “Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras sehingga tidak mungkin bagi mereka atau siapa pun yang membantu mereka untuk merebut kembali wilayah itu,” kata Trump.
Iran Tegaskan Tidak Akan Mundur
Sebagai tanggapan, pasukan elit Iran dari Islamic Revolutionary Guard Corps menyatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan ekspor minyak keluar dari kawasan tersebut apabila serangan dari AS dan Israel terus berlanjut.
Juru bicara Garda Revolusi Iran mengatakan bahwa pihaknya yang akan menentukan akhir konflik tersebut. “Kami yang akan menentukan kapan perang ini berakhir,” ujarnya seperti dikutip media pemerintah Iran.
Ketegangan ini semakin memicu gejolak di pasar global. Harga minyak melonjak tajam sementara pasar saham sempat anjlok, sebelum kembali stabil setelah muncul spekulasi bahwa perang mungkin akan segera mereda.
Konflik juga terjadi di tengah perubahan kepemimpinan di Iran setelah kematian Ali Khamenei akibat serangan Israel pada hari pertama perang. Posisi pemimpin tertinggi kemudian dipegang oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Ulama Syiah berusia 56 tahun itu diketahui memiliki dukungan kuat dari aparat keamanan serta jaringan ekonomi yang terkait dengan mereka. Namun Trump menyatakan kepemimpinan Mojtaba tidak dapat diterima oleh Washington dan kembali menuntut Iran menyerah tanpa syarat.
Media pemerintah Iran menampilkan kerumunan besar di berbagai kota yang menunjukkan dukungan terhadap pemimpin baru tersebut. Warga membawa bendera nasional dan potret Ali serta Mojtaba Khamenei.
Di kota Isfahan, siaran televisi pemerintah bahkan melaporkan suara ledakan yang diduga berasal dari serangan udara saat para pendukung berkumpul di Lapangan Imam sambil meneriakkan slogan religius.
Namun di kalangan masyarakat Iran sendiri muncul perbedaan pandangan. Sebagian warga mendukung kepemimpinan baru tersebut, sementara yang lain khawatir perubahan itu akan menghilangkan peluang reformasi politik.
Jalur Minyak Dunia Terganggu
Perang yang sedang berlangsung juga berdampak besar pada pasar energi global. Konflik tersebut secara efektif menutup jalur penting di Selat Hormuz, yang menjadi rute utama pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dunia.
Banyak kapal tanker terpaksa berhenti beroperasi selama lebih dari satu minggu, sementara sejumlah negara produsen menghentikan sementara produksi karena kapasitas penyimpanan penuh.
Harga minyak mentah Brent sempat melonjak sekitar tujuh persen dan mencapai level tertinggi sejak 2022 sebelum kembali turun pada perdagangan setelahnya. Pemangkasan pasokan oleh negara-negara anggota OPEC, termasuk Arab Saudi, turut memperburuk kekhawatiran pasar.
Lonjakan harga energi menjadi isu sensitif di Amerika Serikat menjelang pemilihan paruh waktu pada November. Survei yang dilakukan oleh Reuters dan Ipsos menunjukkan sekitar 67 persen warga Amerika memperkirakan harga bensin akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang, sementara hanya 29 persen yang mendukung perang tersebut.
Situasi di lapangan juga semakin memanas. Di Iran, asap hitam terlihat membumbung setelah sebuah kilang minyak terkena serangan. Kepala World Health Organization, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan bahwa kebakaran tersebut dapat mencemari udara, air, dan sumber pangan.
Sementara, itu, Turki melaporkan sistem pertahanan udara NATO menembak jatuh rudal balistik yang ditembakkan dari Iran dan memasuki wilayah udara Turki. Militer Israel juga mengumumkan serangan baru di wilayah Iran tengah serta operasi di Beirut, Lebanon setelah kelompok milisi Hezbollah meluncurkan serangan lintas perbatasan.
Menurut duta besar Iran untuk PBB, serangan AS dan Israel sejauh ini telah menewaskan sedikitnya 1.332 warga sipil Iran dan melukai ribuan lainnya. Di Lebanon, lebih dari 400 orang dilaporkan tewas dan hampir 700.000 warga mengungsi dari rumah mereka.
Di Israel sendiri, petugas medis melaporkan satu pria tewas akibat pecahan peluru di lokasi konstruksi dekat Bandara Internasional Ben Gurion di Tel Aviv, sehingga total korban tewas akibat serangan Iran di negara itu meningkat menjadi 11 orang.