Israel pada tanggal 18 Maret melancarkan serangan paling gencarnya ke Jalur Gaza sejak gencatan senjata pada bulan Januari. Hamas menuduh Benjamin Netanyahu memutuskan untuk 'melanjutkan perang' setelah kebuntuan dalam perpanjangan gencatan senjata. (Foot: AFP)
GAZA, (ERAKINI) - Israel melancarkan serangan udara di Jalur Gaza Selasa (18/3/2025) pagi, menewaskan sedikitnya 413 warga Palestina, termasuk wanita dan anak-anak, menurut pejabat rumah sakit.
Pengeboman mendadak itu mengancam akan menghancurkan gencatan senjata yang telah berlaku sejak Januari dan sepenuhnya memicu kembali perang yang telah berlangsung selama 17 bulan.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa ia memerintahkan serangan itu karena kurangnya kemajuan dalam pembicaraan untuk memperpanjang gencatan senjata. Para pejabat mengatakan operasi itu tidak terbatas dan diperkirakan akan meluas.
Gedung Putih mengatakan telah diajak berkonsultasi dan menyuarakan dukungan atas tindakan Israel. "Israel, mulai sekarang, akan bertindak melawan Hamas dengan meningkatkan kekuatan militer," kata kantor Netanyahu.
Serangan mendadak itu menghancurkan periode yang relatif tenang selama bulan suci Ramadhan dan meningkatkan prospek kembalinya pertempuran sepenuhnya dalam perang selama 17 bulan yang telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina dan menyebabkan kerusakan yang meluas di seluruh Gaza.
Hal itu juga menimbulkan pertanyaan tentang nasib sekitar dua lusin sandera Israel yang ditawan oleh Hamas yang diyakini masih hidup. Seorang pejabat senior Hamas mengatakan keputusan Netanyahu untuk melanjutkan perang sama saja dengan "hukuman mati" bagi para sandera yang tersisa.
Izzat Al-Risheq menuduh Netanyahu melancarkan serangan untuk mencoba menyelamatkan koalisi pemerintahan sayap kanan dan meminta mediator untuk "mengungkapkan fakta" tentang siapa yang melanggar gencatan senjata.
Serangan itu terjadi saat Netanyahu berada di bawah tekanan domestik yang meningkat, dengan protes massal yang direncanakan atas penanganannya terhadap krisis penyanderaan dan keputusannya untuk memecat kepala badan keamanan internal Israel. Kesaksian terbarunya dalam persidangan korupsi yang telah berlangsung lama dibatalkan setelah serangan itu.
Sebuah serangan terhadap sebuah rumah di kota selatan Rafah menewaskan 17 anggota satu keluarga, termasuk sedikitnya 12 wanita dan anak-anak, menurut Rumah Sakit Eropa, yang menerima jenazah tersebut. Korbantewas termasuk lima anak, orang tua mereka, dan seorang ayah lainnya beserta tiga anaknya, menurut catatan rumah sakit.
Di kota selatan Khan Younis, wartawan Associated Press melihat ledakan dan kepulan asap. Ambulans membawa korban luka ke Rumah Sakit Nasser, tempat pasien tergeletak di lantai, beberapa berteriak. Seorang gadis muda menangis saat lengannya yang berdarah diperban.
Banyak warga Palestina mengatakan mereka telah memperkirakan akan terjadi perang lagi ketika pembicaraan mengenai fase kedua gencatan senjata tidak dimulai sesuai jadwal pada awal Februari. Israel malah menerima usulan alternatif dan menghentikan semua pengiriman makanan, bahan bakar, dan bantuan lainnya kepada 2 juta warga Palestina di wilayah itu untuk mencoba menekan Hamas agar menerimanya.
“Tidak seorang pun ingin berperang,” warga Palestina Nidal Alzaanin mengatakan kepada AP melalui telepon dari Kota Gaza. “Semua orang masih menderita karena bulan-bulan sebelumnya,” katanya.
Setidaknya 235 orang tewas dalam serangan yang terjadi pada malam hari hingga Selasa, menurut catatan dari tujuh rumah sakit. Jumlah korban tidak termasuk jenazah yang dibawa ke pusat kesehatan lain yang lebih kecil, dan tim penyelamat masih mencari korbantewas dan terluka.