Para pengungsi muda Palestina memegang lampion Ramadan saat dekorasi dipasang di samping tenda mereka di kamp pengungsi Bureij di Jalur Gaza tengah pada 15 Februari 2026, menjelang bulan suci Ramadan. (Foto: AFP).
GAZA, (ERAKINI) - Bulan suci Ramadan tiba di Gaza, namun suasana yang biasanya penuh suka cita kali ini terasa hambar. Di tengah kesepakatan gencatan senjata yang masih rapuh antara Israel dan Hamas, banyak mengaku sulit merasakan kegembiraan yang lazim menyertai datangnya bulan penuh berkah tersebut.
Bagi sebagian besar warga, luka akibat perang yang berkepanjangan masih terlalu dalam. Fedaa Ayyad, penduduk Kota Gaza, menuturkan bahwa kehilangan anggota keluarga dan orang-orang tercinta membuat Ramadan tahun ini terasa berbeda. Ia mengaku berusaha tegar, tetapi suasana batin tidak mudah dipulihkan. “Bagaimana mungkin ada kebahagiaan setelah semua kehilangan ini?” ujarnya lirih.
Melansir Arab News, hari pertama Ramadan di Gaza jatuh pada Rabu (18/2/2026). Dalam kondisi normal, bulan ini menjadi momen istimewa bagi umat Muslim untuk berpuasa dari fajar hingga matahari terbenam, mempererat silaturahmi melalui buka puasa bersama, memperbanyak ibadah, serta meningkatkan kepedulian sosial. Namun, realitas di Gaza jauh dari kata normal.
Sejak pecahnya konflik besar antara Israel dan Hamas, lebih dari 72.000 warga Palestina dilaporkan tewas menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Serangan militer Israel dilancarkan setelah serangan kelompok militan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menyandera 251 lainnya. Konflik tersebut memicu kehancuran masif dan memaksa sebagian besar penduduk Gaza mengungsi.
Di pasar-pasar Gaza, suasana Ramadan tidak lagi diramaikan oleh antusiasme belanja seperti tahun-tahun sebelumnya. Waleed Zaqzouq, warga setempat, mengeluhkan kondisi ekonomi yang kian memburuk. Ia menyebut ketiadaan pekerjaan dan perputaran uang tunai membuat masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, apalagi mempersiapkan hidangan berbuka. Menurutnya, sebelum perang, warga masih dapat hidup dengan martabat. Kini, keadaan berubah drastis dan kehidupan terasa terpuruk.
Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada 10 Oktober bertujuan menghentikan perang yang telah berlangsung lebih dari dua tahun. Meski intensitas pertempuran besar berkurang, bentrokan sporadis dan serangan udara masih terjadi hampir setiap hari. Pejabat kesehatan Gaza melaporkan ratusan korban jiwa sejak kesepakatan tersebut diberlakukan, sementara pihak Israel menyatakan serangan dilakukan sebagai respons atas ancaman keamanan dan pelanggaran yang terjadi. Empat tentara Israel dilaporkan tewas dalam periode tersebut.
Musim dingin yang keras semakin memperburuk penderitaan para pengungsi. Hujan deras membanjiri kamp-kamp darurat dan merobohkan bangunan yang telah rusak akibat perang. Cuaca ekstrem bahkan dilaporkan menyebabkan kematian sejumlah anak.
Raed Koheel, warga Kota Gaza lainnya, mengenang Ramadan sebelum konflik. Ia menyebut jalan-jalan dahulu dipenuhi lampu dan dekorasi warna-warni, sementara anak-anak menyambut bulan suci dengan wajah ceria. Tahun ini, pemandangan itu nyaris tak terlihat.
Namun, di tengah puing-puing dan keterbatasan, secercah harapan tetap diupayakan. Di Khan Younis, seorang seniman kaligrafi bernama Hani Dahman menorehkan tulisan “Selamat Datang Ramadan” di antara bangunan yang hancur. Dikelilingi anak-anak, ia berusaha menghadirkan sedikit kebahagiaan bagi masyarakat sekitar. Menurutnya, tindakan kecil tersebut adalah pesan kepada dunia bahwa warga Gaza tetap ingin hidup dan mempertahankan harapan.
Sejumlah hiasan sederhana pun dipasang di antara reruntuhan. Mohammed Taniri, warga setempat, mengatakan bahwa dekorasi itu mungkin tampak kecil, tetapi mampu membawa senyum bagi anak-anak. Di tengah segala keterbatasan dan duka, upaya menghadirkan suasana Ramadan tetap dilakukan, meski dalam bentuk yang sangat sederhana.
Ramadan di Gaza tahun ini bukan sekadar bulan ibadah. Ia menjadi simbol ketabahan, kehilangan, sekaligus harapan yang terus diperjuangkan di tengah bayang-bayang konflik yang belum sepenuhnya usai.