Hal itu disampaikan oleh Smotrich menjelang pertemuan kabinet untuk membahas tahap selanjutnya dari gencatan senjata antara Israel dan militan Hamas Palestina.
Smotrich dalam sebuah pernyataan video, Smotrich mengatakan bahwa dia akan meminta pemungutan suara dari para menteri mengenai rencana Presiden AS Donald Trump. “Israel harus mengeluarkan ultimatum yang jelas kepada Hamas–segera bebaskan semua sandera, tinggalkan Gaza menuju negara lain, dan letakkan senjata Anda (Hamas),” katanya dikutip dari Arab News, Selasa (18/2/2025).
“Jika Hamas menolak ultimatum ini, Israel akan membuka gerbang neraka,” kata Smotrich, menggemakan ungkapan yang digunakan oleh Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Smotrich yang merupakan penentang keras penghentian perang juga mengancam akan mundur dari koalisi pemerintahan Netanyahu jika perang tidak dilanjutkan setelah tahap pertama gencatan senjata berakhir.
Rencana Trump kurang rinci namun telah memicu kemarahan internasional atas seruannya untuk memukimkan kembali warga Palestina di negara lain seperti Mesir dan Yordania di bawah “pengambilalihan” Gaza oleh AS.
Smotrich mengatakan Israel harus melakukan “penaklukan total” atas wilayah tersebut.
Menurut media Israel, kabinet keamanan berkumpul pada Senin malam untuk membahas tahap kedua gencatan senjata rapuh yang dimulai pada 19 Januari.
Perang selama lebih dari 15 bulan menghancurkan atau merusak lebih dari 69 persen bangunan di Gaza, menyebabkan hampir seluruh penduduk mengungsi, dan memicu kelaparan yang meluas, menurut PBB.
“Itu mereka atau kita. Entah kita menghancurkan Hamas, atau Tuhan melarang, Hamas akan menghancurkan kita. Saya menyerukan kepada perdana menteri untuk menyatakan bahwa setelah perang berlanjut setelah Fase Satu, Israel akan, sejak hari pertama, merebut 10 persen wilayah Gaza, membangun kedaulatan penuh di sana, dan segera menerapkan hukum Israel,” tambahnya.
Selain itu, lanjut dia, harus diumumkan bahwa ketika pertempuran kembali berlanjut, semua bantuan kemanusiaan akan dihentikan sepenuhnya.
Smotrich lebih lanjut mengatakan bahwa menurut rencana yang sedang dipersiapkan, “penduduk Gaza akan diizinkan untuk pergi, tetapi hanya dalam satu arah – tanpa kemungkinan untuk kembali.”
“Hilangnya wilayah adalah satu-satunya harga yang harus dibayar oleh musuh kita – satu-satunya hal yang akan membuat mereka sadar bahwa kita serius,” tambah Smotrich.
Sejak fase pertama gencatan senjata dimulai bulan lalu, 19 sandera Israel telah dibebaskan dengan imbalan lebih dari 1.100 tahanan Palestina.
Dari 251 orang yang ditangkap dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel, yang memicu perang, 70 orang masih berada di Gaza, termasuk 35 orang yang menurut militer Israel tewas.