JAKARTA, (ERAKINI) - Penulis kenamaan, AS Laksana mengkritik keras salah satu adegan di novel ‘Balada Cinta dan Asa’ sebuah kisah perjalanan hidup calon wakil presiden nomor urut 1 Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yang terbit tahun 2023. Salah satu adegan yang dikritik yaitu ketika pembredelan majalah DeTik yang dipimpin Eros Djarot era orde baru.
Adegan itu menampilkan dialog Cak Imin dan Eros Djarot terkait pembredelan majalah DeTik oleh penguasa. , dalam dialognya mendorong agar DeTik melakukan perlawanan kepada penguasa. juga menyatakan siap menggerakan kelompok mahasiswa.
Menurut AS Laksana ada dua masalah utama di dalam adegan novel tersebut. Pertama, Eros Djarot sedang tidak ada di Jakarta pada hari pembredelan. Kedua, Cak Imin pada saat pembredelan belum bergabung dengan majalah DeTik.
“Saya agak risih membaca penulisan adegan di kantor tabloid DeTIK itu, yang menggambarkan Eros Djarot dan kawan-kawan membicarakan pembredelan. Ada dua masalah di dalamnya,” kritik AS Laksana di akun facebook pribadinya, dilihat erakini, Selasa (13/2/2024).
“Pertama, Eros Djarot sedang tidak ada di Jakarta pada hari pembredelan. Ia baru tiba beberapa hari kemudian. Kedua, pada waktu tabloid kami dibredel, Muhaimin belum bergabung dengan DeTIK,” lanjutnya.
Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mengatakan, Cak Imin memang pernah diajak main ke majalah DeTik oleh Saifullah Yusuf (Sekjen PBNU). Beberapa waktu kemudian Cak Imin bergabung dengan majalah DeTik, tetapi bukan sebagai seorang wartawan melainkan ditugaskan di Litbang.
“Ia baru betul-betul bekerja sebagai petugas litbang ketika kami kemudian menggarap Simponi, yang ternyata hanya beredar satu edisi pada 5 Oktober 1994,” ujar AS Laksana.
AS Laksana menegaskan, aksi heroik Cak Imin dengan seruan ‘Lawan!’ untuk menjawab kebingungan Eros Djarot tentang apa yang harus dilakukan tidak pernah ada sama sekali.
“Tentu orang boleh menceritakan diri sehebat mungkin, apalagi ia politisi, dan pada situasi tertentu politisi memang kadang ingin diakui sebagai hero, tetapi saya pikir tidak bagus mengarang-ngarang seperti ini untuk sebuah buku yang oleh penulisnya dinyatakan sebagai ‘true story’,” katanya lagi.
“Satu lagi, ada kalimat yang bombastis: “Muhaimin yang sudah tahu seluk-beluk dunia jurnalisme ini. Kelihatannya sampai sekarang pun Muhaimin tidak tahu seluk-beluk jurnalisme,” pungkas dia.
Berikut adegan Cak Imin dan Eros Djarot di Novel ‘Balada Cinta dan Asa’ yang dikutip AS Laksana.
Sementara itu, di kantornya, Eros Djarot sudah sekian lama menarik nafas panjang. Duduk bersamanya pengurus majalah yang lain, termasuk juga Muhaimin Iskandar. Dahi mereka berkerut-kerut sebab majalah mereka pun terkena pembredelan juga.
"Penguasa menganggap kita telah menyimpang dari tujuan awal pendirian."
Muhaimin yang sudah tahu seluk-beluk dunia jurnalisme ini, berseru, "Apa hak penguasa membredel kita? Ini majalah bukan majalah milik penguasa. Detik bukan corong penguasa pula."
"Jadi apa yang harus kita lakukan?"
"Lawan!" seru Muhaimin. "Aku bisa mengajak dan mengerahkan para mahasiswa untuk turun ke jalan."
"Kita perlu koordinasi dengan Tempo dan Editor. Kita tak boleh jalan sendiri...."
Diketahui, AS Laksana merupakan penulis kelahiran Semarang, Jawa Tengah pada 25 Desember 1968. Ia merupakan lulusan Komunikasi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ia telah menulis beberapa buku dan cerpen yang telah diterbitkan di berbagai media, salah satu karyanya berjudul Bidadari Yang Mengembara.