Kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif bertepatan dengan libur nasional peringatan Wafat Yesus Kristus (Jumat Agung). Foto: Ilustrasi
JAKARTA, (ERAKINI) – Kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif bertepatan dengan libur nasional peringatan Wafat Yesus Kristus (Jumat Agung). Masyarakat disarankan mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah.
Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada Jumat (3/4/2026) pagi pembaruan pukul 05.00 WIB, menunjukkan indeks kualitas udara (AQI) Jakarta berada di angka 115.
Angka tersebut menempatkan kualitas udara Jakarta dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, dengan konsentrasi polutan PM2,5 mencapai 41 mikrogram per meter kubik. Nilai ini sekitar 8,2 kali lebih tinggi dibandingkan panduan kualitas udara tahunan yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Sejumlah langkah pencegahan disarankan untuk mengurangi dampak paparan polusi udara. Selain mengenakan masker, masyarakat juga diimbau menghindari aktivitas luar ruangan, menutup jendela untuk mencegah masuknya udara kotor, serta menggunakan alat penyaring udara di dalam ruangan.
Dalam pemantauan yang sama, Jakarta menempati posisi kelima kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia. Posisi tersebut berada di bawah Serpong (165), Tangerang Selatan (142), Surabaya (142), dan Bandung (122).
PM2,5 merupakan partikel halus berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang melayang di udara. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat masuk ke dalam paru-paru bahkan terserap ke aliran darah saat terhirup, sehingga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan serius.
Sumber polutan PM2,5 umumnya berasal dari berbagai aktivitas, seperti pembakaran batu bara, bensin, dan diesel, pembakaran kayu, emisi kendaraan bermotor, proses industri, hingga kebakaran hutan serta konversi gas menjadi partikel.
Paparan PM2,5 dalam jangka pendek dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, batuk, nyeri dada, sesak napas, hingga memicu serangan asma.
Sementara dalam jangka panjang, paparan polutan ini dapat meningkatkan risiko penyakit pernapasan seperti bronkitis, asma, dan emfisema, serta penyakit serius lain seperti kanker, serangan jantung, stroke, hingga kematian dini.