Akbar lahir sebagai anak tunggal di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. Namun di rumah sederhana tempat ia dibesarkan, doa dan harapan ibunya tidak pernah berhenti mengalir. Foto: Dok UTU
ACEH, (ERAKINI) - Muhammad Akbar Ichtiar membuktikan bahwa doa dari seorang ibu, dan perjuangan yang tak kenal lelah, pasti membuahkan hasil manis. Kisahnya untuk meraih cita-cita dari bumi dimana matahari senja terbenam dengan indah, menuju ke Negeri Kangguru, patut menjadi .
Keterbatasan ekonomi keluarga tak menghalangi cita-cita pemuda Meulaboh, Aceh Barat, untuk menempuh pendidikan magister di salah satu kampus top dunia. Akbar lahir sebagai anak tunggal di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. Namun di rumah sederhana tempat ia dibesarkan, doa dan harapan ibunya tidak pernah berhenti mengalir.
Saat berbicara tentang sang ibu, suara Akbar sempat tercekat. Ada kenyataan yang selalu ia simpan dalam hati: ibunya adalah seorang tuna aksara. “Ibu tidak bisa baca, Pak,” kata Akbar, dikutip dari lamam resmi Universitas Teuku Umar (UTU), Senin (29/6/2026).
Akbar bercerita, sang ibu tidak pernah merasakan bangku sekolah karena himpitan ekonomi keluarga sejak kecil. Meski tak mampu membaca maupun menulis, ibunya memiliki satu keyakinan besar, yakni anaknya harus memiliki kehidupan yang lebih baik.
Sejak Akbar bersekolah di SD Negeri 19 Meulaboh, melanjutkan ke MTsN Model Meulaboh 1, hingga tamat dari SMK Negeri 1 Meulaboh, sang ibu selalu menanamkan pentingnya pendidikan.
“Bagi ibu, saya harus menjadi manusia yang lebih baik dari dirinya. Menjadi orang yang bisa membanggakan keluarga dan bermanfaat bagi orang lain,” ujar Akbar.
Pesan itu terus ia pegang ketika melanjutkan pendidikan di UTU, Aceh Barat. Ia mengambil Program Studi Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
Di kampus, Akbar bukan tipe mahasiswa yang hanya datang ke kelas lalu pulang. Ia aktif berorganisasi dan dipercaya menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Administrasi Negara (HIMADISTRA) periode 2018/2019.
Ia juga mendirikan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bahasa dan menjadi ketuanya pada periode 2019/2020. Bagi Akbar, organisasi menjadi tempat belajar menghadapi persoalan kehidupan yang nyata.
“Pelajaran paling penting dari berorganisasi di kampus adalah resiliensi. Bagaimana kita punya daya tahan saat dihantam berbagai persoalan dan mencari penyelesaian,” katanya.
Keaktifan organisasi itu berjalan seiring dengan prestasi akademik. Pada 2017, Akbar berhasil masuk 16 besar Lomba Debat Keterbukaan Informasi Publik tingkat nasional yang diselenggarakan Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia.
Setahun kemudian, ia membawa nama UTU masuk delapan besar kompetisi karya tulis ilmiah nasional yang digelar Indonesian Association for Public Administration (IAPA). Atas capaian tersebut, Akbar dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) FISIP UTU pada 2019.
Pengalaman paling membekas baginya adalah ketika mengikuti kompetisi debat tingkat nasional. Untuk pertama kalinya, ia melihat secara langsung ketatnya persaingan mahasiswa dari berbagai universitas terbaik di Indonesia.
Momen itu mengubah cara pandangnya. Ia sadar harus terus meningkatkan kualitas diri dan tidak cepat puas dengan pencapaian yang sudah diraih. Akbar akhirnya menyelesaikan kuliah tepat waktu dalam empat tahun dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,93.
Setelah lulus, sejak 2021 ia bekerja di kampus almamaternya sebagai operator sistem informasi akademik Pintoe sekaligus staf administrasi. Namun di tengah rutinitas pekerjaan, Akbar menyimpan satu mimpi besar, yakni melanjutkan studi ke luar negeri.
Ia membidik dua beasiswa bergengsi sekaligus, yakni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari Pemerintah Indonesia dan Australia Awards Scholarship (AAS) dari Pemerintah Australia. Perjalanannya ternyata tidak mudah. Akbar gagal seleksi LPDP sebanyak empat kali dan tiga kali ditolak Australia Awards.
Total ada tujuh kegagalan dalam lima tahun perjuangan menjadi ujian berat yang nyaris membuat siapa pun menyerah. Namun bagi Akbar, kegagalan justru menjadi ruang untuk menguatkan diri. Alih-alih berhenti, ia memilih terus mencoba sambil memperkuat doa.
“Sejak awal memutuskan mengejar beasiswa, saya percaya jika Allah sudah menetapkan suatu keinginan di hati seorang hamba, maka Allah pasti akan mengantarkannya dan mengabulkan doa-doanya,” tutur Akbar.
Perjuangan panjang itu akhirnya berbuah hasil. Akbar lolos melalui skema co-funding, kolaborasi antara LPDP dan Australia Awards, untuk menempuh studi Master of Business Administration (Leadership and Enterprise) di The University of Sydney, Australia. Universitas tersebut tercatat berada di peringkat ke-25 dunia versi QS World University Ranking.
Dari seorang anak di Meulaboh yang tumbuh bersama ibu yang tidak bisa membaca dan menulis, Akbar kini berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih mimpi.
Dari Australia, ia menitipkan pesan kepada mahasiswa dan para pejuang beasiswa di Indonesia. “Bagi yang sedang kuliah, belajarlah dengan baik, seriuslah dalam belajar, dan bertanggung jawablah. Jangan banyak main-main karena bisa jadi kuliah ini adalah kesempatan terakhir untuk mengubah nasib keluarga,” katanya.
Bagi mereka yang berkali-kali gagal meraih beasiswa, Akbar juga berpesan agar tidak menyerah. “Buat yang ingin lanjut kuliah, berusahalah. Jalan kalian mungkin lebih mulus atau bahkan lebih sulit dari saya. Tapi satu hal yang pasti, akan selalu ada jalan keluar bagi mereka yang sungguh-sungguh dalam berusaha dan berdoa,” ujarnya.
Kisah Akbar menjadi pengingat bahwa kesuksesan bukan hanya tentang angka IPK atau deretan penghargaan. Lebih dari itu, kesuksesan lahir dari kemampuan seseorang untuk bangkit setiap kali gagal, demi menepati janji kepada orang tua dan mengubah masa depan hidupnya.