Thalita Amalia, alumni LPDP dari University College London Program Magister Education and International Development, yang pernah nyaris putus sekolah. Foto: Dok Pribadi
JAKARTA, (ERAKINI) - Thalita Amalia membuktikan tidak ada impian yang mustahil untuk diraih selama memiliki tekad kuat dan semangat yang tak pernah padam. Dari kisahnya bisa belajar tentang arti sejati dari perjuangan, ketekunan, dan pengabdian untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi diri sendiri dan orang lain.
Thalita Amalia, menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk tidak pernah berhenti bermimpi dan berjuang untuk mewujudkannya. Perempuan asal Sukabumi, Jawa Barat, telah menorehkan perjalanan hidup yang luar biasa dari bayangan kemiskinan menuju cahaya pendidikan dan pengabdian. Meski dari keluarga sederhana, Thalita bisa meraih kesuksesan.
Thalita adalah alumni LPDP dari University College London Program Magister Education and International Development, yang pernah nyaris putus sekolah. Thalita merupakan anak desa yang terlahir di tengah keluarga yang berjuang keras dalam mencukupi kebutuhan ekonomi sehari-hari. Ayahnya, seorang satpam, dan ibunya seorang ibu rumah tangga, harus berjuang keras untuk membiayai kebutuhan sehari-hari.
Tumbuh besar di daerah bernama Cicurug, Thalita ditempa keadaan. Sulung dari tiga bersaudara ini sempat berjualan keliling bersama ibunya. Tetapi, Thalita harus dihadapkan dengan kenyataan harus kehilangan sang ibu saat dia duduk di bangku kelas 2 SMP.
Sang ayah hanya bekerja sebagai satpam di salah satu pabrik garmen di dekat tempat tinggalnya. Ayahnya, dengan tanggungan tiga anak mulai menghadapi kesulitan untuk membiayai pendidikan Thalita. Ayahnya pun sempat berkata jika sudah tak mampu untuk membiayai sekolah Thalita. Artinya, putus sekolah SMP di depan mata.Namun Thalita menolak menyerah.
“Saya di situ enggak menerima karena mungkin sudah terekspos dengan bacaan juga. Bacaan fiksi, buku di perpustakaan. Jadi (saya) melihat dunia lebih luas daripada kampung halaman. Saya enggak mau kalau enggak sekolah, karena melihatnya saya kayaknya bisa deh keluar dari kampung, ke kota, bahkan ke luar negeri. Itu sudah punya bayangan dari kecil,” terang Thalita mengutip dari laman Media Keuangan Kemenkeu, Selasa (21/5/2024).
Thalita pun mencoba mencari bantuan dari kerabat dan tetangga. Beruntung ia menemukan orang tua asuh dan membantunya membiayai sekolah. Mulai dari SPP, uang jajan, hingga kebutuhan lainnya.
Thalita waktu itu berjanji jika nanti sudah bekerja dan mampu menghasilkan uang, akan segera mengembalikan apa yang telah mereka berikan. Namun jawaban mereka justru tidak terduga.
“Beliau bilang enggak usah, kami memang membantu. Kalau kamu punya rezeki, bawa adik-adikmu untuk sekolah. Kalau punya rezeki tambahan lagi, bantu anak-anak yang lain,” kenang Thalita.
Kata-kata itu sangat membekas dalam diri Thalita dan menginspirasinya. Pemikirannya menjadi lebih terbuka dan memberikan kebermanfaatan menjadi tujuan hidup baru Thalita.
Setelah lulus SMA, tantangan baru muncul. Namun, Thalita tidak gentar. Setelah lulus SMA Thalita memang sangat ingin berkuliah. Ia pun harus memutar otak lagi mengingat orang tua asuh yang membiayainya pendidikan SMAa juga punya keterbatasan.
Akhirnya dengan bermodal uang Rp50.000, pada tahun 2006 Thalita memberanikan diri berangkat ke Bandung. Pikirannya saat itu harus ke kota besar dulu meski belum ada rencana matang di kepalanya.
Dia lalu teringat bahwa ayahnya punya teman di kampung yang saat ini bekerja di Bandung. Tanpa pikir panjang ia pun mencarinya. Teman ayahnya ini ternyata bekerja sebagai guru SMK. Setelah bertemu tentu sang guru SMK kaget melihat sosok gadis jauh-jauh ke Bandung untuk menemui dirinya. Lebih terkejut lagi ketika Thalita mengungkapkan keinginannya untuk bisa bekerja dan melanjutkan kuliah.
Singkat cerita, Thalita lalu diberikan kesempatan untuk tinggal sementara. Setelah Thalita mendapat pekerjaan, walau masih serabutan, dia baru pindah ke kos sederhana di kota kembang tersebut. Thalita yang sempat bekerja di Radio akhirnya bisa mengumpulkan sedikit uang untuk berkuliah.
Thalita memilih UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) sebagai tempatnya menimba ilmu. “Aku ambil jurusan yang aku pikir nih akan memudahkan ku untuk mengeksplorasi karier di mana saja. Akhirnya aku ambil jurusan bahasa Inggris,” ungkap Thalita.
Beruntung Thalita mendapatkan beasiswa selama berkuliah di UPI. Walau begitu Thalita tetap bekerja di sela-sela perkuliahannya hingga dia lulus.
“Jadi kan aku ngekos di Jalan Jakarta, sementara kampus UPI di Ledeng. Kuliah dimulai jam 07.00 pagi. Jadi ya harus bangun subuh, naik angkot ke sana. Kemudian beres kuliah jam 15.00 terus pergi lagi, pulang naik angkot lagi. Kemudian bekerja di radio dari jam 5 sampai jam 2 malam setiap hari. Kadang-kadang Lebaran pun aku enggak pulang biar dapat uang,” kenang Thalita.
Pada 2012, Thalita berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya. Belum puas, Thalita masih terus ingin mendalami ilmunya. Semua kesempatan dia coba hingga dipertemukan dengan salah satu beasiswa yang mengantarnya ke perjalanan luar negeri pertamanya.
Walaupun beasiswanya termasuk non gelar, Thalita diberi kesempatan untuk menjadi asisten profesor untuk membantu mengajar bahasa dan budaya Indonesia di salah satu universitas di Amerika, tepatnya di The University of Hawai’i at Manoa, USA.
“Jadi mengajar dan mengambil kuliah juga di sana. Dari situ aku mengambil jurusan-jurusan pendidikan dan politik, kemudian jurusan-jurusan lain yang enggak melulu bahasa Inggris atau bahasa. Jadi tambah terbuka lagi wawasannya,” jelas Thalita yang kemudian menyelesaikan program itu di 2015.
Salah satu profesor yang dibantunya di Amerika menyarankannya untuk segera melanjutkan kuliahnya. Dia merekomendasikan University College London (UCL) untuk melanjutkan pendidikannya. Tak salah pilih, memang waktu itu UCL adalah salah satu perguruan tinggi terbaik dunia untuk bidang Pendidikan.
Thalita langsung memilih LPDP sebagai kendaraan untuk mencapai mimpinya itu. Benar saja, dengan pengalamannya, Thalita berhasil mulus mendapatkan beasiswa LPDP. Thalita mengambil jurusan Master of Arts in Education and International Development, searah dengan ilmu yang didapat sebelumnya.
Thalita berada di London hingga 2017. Setelah menyelesaikan pendidikan di luar negeri, Thalita merasa kembali ke tanah air adalah panggilan hatinya. Bersama seorang teman, dia memulai perjalanan menuju pendidikan gratis dengan mendirikan olve Education, sebuah organisasi filantropi yang fokus pada teknologi pendidikan.
“Mungkin karena latar belakang juga bahwa aku dari desa, merantau, keinginan untuk kembali itu jauh lebih besar dibandingkan untuk menetap di sana. Aku ingin kalau bisa pulang ke Indonesia,” ujarnya.
Dengan tekad dan semangat juangnya, Thalita berhasil membawa misi pendidikan gratis ke berbagai negara, membantu ribuan orang untuk mengakses pendidikan berkualitas tanpa harus memikirkan biaya.
Saat ini, Solve Education telah berkembang menjadi sebuah lembaga yang memiliki dampak besar di masyarakat, dan Thalita berharap dapat terus memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Dari segala pencapaiannya saat ini, Thalita mengaku kehidupannya dulu yang penuh tantangan membuatnya kuat saat ini. Sifat tak mudah menyerah dan lebih banyak bersyukur adalah hasil tempaan masa kecilnya dulu.
Thalita menganggap harapan hidup yang berjalan mulus itu tak realistis. Baginya hidup akan selalu mempunyai lika-liku dan tantangannya masing-masing, namun itu juga yang mengantarkan ke sebuah pintu kesempatan.
“Tapi aku ingin teman-teman yang sedang berjuang tetap semangat terus untuk berjuang. Memang berat, berliku-liku jalannya, tapi selalu ingat ada kesempatan di balik semua masalah,” pesannya.
“Hidup itu bukan tentang masalah apa yang kita hadapi, tapi bagaimana kita menghadapi masalah tersebut,” pungkasnya.