Petugas Dinkes DIY sedang menyemprotkan cairan antivirus untuk mencegah penyebaran Antraks, Rabu (5/7/2023) (Foto: Antara/Hermawan)
JAKARTA, (ERAKINI)-Dalam era sepekan ini banyak diberitakan mengenai kasus antraks yang terjadi di wilayah Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bahkan, dari kasus antraks tersebut tercatat ada warga setempat meninggal usai terpapar akibat antraks.
Berikut ini rangkuman berita mengenai kasus antraks yang dirangkum selama sepekan
Berawal dari laporan adanya hewan ternak berupa sapi dan kambing yang mati mendadak kemudian disembelih lalu dikonsumsi warga.
"Saat mendapat laporan dari masyarakat adanya hewan ternak mati mendadak, petugas langsung ke lapangan mengambil sampel. Kemudian dicek di laboratorium dan hasilnya positif antraks," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul, Wibawanti di Gunungkidul, Selasa (4/7/2023).
Wibawanti mengungkapkan, dinas telah meminta agar ternak mati dikubur dan diambil spesimennya untuk diuji laboratorium. Namun, sebagian masyarakat di sekitar ternak mati justru tak mengindahkan imbauan petugas. Ternak yang telah dikubur sebagian dibongkar lalu disembelih lantas dagingnya dimakan banyak orang. Setelah hasil laboratorium keluar ternyata sapi mati yang dikonsumsi positif terjangkit antraks.
Kepala Dinkes Gunungkidul, Dewi Irawaty di Gunungkidul, Selasa (4/7/2023) mengatakan, berdasarkan penelusuran ada 125 warga yang ikut menyembelih dan mengonsumsi daging sapi yang positif antraks.
"Kami mengambil sampel darah mereka untuk diperiksa lebih lanjut di BBTKLPP (Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit) Yogyakarta. Hasil pemeriksaan menyatakan 85 warga positif antraks, yang bergejala 18 orang," ungkap Dewi.
Pada Kamis (6/7/2023) Kemenkes mengungkap kronologinya yang disampaikan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes RI, Imran Pambudi dalam konferensi pers secara daring di Jakarta.
Kasus antraks ditandai lima kali rangkaian peristiwa kematian hewan ternak berjenis sapi dan kambing di lokasi setempat dalam kurun Mei hingga awal Juni 2023. Sapi milik warga mati mendadak berturut-turut pada 18 Mei, 22 Mei, dan 26 Mei 2023, sementara kambing mati mendadak terjadi pada 20 Mei dan 2 Juni 2023.
"Kronologi diawali kasus kematian sapi milik salah satu warga berinisial KR pada 18 Mei 2023, lalu disembelih dan dibagikan ke warga untuk dikonsumsi. Ini jadi salah satu penyebab penyebaran kasus," ungkapnya.
Imran mengungkapkan, salah satu pasien meninggal berinisial WP (72), warga Candirejo Semanu, Gunung Kidul, diketahui terlibat dalam proses penyembelihan hewan sapi yang mati pada 22 Mei 2023 milik SY.
Pasien kemudian jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit Pati Rahayu dengan keluhan gatal, bengkak, dan luka yang spesifik dengan antraks jenis kulit.
Pada 3 Juni 2023, WP dirujuk ke RSUP Sardjito untuk pengambilan sampel darah dengan diagnosis suspek antraks. "Bapak WP meninggal pada 4 Juni 2023," katanya.
Pihaknya mengungkapkan, tren kejadian antraks di Yogyakarta hampir setiap tahun terjadi, di antaranya pada 2019 sebanyak 31 kasus dan 2022 sebanyak 23 kasus, meskipun selama ini belum ada laporan terkait kematian.
"Baru pada 2023 ini ada tiga kasus kematian akibat antraks di Indonesia. Satu suspek (WP) karena sudah ada hasil pemeriksaan laboratorium. Yang dua lainnya belum sempat diperiksa karena langsung meninggal," ungkapnya.
Tim investigasi kasus antraks di Yogyakarta, menurut Imran, telah memastikan dua pasien tersebut memiliki riwayat riwayat kontak dengan sapi yang positif antraks.
4. LangkahdanUpayaCegahPenyebaranAntraks
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) menemukan lima ekor hewan ternak positif terjangkit antraks dari November 2022 hingga jelang Hari Raya Idul Adha 2023 di wilayah Semanu, Gunungkidul. Kemudian, isolasi terbatas terhadap lalu lintas ternak di Kecamatan dilakukan.
"DPKH Gunungkidul melalukan langkah antisipasi penyebaran antraks dengan pembatasan lalu lintas hewan ternak di wilayah itu," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul, Wibawanti di Gunungkidul, Selasa (4/7/2023).
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Sugeng Purwanto juga turut melarang lalu lintas keluar maupun masuk hewan ternak sapi atau kambing di Dukuh Jati, Gunungkidul untuk sementara waktu.
5. InformasiSeputarPenyakitAntraks
Antraks adalah jenis penyakit infeksi yang sangat mudah menular dari hewan ternak ke manusia atau disebut dengan penyakit zoonosis. Seseorang bisa tertular antraks menyentuh atau mengonsumsi daging dari hewan yang terserang antraks, dikutip dari Halodoc.com.
Penyakit disebabkan bakteri Bacillusanthracis. Hingga kini, belum ada studi yang bisa membuktikan bahwa bakteri yang menjadi penyebab antraks bisa menular dari manusia ke manusia lainnya.
Bacillusanthracis normalnya hidup di tanah dan bisa dengan mudah menyerang dan menginfeksi hewan pemakan rumput, seperti domba, kuda, sapi, dan kambing.
Bakteri tersebut nantinya akan menyebar dan menular dari hewan ke manusia saat seseorang menyentuh bulu atau kulit hewan yang telah terinfeksi, maupun mengonsumsi daging hewan yang kurang matang atau menghirup udara yang telah terkontaminasi bakteri tersebut.
Antraks bisa dicegah dengan mudah. Di antaranya, memastikan daging yang hendak dikonsumsi sudah dibersihkan dan dimasak hingga matang sepenuhnya, melakukan vaksin antraks, terlebih jika berada di kawasan risiko penularan masalah kesehatan ini serta menghindari kontak langsung dengan hewan ternak yang terinfeksi penyakit antraks.