Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati. (Foto: BMKG).
JAKARTA, (ERAKINI) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mempunyai sejumlah terobosan dalam memperkuat aksi dini dalam menghadapi risiko bencana dan iklim, di antaranya adalah pengembangan Earthquake Early Warning System (EEWS), Meteorology Early Warning System (MEWS) dan Climate Early Warning System ().
Melansir laman resminya, Selasa (22/7/2025), BMKG menegaskan komitmennya membangun sistem peringatan dini yang semakin inovatif dan responsif terhadap tantangan zaman. Demikian disampaikan oleh Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.
Ia mengatakan bahwa meningkatnya intensitas bencana dan dinamika iklim tak boleh membuat bangsa ini kehilangan arah. Justru dalam kerentanan itu terdapat ruang besar untuk memperkuat daya tahan dan mempercepat pembangunan berkelanjutan.
“Bencana memang makin sering terjadi. Namun, jika kita melihat keseluruhan waktu kehidupan, peristiwa tersebut hanya terjadi pada nol-koma-sekian persen saja. Sementara di 99 persen sisa waktu yang ada, kita justru menerima karunia alam yang luar biasa. Maka, kesempatan untuk membangun tetap terbuka luas,” ujar Dwikorita dikutip dari laman resmi BMKG, Selasa (22/7/2025).
Dwikorita menegaskan bahwa pengelolaan alam secara positif, kolaboratif, dan berbasis sains merupakan kunci untuk menjadikan Indonesia tidak hanya tangguh, tetapi juga unggul dalam menghadapi masa depan.
Salah satu terobosan penting BMKG adalah pengembangan Earthquake Early Warning System (EEWS)—sistem peringatan dinigempa bumi berbasis hitung mundur—yang saat ini sedang diujicobakan di empat provinsi: DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Lampung. Sistem ini mampu mendeteksi gelombang primer gempa sebelum getarannya dirasakan masyarakat, sehingga memberi jeda waktu yang sangat krusial untuk tindakan penyelamatan dini.
Menurut Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, pentingnya kehadiran sistem ini di wilayah rawan bencana. “Sistem ini memberi waktu 5–10 detik sebelum guncangan keras datang. Ini sangat penting, terutama untuk menyelamatkan siswa di sekolah, penumpang di stasiun, rumah sakit, dan tempat berkumpul lainnya. Lima detik pun sangat berharga untuk menghindari korban,” kata Daryono.
Selain inovasi kegempaan, BMKG juga memperkuat sistem peringatan dini untuk cuaca dan iklim ekstrem. Teknologi Meteorology Early Warning System (MEWS) kini mampu memprediksi cuaca harian hingga 10 hari ke depan secara lebih presisi, bahkan sampai ke level kecamatan dan kelurahan.
Kemudian ada juga sistem Climate Early Warning System (CEWS) yang menyajikan prediksi iklim jangka menengah dan panjang, yang sangat dibutuhkan sektor pertanian, perikanan, energi dan air.
Menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, lewat teknologi ini, para petani dan nelayan bisa merencanakan produksi dengan lebih akurat. “Bahkan di beberapa wilayah, hasil panen meningkat berkat informasi iklim yang lebih tepat guna,” ujarnya.
Selain inovasi kegempaan, BMKG juga memperkuat sistem peringatan dini untuk cuaca dan iklim ekstrem. Teknologi Meteorology Early Warning System (MEWS) kini mampu memprediksi cuaca harian hingga 10 hari ke depan secara lebih presisi, bahkan sampai ke level kecamatan dan kelurahan.