Presiden Prabowo saat mengucapkan selamat kepada Gus Miftah usai dilantik (Foto: Ist)
JAKARTA, (ERAKINI) - Pendakwah kondang KH Miftah Maulana Habiburrahman resmi dilantik PresidenPrabowo Subianto menjadi Utusan KhususPresiden di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa (22/10/2024) pagi. Pengangkatan pria yang biasa disapa Gus Miftah ini didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 76/M tahun 2024 tentang Pengangkatan RI tahun 2024-2029.
"Demi Allah saya bersumpah, bahwa saya akan setia kepada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya demi darma bakti saya kepada bangsa dan negara," demikian petikan sumpah yang dibacakan Prabowo diikuti oleh Gus Miftah.
Sebelum banyak terjun dalam agenda-agenda partai politik, Gus Miftah adalah pendakwah ‘pinggiran’ yang lebih memilih masyarakat yang hidup di dunia gemerlap malam sebagai sasaran syiarnya.
Ceramah Gus Miftah yang dinilai mudah dipahami dan mampu merasionalisasi nalar soal akidah dan syariat Islam mengubahnya menjadi sosok yang memiliki banyak pengikut hingga ke penghujung negeri. Kini, dai tersebut diajak Prabowo Subianto untuk menjadi Utusan KhususPresiden bidang kerukunan beragama dan pembinaan sarana keagamaan.
Seperti apa sosok Gus Miftah? berikut rangkumannya:
Dilansir dari berbagai sumber, Selasa (22/10/2024), Gus Miftah merupakan pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta. Gus Miftah lahir pada 5 Agustus 1981. Dia dikenal sebagai penceramah dengan pendekatan dakwahnya yang tidak konvensional, terutama kepada kaum marjinal, termasuk pekerja dunia malam.
Gus Miftah merupakan keturunan ke-9 Kiai Muhammad Ageng Besari, pendiri Pesantren Tegalsari di Ponorogo. Ayahnya, M. Murodhi bin M. Boniran, juga berasal dari lingkungan pesantren.
Meskipun pernah menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Gus Miftah tidak menyelesaikan studinya di sana. Ia akhirnya meraih gelar Sarjana Pendidikan pada tahun 2023 dari Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang.
Semasa kuliah, ia aktif dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama.
Gus Miftah mulai dikenal publik ketika video pengajiannya di sebuah kelab malam di Bali viral di media sosial.
Ia mengungkapkan bahwa ide awal untuk berdakwah kepada pekerja dunia malam muncul saat dirinya melaksanakan salat di sebuah musala di kawasan lokalisasi Sarkem, Yogyakarta. Di sana, ia menyadari bahwa para pekerja dunia malam kesulitan mengakses ilmu agama.
“Banyak dari mereka tidak bisa ikut pengajian di luar karena khawatir menjadi bahan gunjingan, sementara di tempat kerjanya juga tidak ada kajian agama,” ungkap Gus Miftah.
Ia kemudian rutin mengadakan kajian di lokalisasi, kelab malam, dan salon plus-plus, membuka ruang bagi mereka yang ingin mendalami agama tanpa rasa takut atau canggung.
Pendekatan unik Gus Miftah ini mendapatkan dukungan dari tokoh agama Maulana Habib Luthfi bin Yahya dari Pekalongan, yang menyebut langkah Gus Miftah sebagai bentuk dakwah merangkul, bukan menghakimi. Dengan metode dakwah yang melampaui batasan tradisional, Gus Miftah telah berhasil menyentuh hati banyak kalangan marjinal.