Ilustrasi - BMKG memprediksi bahwa cuaca periode 26 Mei-1 Juni 2026, sebagian daerah masuk kemarau, lainnya masih hujan lebat. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan, periode 26 Mei hingga 1 Juni 2026, hasil analisis iklim terbaru menunjukkan bahwa sejumlah wilayah Indonesia telah memasuki fase kemarau, sementara daerah lainnya masih berada dalam masa pancaroba atau peralihan musim.
Pada kawasan yang masih berada dalam fase transisi musim, akumulasi panas dari pagi hingga siang menciptakan kondisi atmosfer yang tidak stabil. Ketidakstabilan ini kemudian memicu proses konveksi yang mendorong pertumbuhan awan , terutama pada sore hingga malam hari, sebagaimana dilansir dari laman resmi pada Selasa (26/5/2026).
Fenomena tersebut terbukti dari tingginya curah hujan yang tercatat di berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Hujan kategori lebat hingga sangat lebat terjadi di Kalimantan Barat dengan curah hujan mencapai 129,5 mm per hari, DKI Jakarta 102,4 mm per hari, Bengkulu 96,4 mm per hari, Maluku 88,4 mm per hari, serta Jawa Barat 86,9 mm per hari.
Selain itu, hujan deras juga melanda Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Sumatra Utara, Kalimantan Timur, Papua Tengah, Sulawesi Utara, Jambi, Banten, Sulawesi Selatan, Lampung, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Utara, hingga Jawa Tengah.
Tidak hanya dipengaruhi faktor lokal, peningkatan curah hujan kali ini juga dipicu interaksi sejumlah fenomena atmosfer global dan regional. Madden-Julian Oscillation (MJO) saat ini berada pada fase 5 atau Maritime Continent yang dikenal mampu meningkatkan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia. Selain itu, Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial turut memperkuat pertumbuhan awan konvektif di berbagai daerah.
Di sisi lain, kemunculan beberapa sirkulasi siklonik di sekitar Indonesia juga memicu terbentuknya daerah perlambatan dan pertemuan angin atau konvergensi. Kondisi ini semakin mendukung pembentukan awan hujan yang berpotensi memicu cuaca signifikan di sejumlah wilayah.
Untuk sepekan ke depan, dinamika atmosfer diperkirakan masih aktif. Indikator iklim global terbaru menunjukkan adanya kecenderungan kondisi El Niño di Samudra Pasifik, yang tercermin dari indeks Niño 3.4 sebesar +0,68 dan Southern Oscillation Index (SOI) bernilai -12,5. Meski demikian, kondisi atmosfer regional masih sangat mendukung terjadinya hujan, terutama di Indonesia bagian utara.
Bibit Siklon Tropis 99W diprediksi berada di Samudra Pasifik sebelah utara Papua Nugini. Sistem ini memicu terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi mulai dari Papua Barat hingga Teluk Cendrawasih, termasuk di wilayah pesisir barat Papua Barat Daya dan sekitarnya.
Tak hanya itu, sirkulasi siklonik juga diperkirakan muncul di perairan barat Sumatra Barat, Samudra Hindia barat daya Banten, serta Laut Sulu. Keberadaan sistem tersebut berkontribusi membentuk zona perlambatan angin di perairan barat Bengkulu, perairan barat Sumatra Utara, dan wilayah sekitar pusat sirkulasi.
Sementara itu, aktivitas MJO diproyeksikan bergerak menuju fase 6 atau Western Pacific dan masih aktif di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, hingga wilayah utara Papua Barat dan Papua Barat Daya.
Gelombang Kelvin yang bergerak ke arah timur diprediksi melintasi Aceh, Kalimantan Barat bagian utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, serta Sulawesi Tengah. Di waktu yang sama, Gelombang Rossby Ekuatorial diperkirakan aktif di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah.
Tak ketinggalan, aktivitas Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG) juga diprediksi berkembang di wilayah utara Aceh. Kombinasi berbagai fenomena atmosfer tersebut berpotensi meningkatkan suplai uap air dan memperbesar peluang terbentuknya awan hujan di berbagai wilayah Indonesia selama sepekan mendatang.