Tim BNPB bersama BPBD Kabupaten Halmahera Barat memberikan sosialisasi hasil pemetaan udara kawasan rawan bencana sekunder erupsi Gunungapi Ibu di Desa Duono, Kecamatan Tabaru, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, Jumat (7/6/2024). (Foto: BNPB)
HALMAHERABARAT, (ERAKINI) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan sosialisasi temuan di lapangan dari hasil monitoring visual menggunakan pesawat nirawak (drone) wilayah rawan bencana sekunder erupsi Gunungapi Ibu kepada warga.
Tim pemetaan memberikan sosialisasi tersebut untuk upaya meningkatkan kesiapsiagaan pengungsi maupun mereka yang tinggal di desa-desa yang dilalui jalur sungai berhulu di lereng puncak gunungapi berketinggian 1.325 mdpl itu.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari melalui keterangan tertulisnya yang diterima Erakini, Minggu (9/6/2024).
Tim pemetaan terdiri dari Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan (Pusdatinkom), Direktorat Pemetaan Risiko Bencana dan Direktorat Mitigasi.
"Tim pemetaan membawa hasil visualisasi pencitraan udara kepada masyarakat yang memang sebelumnya mereka telah menantikan informasi penting sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan," katanya.
Hasil pemetaan sementara itu dicetak dengan ukuran yang besar dan dipasang di pos pengungsian agar masyarakat dapat melihat dengan jelas bagaimana kondisi geografis dan topografi di wilayah permukiman mereka.
"Tim juga membagikan informasi melalui perangkat komputer jinjing untuk menunjukan di mana wilayah permukiman mereka, apa saja potensi risiko bencananya dan bagaimana langkah mitigasi serta antisipasinya," katanya.
Menurutnya, bagi masyarakat yang bermukim di wilayah kaki Gunungapi Ibu, kehadiran tim pemetaanBNPB memberikan pengalaman dan literasi baru terkait adanya potensi dampak risiko bencana sekunder dari aktivitas vulkanik gunungapi yang saat ini berada pada level IV atau “Awas”.
"Segala informasi yang mereka dapatkan dari presentasi tim pemetaanBNPB, masyarakat menjadi lebih memahami apa yang harus dilakukan jika muncul tanda-tanda atau beberapa faktor lain yang dapat memicu terjadinya bencana sekunder erupsi Gunungapi Ibu," jelas Abdul.
Dari giat pemetaan, lanjut Abdul, tim BNPB telah memotret aliran sungai yang berhulu ke Sungai Ibu. Foto udara tersebut selanjutnya diolah menjadi peta permukiman dengan resolusi tinggi, yaitu untuk Desa Duono, Desa Togoreba Sungi, Desa Togoreba Tua, Desa Naga, Desa Podol dan Desa Togowo.
Dilihat dari udara, jalur aliran sungai itu ditumbuhi beberapa jenis vegetasi yang secara alami tumbuh subur di wilayah lembah di laki Gunungapi Ibu itu. Jarak antara sungai dan permukimam penduduk juga bervariasi. Ada yang berjarak kurang lebih 5 meter ada pula yang yang mencapai kurang lebih 15 meter. Selain permukiman, wilayah jalur sungai itu juga terdapat tempat ibadah, sekolah, balai pertemuan dan fasilitas umum lainnya.
"Dari hasil monitoring wilayah sungai tersebut, tim BNPB memberikan rekomendasi kepada masyarakat agar senantiasa memantau kondisi sungai terlebih jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah hulu hingga hilir. Apabila debit air semakin besar dan air berubah warna menjadi cokelat keruh kehitaman, maka agar dilaporkan ke pemerintah desa setempat dan segera mengambil upaya kesiapsiagaan," katanya.
Selain itu, masyarakat yang tinggal dekat dengan aliran sungai agar lebih meningkatkan kewaspadaan dan diharapkan dapat menjaga lingkungan sungai dengan tidak menebang pohon, tidak membuang sampah di sungai dan melakukan gotong-royong untuk normalisasi sungai.
Jika sungai terhalang material berupa bebatuan maupun potongan batang pohon agar segera dibersihkan karena jika tidak maka dapat menyumbat aliran sungai yang kemudian berpotensi terjadi banjir bandang jika debit air terus meningkat ditambah dengan terbatasnya daya tampung sungai itu sendiri.
"Warga juga diminta agar terus meningkatkan kesiapsiagaan apabila terjadi gempabumi, mengingat tumpukan material vulkanik dari aktivitas erupsi Gunungapi Ibu telah melebar ke wilayah utara dan barat laut. Gempabumi dapat menjadi faktor pemicu longsornya material vulkanik berupa pasir dan bebatuan, terlebih jika terjadi hujan yang berkonsentrasi di wilayah hulu atau puncak kawah utama," pesannya.