Orlando Ferrari meraih predikat lulusan terbaik Wisuda Periode II Tahun Akademik 2024/2025, UGM, Rabu (26/2/2025). Foto: UGM
YOGYAKARTA, (ERAKINI) - Sebanyak 1.408 lulusan Program Sarjana dan Sarjana Terapan Universitas Gadjah Mada (UGM) mengikuti upacara Wisuda Periode II Tahun Akademik 2024/2025, Rabu (26/2/2025).Wisudawan tersebut terdiri atas 1.256 lulusan Program Sarjana dan 152 lulusan Program Sarjana Terapan, termasuk 28 wisudawan dari Program Alih Jenjang Diploma 3 ke Sarjana Terapan.
Pada wisuda kali ini, terdapat 40 wisudawan penerima beasiswa Bidik Misi atau Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (KIP-K) serta 34 lulusan program Sarjana yang berasal dari daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Untuk program Sarjana (S1), rata-rata masa studi 4 tahun 3 bulan dengan 1 lulusan memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00 yang berasal dari Program Studi Matematika FMIPA.
Kemudian 55,81% wisudawan berpredikat pujian, dan usia rata-rata lulusan program Sarjana adalah 23 tahun 6 bulan. Sedangkan untuk Program Sarjana Terapan, rata-rata masa studi adalah 4 tahun 4 bulan, dengan 98,03% lulusan berpredikat Sangat Memuaskan. Pada program ini, IPK tertinggi diraih oleh lulusan Program Studi Manajemen Informasi Kesehatan dengan nilai 3,91.
Wisudawan peraih IPK 4,00 adalah Orlando Ferrari. Peraih medali perak di Olimpiade Matematika Internasional (IMC) di Bulgaria tahun 2023 ini berhasil lulus dengan IPK tertinggi, karena rata-rata untuk lulusan program sarjana periode ini adalah 3,54. Tidak hanya itu, Orlando Ferrari juga berhasil lulus dalam waktu 3,5 tahun
Orlando Ferrari dengan panggilan akrab Orlando berasal dari Kalimantan Tengah. Orlando yang merupakan anak pertama dari dua bersaudara ini memiliki prestasi dan pengalaman organisasi yang luar biasa semasa kuliah di UGM.
Uniknya, Orlando adalah mahasiswa UGM yang ditolak lewat Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). “Mungkin cerita awalnya kuliah di semester satu itu memang sudah ada cobaan sih dari awal. Saya masuk ke UGM tidak lewat jalur prestasi (SNBP), malah ditolak saat itu. Dapatnya waktu itu SBMPTN dan alhamdulillah dapat di Prodi Matematika,” kenangnya dikutip dari keterangan resmi UGM.
Orlando mengaku saat semester satu tahun 2021 cukup banyak tantangan dalam mengikuti proses perkuliahan. Saat sang ayah berpulang dan ia sempat menyimpan rasa sedih mendalam. “Sebenarnya ayah saya yang paling pengen saya kuliah di UGM. Bahkan bisa S2 di sini,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Orlando beruntung cepat melepaskan kesedihannya dengan mengikuti aktivitas organisasi yang ada di kampus. Saat memasuki semeter dua ia mendaftar masuk Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika). Selain itu ia mengikuti seleksi olimpiade matematika, ON MIPA-PT (Olimpiade Nasional Matematika dan IPA) dan saat itu lolos seleksi sebagai salah satu dari 5 perwakilan kampus ikut kompetisi bidang Matematika, Biologi, Fisika, Kimia.
“Saya nekat waktu itu. Sambil kuliah saya bagi waktu ikut Olimpiade. Akhirnya dapat medali perunggu di ONMIPA-PT 2022,” ucapnya.
Setahun berikutnya, ia mengikuti kompetisi ON MIPA-PT di bandung dalam mendapat medali emas sehingga bisa mewakili Indonesia di International Mathematic Championship di tahun 2023 di Bulgaria. Terakhir mendapatkan Second Prize (perak) di IMC 2023, Bulgaria.
Usai meraih gelar sarjana, Orlando berencana melanjutkan pendidikan studi S2. Sambil menunggu proses pendaftaran, ia akan menjalani pekerjaan sampingannya selama kuliah dengan mengajar para peserta olimpiade. “Saya sekarang freelance seperti mengajar olimpiade. Mengisi waktu aja sih. Tapi mesti buat persiapan studi lanjut,” paparnya.
Untuk calon mahasiswa atau mahasiswi yang kini tengah menempuh kuliah, Orlando membagikan tips agar jangan pernah merasa minder dan patah semangat apabila tidak lolos di salah satu jalur tes masuk perguruan tinggi. Namun tetap berusaha keras mengikuti proses seleksi di jalur yang lain. Sedangkan bagi mahasiswa yang saat ini tengah menjalani studinya, ia berpesan agar tidak pernah merasa tertekan dengan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa dalam menjalani perkuliahan maupun mengerjakan tugas dari dosen.
“Jangan pernah merasa tertekan. Fokus pada diri sendiri, setiap orang punya bebannya masing-masing dan setelah itu pasti akan menjadi lebih baik lagi. Apabila kesulitan jangan sungkan meminta bantuan kepada orang lain juga, karena sejatinya kita manusia yang saling membutuhkan,” pesannya.